Cita rasa kopi yang menggoda. Tersaji dengan istimewa. Semuanya bisa diperoleh di Titik Temu Cafe.
---------
OWNER Titik Temu Huzaini Areka dengan bangga menyebut cafenya punya koleksi kopi yang super lengkap. “Kami punya koleksi lengkap dari NTB,” ujarnya mengulum senyum.
Tentu bila bicara NTB, kopinya sudah pasti terdiri atas koleksi pulau Sumbawa dan pulau Lombok. “Dua-duanya kami ada,” imbuhnya.
Kopi itu ada jenis robusta dan arabika. Areka mengatakan dua varian kopi itu bisa tumbuh dengan baik di lereng pegunungan yang ada di NTB. “Dan kualitasnya sangat bagus,” paparnya.
Orisinalitas kopi itu dijamin dengan membeli langsung dari ‘tangan pertama’ atau petaninya. “Dari petani kopi ada juga dari pengepulnya,” jelasnya.
Di samping, Titik Temu Cafe juga menyediakan produk kopi UMKM yang telah dikemas dengan baik. “Ada juga yang kami dapat dari kopi shop,” paparnya.
Kembali soal kopi yang ditanam di lereng gunung di Sumbawa dan Lombok tadi, keduanya adalah varian robusta dan arabika. “Dari lereng kaki gunung Tambora dan Gunung Rinjani,” jelasnya.
Yang dari Sumbawa ada yang diperolehnya dari beberapa tempat. “Tepal, Ponek, Rarak Rongis,” jelasnya.
Sedangkan dari pulau Lombok, kopi-kopi itu dihimpun dari banyak tempat. “Sajang, Sembalun, dan Sapit,” jelasnya.
Areka juga memburu biji-biji kopi pilihan secara spesifik ke Lombok Utara. “Ada yang saya dapat dari Senaru, Rempek, Bayan, Selelos, dan Leong,” tuturnya.
Perburuan biji kopi juga ke pedalaman Lombok Tengah. “Dari Batukliang Utara, termasuk daerah Mantang,” paparnya.
Bagi penyuka kopi racikan warga Lombok Barat seperti Narmada, Kumbi, dan Lingsar juga tersedia.
“Saya juga tengah menunggu hasil peremajaan pohon kopi di daerah Sekotong,” jelasnya.
Total yang terhimpun sebanyak 20 varian. “Kesemuanya kita kasih brand kopi Rinbo. Akronim dari Rinjani dan Tambora,” jelasnya.
Sebagai komitmen menjadikan Titik Temu Cafe muara berbagai macam varian kopi, Areka mendatangkan kopi dari semua tempat populer di nusantara. “Ada yang dari Papua, Flores, Toraja, Bali, Jember, Gayo, singkatnya di 34 provinsi kami punya,” jelasnya.
Melengkapi sesi ngopi yang istimewa, Areka juga menyiapkan menu lokal Sasak food. Sebagai menu andalannya ia punya menu lain dari pada yang lain.
Apa itu?
Cumi yang pulen oleh telurnya. “Kami namai Cumi Beteloq Kelaq Bideng dan Cumi Beteloq Goreng,” jelasnya.
Dari namanya saja sudah sukses menggugah liur. Nikmatnya yang terbayang gurih, sukses membuat setiap kunyahan akan sangat istimewa.
“Lalu diselingi dengan tegukan kopi yang hangat, tentu tambah mantap,” paparnya.
Ia beralasan, memilih makanan lokal untuk melestarikan kuliner daerah. Sekaligus menyajikan cita rasa yang lezat darinya.
“Banyak konsumen kami yang datang ke mari karena ingin melepas rasa kangen pada masakan lokal,” tuturnya.
Pilihan menu yang berbeda dari kebanyakan cafe ini pun sengaja dipilih. Menonjolkan kekhasan kuliner daerah Lombok. Menjaga cita rasa rempah Sasak.
Ia tak segan bereksperimen untuk mendapatkan racikan bumbu terbaik. “Bagaimana caranya agar bumbu rempah meresap di setiap olahannya,” papanya.
Motivasi dari penyajian yang seistimewa itu adalah supaya produknya punya kualitas. “Agar setiap orang yang menikmatinya mengingat setiap rasa dari gigitannya,” paparnya.
Menjamin kualitas itu, Areka turun langsung mencari cumi besar dan punya telur. “Soal harga kita sesuaikan dengan kantong konsumen,” jelasnya. (bersambung)
Editor : Hidayatul Wathoni