Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sinkronisasi Penerima Manfaat Program MBG di Lombok Barat, Cegah Persaingan dan Perebutan Sekolah Penerima

Hamdani Wathoni • Senin, 20 Oktober 2025 | 12:04 WIB
Gusti Ayu Kade Widya Diastini
Gusti Ayu Kade Widya Diastini

LombokPost — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lombok Barat masih menghadapi beberapa persoalan.

Salah satunya adalah lokasi SPPG atau dapur MBG yang berdekatan.

Ini kemudian menimbulkan persoalan adanya sasaran penerima manfaat di sekolah yang sama.

Koordinator Wilayah program MBG Lombok Barat Gusti Ayu Kade Widya Diastini menegaskan pentingnya sinkronisasi data penerima manfaat dalam pelaksanaan program MBG (Merdeka Belajar dan Gizi).

"Langkah ini dilakukan untuk menghindari tumpang tindih dan perebutan lokasi penerima manfaat yang kerap terjadi di lapangan," jelasnya. Menurutnya, kuota penerima manfaat sudah ditetapkan secara jelas per kecamatan.

"Kuotanya sudah ditentukan sejak awal. Jadi misalnya, di kecamatan ini jatahnya sekian, begitu juga kecamatan lainnya," sambungnya.

Meski kuota sudah ditetapkan dan data penerima telah di-ACC, Gusti Ayu mengungkapkan masih ada permasalahan teknis di lapangan, terutama terkait koordinat lokasi penerima manfaat.

Dalam beberapa kasus, titik SPPG atau dapur MBG berpindah atau bergeser sehingga berdekatan dengan dapur program yang sudah ada.

"Kalau titiknya berubah, bisa saja penerima manfaat berdekatan. Ini yang sering memicu ‘perebutan penerima’,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya telah melakukan sinkronisasi penerima manfaat secara langsung di lapangan.

Proses ini melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pengelola program di tingkat kecamatan.

"Tujuan sinkronisasi ini agar tidak ada tumpang tindih dan semua penerima mendapatkan bantuan sesuai sasaran," ujarnya. Sinkronisasi ini telah dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Kuripan, Narmada, Gerung, dan Labuapi. Data hasil sinkronisasi kemudian dibagikan kepada pihak-pihak terkait agar pelaksanaan program di lapangan berjalan lebih tertib.

Dalam proses sinkronisasi, ditemukan pula kasus khusus di mana penerima manfaat sudah lebih dulu mendapatkan bantuan sebelumnya.

Dalam kondisi seperti ini, bantuan akan dialihkan ke sekolah terdekat lainnya.

"Ini penting untuk memastikan bantuan tetap tepat sasaran, tidak menumpuk di satu titik saja," kata Gusti Ayu. Gusti Ayu memastikan bahwa hasil sinkronisasi telah dibagikan ke masing-masing SPPG yang terlibat.

"Sekolah mana yang harus menerima, semua sudah kami share. Jadi, pelaksanaan di lapangan tinggal mengikuti hasil sinkronisasi ini," tegasnya.

Dengan langkah ini, diharapkan pelaksanaan program MBG di Lombok Barat berjalan lebih merata, tertib, dan tepat sasaran, serta meminimalisasi potensi konflik di lapangan.

Ketua Satgas Pengawasan MBG Lombok Barat Saepul Akhkam mengaku pihaknya siap menindaklanjuti informasi mengenai adanya sekolah yang terdampak akibat persoalan ini.

Sejumlah sekolah untuk sementara tak menerima MBG karena belum sinkronnya data penerima manfaat.

"Ini akan kita lakukan evaluasi secara komperhensif sambil melakukan penataan," ucap Akhkam yang juga menjabat Asisten I Setda Lombok Barat tersebut.

Sejak awal, Pemkab Lombok Barar dikatakannya tidak dilibatkan dalam program MBG.

Bahkan, dapur MBG melakukan survei langsung ke sekolah penerima.

Namun ketika banyak masalah bermunculan, akhirnya Pemkab Lobar membentuk Satgas pengawasan meminimalisir masalah yang muncul.

"Agar jangan sampai terlalu jauh dari lokasi dapur juga penerimanya. Sambil kami lakukan evaluasi," jelasnya. 

Editor : Kimda Farida
#SPPG #Lombok Barat #Prabowo Subianto #sinkron #Mbg