Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ratusan Warga Penanggak Lauq Batulayar Kesulitan Air Bersih

Sanchia Vaneka • Kamis, 1 Agustus 2024 | 21:45 WIB
ANGKUT: Warga Penanggak saat mengangkut air bersih ke mobil bak terbuka dari kantor Camat Batulayar menuju perbukitan Penanggak, beberapa waktu lalu. (CHIA/LOMBOK POST)
ANGKUT: Warga Penanggak saat mengangkut air bersih ke mobil bak terbuka dari kantor Camat Batulayar menuju perbukitan Penanggak, beberapa waktu lalu. (CHIA/LOMBOK POST)

LombokPost-Ratusan warga Dusun Penanggak Lauq, Desa Persiapan Penanggak, Batulayar sudah tiga bulan kesulitan air bersih.

Ini akibat musim kemarau yang mengakibatkan kekeringan di daerah dataran tinggi tersebut.

”Ya memang kondisi di Penanggak itu tidak ada mata air,” kata Camat Batulayar Muhammad Subayyin Fikri. 

Kondisi tersebut membuat warga yang berada di Dusun Penanggak harus turun bolak-balik ke Kantor Camat untuk mengambil air.

Sumber air yang dimanfaatkan warga berasal dari sumur bor yang ada di Kantor Camat Batulayar.

”Sumur bor itu memang sudah ada sejak camat sebelumnya. Untuk membantu masyarakat yang kesulitan air bersih,” ujarnya.

Namun kapasitas tadon yang ada hanya bisa menampung 2.300 liter air. Sedangkan masyarakat yang datang cukup banyak.

”Itu bukan satu dua atau orang yang datang tapi banyak. Karena wilayah terdampak kekeringan ada di Penanggak dan Dusun Duduk Atas,”  jelasnya.

Subayyin menjelaskan ada sekitar 700 lebih kepala keluarga yang terdampak kekeringan di desa tersebut.

Warga setempat hanya memanfaatkan air hujan sebagai sumber mata air. 

”Itu yang ada di empat dusun,” cetusnya.

Menurut Subayyin saat ini dibutuhkan tambahan tandon.

Itu menjadi antisipasi ketika membludaknya warga datang untuk mengambil air bersih.

Terlebih kedalaman sumur bor itu hanya delapan meter. 

”Saya takutnya airnya habis, terus masyarakat mau ambil dari mana. Kami sudah bersurat kepada BPBD dan Bank NTB untuk meminta tambahan tandon demi kebutuhan masyarakat,” tuturnya. 

Pemerintah desa juga diminta untuk membantu kecamatan untuk bersurat ke pemda. Agar kedalaman sumur bor di kantor camat beserta mesin bisa dibantu pemkab.

Sehingga air sumur bor itu tidak cepat habis.

Selain itu, pihak kecamatan juga menggusulkan penanganan jangka panjang untuk kawasan langganan kekeringan.

Beberapa waktu lalu, Dinas PUTR sudah turun melakukan uji geolistrik untuk mengetahui kedalaman sumber air diatas perbukitan tersebut.

”Sekitar 130 meter kedalamannya baru ketemu air. Katanya sih dibutuhkan sekitar Rp 1,2 miliar untuk pengeboran,” cetusnya.

Lebih lanjut, Subayyin mengatakan ada alternatif lain untuk mengani kekeringan. Bisa dengan pipanisasi dari sumber mata air Pusuk Lestari.

”Dua alternatif itu. Kalau tidak pipanisasi bisa dengan pengeboran,” pungkasnya.

Warga Batulayar Mirzan yang ditemui saat mengambil air di Kantor Camat mengatakan masyarakat secara swadaya patungan membayar bahan bakar minyak (BBM) mobil pengangkut untuk mengangkut air.

Air bersih yang diambil di kantor camat Batulayar dipergunakan untuk  konsumsi dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

”Masing-masing mengeluarkan lima ribu untuk BBM kendaraan,” kata Mirzan. 

Mirzan mengaku dalam sehari harus turun tiga kali untuk mengambil air.

Tak hanya dirinya, mobil bak terbuka milik warga silih berganti turun mengambil air untuk membantu warga terdampak kekeringan.

Sayangnya, kerbatasan kapasitan pengangkutan mobil itu membuat air yang dibawa juga terbatas. Sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan seluruh warga setempat.

”Jadi siapa yang cepat datang dia yang dapat duluan,” tandasnya. (chi/r12)

Editor : Kimda Farida
#Lobar #Kekeringan