LombokPost – Setelah lulus perguruan tinggi, Maysarah, perempuan muda asal Lombok ini memilih jalan pulang ke desa.
Mengabdikan diri di tanah kelahiran, dan membangun masa depan cerah dari kilau mutiara Lombok.
Maysarah merupakan sosok di balik suksesnya label perhiasan premium May Mutiara Lombok.
Dalam berbagai ajang pameran besar, stan miliknya selalu menjadi magnet utama bagi kaum hawa.
Barisan produk eksklusif mulai dari bros, cincin, hingga gelang hasil paduan butiran mutiara air laut maupun air tawar kerap memikat mata para pengunjung yang melintas.
Siapa sangka, perempuan yang akrab disapa May ini merupakan seorang Sarjana Pendidikan lulusan tahun 2015.
Baca Juga: Alphard XE HEV Tawarkan Sensasi Berkendara Mewah yang Berkelas
Alih-alih meniti karier di depan papan tulis sekolah, May memantapkan hatinya untuk mengambil jalur pengabdian lain melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3).
“Program SP3 ini tujuannya sangat mulia, bagaimana kita sebagai kaum sarjana tidak berbondong-bondong lari mencari kerja ke kota. Padahal di desa, potensi ekonominya luar biasa besar jika kita jeli dan mau mengelolanya secara serius,” tuturnya.
May sangat cinta pada daerahnya. Sebagai bukti, ia memproduksi sebuah karya berupa Bros Mandalika.
Baca Juga: Kalem Tapi Ambisius, Ong Seong Wu Jadi CEO Licik di Drakor Spooky in Love
Aksesoris ini menampilkan bentuk sirkuit balap internasional kebanggaan NTB, Sirkuit Mandalika.
Bros unik ini langsung menjadi primadona dan buruan utama para kolektor, terutama saat perhelatan ajang balap dunia MotoGP Mandalika.
Toko fisik dan pusat operasional bisnisnya berada di Desa Perampuan, Kabupaten Lombok Barat.
Meski begitu, bisnis May memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Gumi Tastura, sebutan lain Lombok Tengah.
Baca Juga: Mengenal Jin Ki Joo, Petugas Wanita Tangguh di Drakor Terbaru Netflix ‘Teach You a Lesson’
Rantai pasok bahan baku mutiara murni hingga tenaga kerja perajin yang ia berdayakan mayoritas berasal dari sana.
Kunci sukses May Mutiara Lombok tidak hanya bersandar pada keindahan alami mutiara yang ditawarkan.
Melainkan pada ketajaman strategi digital marketing yang agresif. May sangat memahami di era modern saat ini, jumlah kunjungan media sosial atau trafik menjadi modal utama dalam berjualan.
Baca Juga: Pelayanan IGD Dikeluhkan, Direktur RSUD Tripat Siapkan Rotasi Petugas dan Evaluasi SOP
Oleh karena itu, ia tidak ragu untuk berinvestasi dan merogoh kocek cukup dalam untuk melakukan promosi berbayar (iklan) di berbagai platform media sosial besar.
Hal itu demi menjangkau target pasar yang lebih luas di seluruh pelosok Indonesia.
“Seperti contohnya di platform TikTok. Dengan melakukan pengaturan target audiens ke seluruh Indonesia, pesanan perhiasan kita justru jauh lebih banyak berdatangan dari konsumen luar daerah,” bebernya.
Baca Juga: Gerindra NTB Bela Kader dalam Isu Monopoli Dapur MBG
Meski omzet dan penjualan besarnya kini ditopang penuh ekosistem digital di dunia maya, May menilai kehadiran fisik di pameran-pameran konvensional tetap penting.
Kegiatan pameran langsung dipandang sebagai sarana krusial. Itu bertujuan untuk menjaga relasi, membangun jaringan, serta memperkuat kepercayaan (trust) dari para pelanggan lokal.
May Mutiara Lombok menawarkan variasi harga yang sangat fleksibel dan ramah di kantong berdasarkan jenisnya.
Untuk perhiasan berbahan dasar mutiara air tawar, harga dibanderol mulai dari Rp 50 ribu saja.
Baca Juga: Kejari dan Dinsos Loteng Salurkan Bantuan untuk Santri Korban Luka Bakar
Sementara untuk perhiasan kelas premium yang menggunakan mutiara air laut murni dengan kilau sempurna. Harga bisa menembus angka jutaan Rupiah per unitnya.
Editor : Akbar Sirinawa