Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPS NTB Warning TPID Soal Inflasi Kota Bima

Geumerie Ayu • Selasa, 5 Mei 2026 | 23:10 WIB
RILIS DATA: Dari kiri, Kepala BPS NTB Wahyudin, Sekda NTB Abul Chair, dan Asisten II Setda NTB Lalu M Faozal saat merilis data inflasi NTB, di aula kantor BPS NTB, Senin (4/5). (Istimewa)
RILIS DATA: Dari kiri, Kepala BPS NTB Wahyudin, Sekda NTB Abul Chair, dan Asisten II Setda NTB Lalu M Faozal saat merilis data inflasi NTB, di aula kantor BPS NTB, Senin (4/5). (Istimewa)

LombokPost - NTB mencatatkan fenomena ekonomi positif pada April 2026 dengan mengalami deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan.

Angka ini mencerminkan penurunan harga pada sejumlah komoditas utama setelah melewati siklus puncak konsumsi Ramadan dan Idul Fitri pada Maret lalu.

Meski begitu, BPS memberikan perhatian khusus pada tiga kota pantauan inflasi di NTB, khususnya Kota Bima.

Wilayah ini mendapatkan peringatan keras lantaran inflasi tahunannya menembus 4,23 persen. Angka ini telah berada di luar target nasional yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: Pecinta Drakor Merapat! Ini 7 Drama Korea Terbaru yang Siap Tayang Mei 2026

Sedangkan Kabupaten Sumbawa mencatatkan deflasi bulanan terdalam mencapai 0,52 persen. Untuk Kota Mataram mengalami inflasi tipis 0,11 persen dengan tingkat inflasi tahunan di angka 3,37 persen.

“Ini merupakan warning bagi teman-teman TPID, khususnya di Kota Bima supaya ke depan laju inflasinya ditekan. Ditekan supaya dia kembali ke bisa menjadi di dalam target 2,5 plus minus 1 persen,” ujar Kepala BPS NTB, Wahyudin, Senin (4/5).

Wahyudin mengatakan, penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,37 persen menjadi motor utama deflasi di NTB.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang andil deflasi sebesar 1,21 persen.

Baca Juga: Dapur D’Rice, Nasi Puyung Viral Porsi Kuli di Mataram

Laju deflasi ini didorong penurunan harga lima komoditas utama yang menjadi penekan inflasi daerah.

Cabai rawit menjadi salah satu penyumbang utama karena harganya mulai melandai seiring masuknya musim panen.

“Sebelumnya sempat melonjak hingga Rp 120.000 per kilogram,” sambungnya.

Penurunan signifikan juga terjadi pada komoditas daging ayam ras. Kini berada di kisaran Rp 45.000 per kilogram dari harga puncaknya yang mencapai Rp 65.000 per kilogram.

Baca Juga: G-Dragon Tuai Kritik Global Gegara Kostum Panggung di Makau, Agensi Minta Maaf

Selain itu, harga emas perhiasan terpantau stabil dan cenderung menurun mengikuti pergerakan tren global.

Terakhir, pasokan yang memadai di pasar domestik terbukti efektif dalam menekan harga kol putih serta udang basah.

Sehingga turut memperkuat kondisi deflasi di wilayah tersebut. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan catatan waspada terhadap tekanan inflasi pada sektor angkutan udara pasca-subsidi Lebaran, tarif air minum (PAM), tomat, minyak goreng, serta gas Elpiji.

Sekda NTB Abul Chair menegaskan, data objektif BPS merupakan cermin krusial untuk evaluasi kebijakan.

Baca Juga: Rilis Karya Baru di Momen 20 Tahun Berkarya, Ciptakan dan Nyanyikan 2 OST Film Para Perasuk 

Pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terutama untuk menangani situasi di Kota Bima.

"Data ini adalah kompas bagi kami untuk membuat perencanaan ke depan,” tegasnya.

“Sesuai pesan, jika ada gambaran yang tidak ideal, maka harus diubah dengan kewenangan yang kita miliki. Kita akan perkuat kolaborasi untuk memperbaiki NTB menjadi lebih baik," katanya.

Secara tahunan, inflasi NTB saat ini berada di angka 3,27 persen. Persentase ini masih berada dalam rentang target aman nasional yakni 1,5 hingga 3,5 persen.

 

Editor : Akbar Sirinawa
#Warning #tpid #Inflasi #Kota Bima #BPS NTB