Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ritual Mandian Keris Sasak di Taman Narmada, Jadi Tradisi Leluhur dan Magnet Wisata Lombok Barat

Hamdani Wathoni • Senin, 30 Juni 2025 | 10:16 WIB
WISATA BUDAYA: Bupati Lobar Lalu Ahmad Zaini saat melakukan ritual mandian Keris Sasak di Taman Narmada, Sabtu (29/6).
WISATA BUDAYA: Bupati Lobar Lalu Ahmad Zaini saat melakukan ritual mandian Keris Sasak di Taman Narmada, Sabtu (29/6).

LombokPost - Ritual budaya 'Mandian Keris' kembali digelar di Taman Narmada, Lombok Barat, Sabtu (28/6).

Bertajuk 'Keris Lombok Bewaran', acara yang penuh nilai sakral ini menjadi saksi kebesaran budaya Sasak sekaligus upaya melestarikan warisan leluhur yang hampir punah.

Sorotan utama acara adalah pemandian keris, tombak, dan pusaka lain milik masyarakat Sasak, yang dipimpin sesepuh adat.

Ritual ini menjadi tradisi tahunan setiap Muharram, melibatkan tokoh masyarakat, budayawan, serta ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan sakralitas budaya Sasak.

Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini hadir langsung membuka acara ini. Pria yang karib disapa LAZ itu menegaskan pentingnya merawat tradisi leluhur seperti Mandian Keris.

"Kita punya mimpi besar agar budaya ini tak hanya jadi kebanggaan lokal, tapi juga daya tarik wisata global," ujar LAZ penuh semangat.

Antusiasme masyarakat dan wisatawan menjadi bukti bahwa tradisi ini tak kehilangan relevansi. Namun, Bupati LAZ mengingatkan pentingnya peran serta semua pihak dalam melestarikan budaya ini.

"Jangan hanya jadi penonton. Mari kita bergandengan tangan menjadikan tradisi ini kebanggaan kita bersama," ajaknya

Ketua Majelis Adat Sasak Lalu Sajim Sastrawan menegaskan, keris bukan sekadar senjata, tetapi juga karya seni penuh filosofi.

"Pada 25 November 2005, UNESCO menetapkan keris sebagai warisan dunia. Ini membuktikan bahwa keris bukan hanya milik kita, tetapi juga dunia," katanya.

Ia menjelaskan, ritual Mandian Keris berakar dari keyakinan masyarakat Sasak bahwa keris adalah benda sakral yang memerlukan perhatian khusus.

"Setiap bulan Muharram, kami memandikan keris sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur," lanjutnya.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan berbagai acara menarik, seperti sarasehan keris, peluncuran kemaliq bangsa Sasak, hingga penandatanganan prasasti.

Kadis Pariwisata Lombok Barat Agus Gunawan berharap tradisi ini masuk dalam kalender event Lombok Barat.

"Kita ingin tradisi ini tidak hanya sakral tetapi juga memiliki daya tarik wisata tinggi," ujarnya.

Kolam air alami di Taman Narmada yang digunakan dalam ritual ini juga menjadi daya tarik tersendiri.

Dengan suhu mencapai 27 derajat Celcius, air dari mata air murni ini dipercaya memiliki makna spiritual sebagai air kehidupan.

Dirut PT Tripat Eko Esti Santoso mengapresiasi inisiatif Majelis Adat Sasak.

"Ini lebih dari sekadar ritual. Ini adalah pusat literasi budaya yang memperkaya nilai Taman Narmada," tuturnya.

Dengan kemasan yang lebih menarik, Mandian Keris berpotensi menjadi magnet wisata yang tak hanya mengangkat budaya Sasak tetapi juga membawa Lombok Barat ke panggung dunia.

Upaya ini menjadi sinergi indah antara pelestarian tradisi dan pengembangan ekonomi berbasis pariwisata.

Dari Taman Narmada, pesan menggema jika Sasak tak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga dalam kebanggaan masa kini dan harapan masa depan. 

Editor : Kimda Farida
#unesco #Majelis Adat Sasak #Lombok Barat #Narmada #keris