LombokPost - Meningkatnya tren pusat kebugaran (gym) di Lombok dan mulai bermunculannya tempat serupa di Sumbawa mendapat apresiasi dari kalangan medis. Hal ini menandakan meningkatnya kesadaran masyarakat NTB akan pentingnya kebugaran dan kesehatan.
“Berarti kan mimpi kita untuk Indonesia Sehat 2024 itu bukan omon-omon belaka,” ujar dr Mokh Rakhmad Abadi, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga yang bertugas di RSUD Provinsi NTB.
Dokter Rakhmad menjelaskan bahwa gym memiliki beragam manfaat positif, seperti memperbaiki suasana hati (mood), meningkatkan metabolisme tubuh, membantu mencapai berat badan ideal, meningkatkan kebugaran fisik secara keseluruhan, serta membantu mengontrol tekanan darah tinggi dan memperbaiki kondisi pasien diabetes.
Namun, ia mengingatkan bahwa aktivitas di gym juga berpotensi menimbulkan risiko jika tidak dilakukan dengan benar dan tanpa pemahaman yang baik mengenai kapasitas tubuh.
“Gym itu seperti pisau bermata dua. Kalau tidak dilakukan baik dan benar, atau memaksakan diri akan berakibat fatal bahkan kematian. Seperti beberapa waktu lalu, ada kasus serangan jantung saat gym,” ungkapnya.
Menyikapi potensi risiko tersebut, dr Rakhmad mengimbau kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko kesehatan tertentu, seperti usia di atas 40 tahun, riwayat penyakit kencing manis (diabetes), riwayat penyakit jantung atau penyumbatan pembuluh darah, untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kedokteran olahraga sebelum memulai program latihan di gym.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar individu dengan risiko sedang atau tinggi didampingi oleh personal trainer (PT) yang bersertifikasi selama berolahraga di gym.
“Minimal mereka punya kemampuan untuk memberikan bantuan ketika terjadi kegawatan di gym, tahu siapa yang harus dihubungi, dan memahami cara resusitasi jantung paru jika terjadi sesuatu,” jelasnya.
Pendampingan dari PT atau dokter dapat meningkatkan keamanan dalam beraktivitas di gym.
Sebelum memulai latihan, penting untuk memahami kapasitas tubuh masing-masing. Bagi pemula, dr Rakhmad menekankan pentingnya menanamkan mindset bahwa “saingan saya adalah diri saya sendiri.” Hal ini bertujuan untuk menghindari gymtimidation atau gym intimidation, yaitu perasaan terintimidasi saat melihat orang lain mengangkat beban berat.
“Kadang merasa terintimidasi, meskipun tidak ada bullying. Apalagi kalau masuk ke gym, melihat orang-orang sudah punya beban kekar. Itu perlu diminimalkan. Berpikiran dengan saya hari ini lebih baik dari hari kemarin,” terangnya.
Untuk mengontrol intensitas latihan, dr Rakhmad menyarankan untuk tidak pernah menggunakan repetisi maksimal atau beban terberat yang hanya bisa diangkat satu kali.
“Itu teknik yang berbahaya karena bisa mengakibatkan cedera atau robekan otot. Apalagi kalau deadlift, itu bisa menyebabkan kematian. Banyak itu kejadiannya habis deadlift pingsan. Bisa juga meninggal sih,” imbuhnya.
Ia merekomendasikan untuk mencari beban yang memungkinkan untuk diangkat sebanyak delapan kali dalam satu set gerakan. Beban dapat ditingkatkan secara bertahap, misalnya setiap dua minggu atau sepekan sekali, setelah merasa 12 repetisi dengan beban saat ini terasa terlalu ringan.
“Awalnya 8 dijadikan 12. Nanti kalau 12 sudah terasa terlalu ringan baru dinaikkan bebannya. Bertahaplah. Mekanisme adaptasi itu paling tidak ada 7 sampai 10 hari,” jelasnya.
Dokter Rakhmad juga mengingatkan bahwa latihan di gym tidak hanya berfokus pada angkat beban. Latihan kardio untuk meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru juga penting untuk dimasukkan dalam program latihan. Contohnya adalah bersepeda, menggunakan electrical running, atau treadmill.
“Itu perlu dimasukkan juga, jangan hanya angkat beban saja. Nanti manfaatnya akan kurang,” katanya.
Terkait nutrisi, dr Rakhmad menjelaskan bahwa secara garis besar, tujuan gym ada dua, yaitu menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot. Proporsi terbesar biasanya adalah individu yang ingin menurunkan berat badan dengan prinsip kalori yang masuk lebih kecil dari kalori yang dibakar.
“Perlu diingat bahwa kalau diet ekstrem, maka alih-alih mendapatkan manfaat yang baik, malah kekurangan otot dan otot robek,” imbuhnya.
Asupan protein dan karbohidrat yang cukup sebelum dan sesudah latihan penting untuk membantu pemulihan dan meningkatkan massa serta kualitas otot, yang harus diimbangi dengan istirahat yang cukup.
“Nah kalau diet ekstrem itu tidak dapat terjadi karena asupan nutrisi protein dan karbohidrat kurang,” terangnya.
Pada wanita, diet ekstrem dapat mengurangi produksi hormon estrogen, yang berbahaya bagi kesehatan jantung dan dapat ditandai dengan tubuh yang sangat kurus, perubahan mood yang tidak stabil, dan gangguan menstruasi.
“Itu tubuhnya kurang asupan protein, kalori, dan karbohidrat,” jelasnya.
Dokter Rakhmad mengimbau para penggemar gym untuk memenuhi kebutuhan protein harian sekitar 1,6 hingga 2 gram per kilogram berat badan. Contohnya, seseorang dengan berat badan 50 kilogram membutuhkan sekitar 85 hingga 100 gram protein per hari.
“Sama jangan lupa asupan air putih untuk metabolisme. Supaya radikal bebas yang diproduksi saat aktif gym itu dapat dikeluarkan lewat urine,” jelasnya.
Mengenai konsumsi suplemen, dr Rakhmad menekankan bahwa untuk kesehatan jangka panjang, makanan alami (real food) adalah yang paling bermanfaat. Sumber protein bisa didapatkan dari dada ayam, susu, dan lain-lain. Jika ingin mengonsumsi suplemen, whey isolate yang merupakan protein murni bisa menjadi pilihan. Namun, ia mewanti-wanti terhadap suplemen yang menjanjikan hasil yang spektakuler.
“Karena biasanya di dalamnya terdapat zat-zat berbahaya seperti doping. Yang jangka panjang bukan memberikan manfaat, tapi lebih ke kefatalan,” pungkasnya. (chi/r3)
Editor : Prihadi Zoldic