Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjemput Berkah Ramadan di Wageningen: Sepeda, Kuliah, dan Kerinduan pada Masakan Ibu

Nurul Hidayati • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:10 WIB

Rizka Abdi adalah seorang mahasiswa program Master Aquaculture and Marine Research Management di Wageningen University and Research, Belanda dengan beasiswa LPDP.
Rizka Abdi adalah seorang mahasiswa program Master Aquaculture and Marine Research Management di Wageningen University and Research, Belanda dengan beasiswa LPDP.

LombokPost – Jauh dari riuh pengeras suara masjid di Kuripan, Rizka Abdi harus menjemput fajar dalam kesunyian musim dingin Wageningen yang menggigit tulang.

Di balik kayuhan sepedanya membelah angin kering Belanda, ada kerinduan yang mengkristal pada aroma masakan rumah dan hangatnya tradisi Ramadan di tanah kelahiran.

Menjalani tahun kedua sebagai perantau ilmu, ia menyadari bahwa puasa di negeri orang bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah ujian ketangguhan batin di tengah hiruk-pikuk tesis dan kemandirian yang absolut.

Suasana musim dingin yang mulai meluruh menuju semi menyambut fajar di Wageningen, Belanda. Di sebuah kamar asrama, Rizka Abdi sudah sibuk bergelut dengan peralatan dapur. Tak ada suara pengeras suara masjid yang saling bersahutan membangunkan sahur, pun tak ada aroma masakan khas dari dapur sang ibu di Kuripan, Lombok Barat.

Bagi Abdi, ini adalah tahun kedua ia menjalani ibadah puasa di tanah ranto. Mahasiswa program Master Aquaculture and Marine Research Management di Wageningen University and Research (WUR) ini sudah menetap di Belanda sejak Agustus 2024 lalu.

“Tahun ini terasa berbeda. Puasa jatuh saat transisi musim dingin ke semi. Matahari terbit lebih lambat, subuh baru mulai pukul 06.30, dan magrib sudah menyapa pukul 18.00,” tutur penerima beasiswa LPDP ini mengawali cerita.

Durasi puasa di Belanda saat ini justru lebih singkat dibanding tanah air, yakni sekitar 10 jam. Namun, tantangannya bukan pada rasa haus atau lapar, melainkan pada ritme hidup yang jauh lebih "mandiri". Di Lombok, mobilitas bisa mengandalkan sepeda motor, dan takjil melimpah di setiap sudut jalan. Di Belanda, Abdi harus mengayuh sepeda setiap hari di tengah cuaca yang dingin dan kering demi mengejar jadwal kuliah dan riset tesisnya.

“Makan di luar sangat mahal. Jadi, mau tidak mau harus masak sendiri. Di sini tidak ada warung yang bisa didatangi dengan mudah saat malas gerak,” imbuhnya sembari tersenyum.

Toleransi di Negeri Progresif Menjalani identitas sebagai muslim di Belanda, bagi Abdi, terasa cukup nyaman. Masyarakat setempat dikenal sangat progresif dan terbuka. Pengetahuan mereka tentang Islam cukup baik, didukung oleh komunitas muslim dari Turki dan Maroko yang besar.

Bahkan di kampusnya, WUR, suasana inklusif sangat terasa. Organisasi mahasiswa seperti PPI Wageningen, Pengajian Wageningen, hingga Avicenna rutin menggelar buka puasa bersama yang didanai langsung oleh pihak kampus.

“Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja, muslim maupun non-muslim. Selain itu, ada momen haru saat municipality (balai kota) menggelar buka bersama di tengah kota. Pejabat, pekerja, warga lokal, hingga mahasiswa duduk melingkar berbagi makanan. Rasanya hangat di tengah dinginnya udara Wageningen,” urai pria yang juga menjabat sebagai Presiden PPI Wageningen periode 2024-2025 ini.

Abdi berbuka puasa bersama sesama mahasiswa muslim yang ada di Belanda.
Abdi berbuka puasa bersama sesama mahasiswa muslim yang ada di Belanda.

Rindu Sambal dan Suara Speaker Masjid Meski kebersamaan dengan sesama mahasiswa Indonesia bisa sedikit mengobati sepi, Abdi tak menampik ada ruang di hatinya yang meranggas rindu. Ia merindukan tradisi membangunkan sahur keliling dan gema takbiran yang meriah—sesuatu yang mustahil ditemukan di Belanda.

Namun, yang paling membuatnya "tersiksa" adalah urusan lidah. Alumni Perikanan Unram ini mengaku sangat merindukan masakan ibunya. “Apapun masakan Ibu, saya rindu. Terutama tempe goreng dan tumis udang. Kalau makanan khas, ya Ayam Taliwang, Plecing Kangkung, sampai Nasi Puyung,” ungkapnya.

Kendala bahan baku seperti kangkung yang sulit dicari dan keterbatasan kemampuan memasak membuatnya harus memutar otak. Jika rindu sudah memuncak, ia biasanya mencari restoran Indonesia di kota besar seperti Den Haag atau Amsterdam, atau berharap pada "keajaiban" tangan kawan-kawan sesama mahasiswa asal Lombok saat berkumpul.

Di bawah bendera Kabinet #Berdampak2025 yang ia pimpin di PPI Wageningen, Abdi terus berusaha menciptakan program yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Baginya, setiap kayuhan sepeda di jalanan Belanda dan setiap suap sahur yang ia siapkan sendiri adalah bagian dari ikhtiar menjemput masa depan untuk dibawa pulang ke Bumi Gora.

“Puasa di sini mengajarkan kemandirian dan cara menghargai kebersamaan yang dulu sering kita anggap biasa saat di rumah,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
#toleransi #belanda #musim dingin #komunitas #Puasa