Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lebih Dekat dengan Komunitas Semeton Murai Lombok, Murai Bisa Tiru Suara Burung Kenari, Gereja hingga Perkutut 

Umar • Minggu, 7 Juni 2026 | 00:00 WIB
Komunitas Semeton Murai Lombok (SML) sedang menggelar "kopdar" dengan event lomba burung kicau di area eks Bandara Selaparang, Kota Mataram, Minggu lalu (31/5).
Komunitas Semeton Murai Lombok (SML) sedang menggelar "kopdar" dengan event lomba burung kicau di area eks Bandara Selaparang, Kota Mataram, Minggu lalu (31/5).

Lovebird khususnya para penghobi burung kicau masih tetap eksis di Pulau Lombok. Bahkan komunitas ini berkembang sesuai dengan jenis burung yang dikoleksinya. Salah satunya Semeton Murai Lombok. Mereka rutin menggelar "kopdar" untuk mengobati kerinduan merdunya kicauan sang murai. 

UMAR WIRAHADI, Mataram

Lagu bernuansa dangdut dan hip-hop "Kicau Mania" yang dipopulerkan Ndarboy Genk bersama Banditoz Yaow 86 mengentak dari sound system berukuran sedang, Minggu lalu (31/5). Lagu yang hits di jagat maya itu seolah sengaja diputar untuk mengumpulkan massa. Khususnya para penghobi kicau mania yang akan mengikuti gantangan atau lomba. 

Tak lama berselang, orang-orang yang membawa sangkar itu pun berdatangan. Mereka datang silih berganti memasuki area lomba di area eks Bandara Selaparang, Kota Mataram. Para penghobi itu datang dengan ragam ukuran sangkar yang di dalamnya berisi burung-burung yang berkicau nyaring. Jika dikumpulkan, jumlahnya lebih dari seratus ekor burung. Menariknya, semua adalah burung murai. "Ini adalah acara komunitas yang kami gelar sebulan sekali. Jadi selalu ramai," kata Mahfud Lutfi kepada Lombok Post. 

Baca Juga: Beternak Murai Batu Lebih Cuan dan Menantang

Mahfud adalah ketua komunitas Semeton Murai Lombok (SML). Sesuai namanya, komunitas ini dibentuk untuk mewadahi para pecinta burung murai. Komunitas ini secara resmi didirikan pada Juli 2023. Hingga kini, SML sudah menghimpun ratusan anggota pecinta murai. "Saya sih nggak pernah data secara konkret. Tapi saya perkirakan jumlah anggota di Lombok ini saja ada 200-an orang," ujar Lutfi, sapaan karibnya. 

Para penghobi burung murai ini awalnya muncul secara organik. Mereka kerap bertemu setiap kali ada event lomba yang digelar beberapa instansi swasta. Nah, karena merasa memiliki hobi yang sama, mereka ini pun berinisiatif membentuk wadah. Namanya Semeton Murai Lombok. 

Tujuannya memudahkan koordinasi dan komunikasi. Mereka pun sepakat untuk menggelar "kopdar" alias kopi darat setiap sebulan sekali. "Ini berjalan sampai sekarang. Alhamdulillah kami masih rutin kopdar," tutur lalu tertawa. 

Baca Juga: Merawat Burung Butuh Ketekunan: Sangkar, Kicau, dan Persahabatan

Nah, dalam setiap momen kopdar Semeton Murai Lombok menggelar event gantangan. Lomba kicau ini melibatkan burung murai hasil koleksi para anggota. Agenda tersebut rutin dilaksanakan sebagai sarana silaturahmi antarpecinta burung kicau. "Lokasi gantangan biasanya bergilir. Pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi paling sering di lapangan eks Bandara Selaparang," ungkapnya.

Umumnya mereka melombakan burung murai batu. Hewan ini memang dikenal jenis burung kicau yang memiliki suara merdu dan menjadi primadona di dunia kicauan. Murai batu adalah sejenis burung pengicau yang memiliki warna cokelat kehitaman, dengan paruh berwarna hitam dan bagian bawah tubuh berwarna putih. Murai batu juga memiliki suara kicau yang merdu. 

Menariknya, selain memiliki suara alam yang khas, murai juga dikenal pintar mengubah suara kicauan. Kadang hewan ini juga mampu merekam atau meniru suara burung lain. Seperti burung kenari, gereja, atau perkutut. 

Komunitas Semeton Murai Lombok (SML) sedang menggelar "kopdar" dengan event lomba burung kicau di area eks Bandara Selaparang, Kota Mataram, Minggu lalu (31/5).
Komunitas Semeton Murai Lombok (SML) sedang menggelar "kopdar" dengan event lomba burung kicau di area eks Bandara Selaparang, Kota Mataram, Minggu lalu (31/5).

Suara kicauan yang bervariasi itu menjadi kriteria penilaian juri. Semakin banyak suara burung yang ditiru, maka kesemapatan menang pun makin terbuka. Selain kicauan yang variatif, penilaian juga meliputi durasi atau lama berkicau. "Standarnya burung akan berkicau selama 10 menit. Tapi ada juga yang lebih lama," tutur Lutfi. 

Kriteria penjurian lainnya juga terlihat dari gaya dan penampilan fisik burung. Menariknya, komunitas Semeton Murai Lombok terdiri dari beragam kalangan usia dan profesi. Di dalam komunitas, semua memiliki posisi yang sama. Tak jarang pula kalangan pejabat juga ikut menjadi bagian kicau mania. "Tidak pandang itu siapa. Kadang orang top datang pakai kolor ikut lomba burung itu biasa," ujar ASN di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) itu. 

Di sisi lain, kesenangan merawat burung murai tidak hanya karena kicauannnya yang merdu. Para penghobi juga panen cuan karena potensi bisnis yang menguntungkan. 

Baca Juga: Saat Musim Lomba, Pakan dan Sangkar Laris Manis, Pecinta Burung Bawa Multiplier Effect

"Saya selain ikut lomba juga sebagai peternak murai," kata Dedy Supiandi, anggota SML. 

Dedy sudah menekuti beternak murai khusus lomba sejak 2019. Hasilnya pun lumayan. Harga anakan jantan yang berumur dua bulanan bisa jual dengan harga Rp 2,5 juta. Kalau murai batu dewasa yang siap lomba harga antara Rp 5 sampai Rp 10 juta. 

"Bahkan kalau bagus dan dikenal sering juara harganya harganya sampai Rp 100 juta di wilayah NTB ini," tutur Dedy. (*/r3)

 

Editor : Kimda Farida
#kicau mania #Pulau Lombok #murai batu #komunitas #burung