LombokPost - Desa Senteluk kini punya destinasi wisata baru. Tak hanya terkenal dengan wisata Pantai Tanjung Bias, desa ini juga mulai dikenal berkat kehidaran wisata kuliner tepi sawah.
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna keemasan di atas hamparan sawah Desa Senteluk. Di sebuah sudut Dusun Penyangget, kesibukan mulai terasa. Aroma sate yang terbakar dan gurihnya serabi menyeruak di antara semilir angin pegunungan.
Inilah Wisata Kuliner Tepi Sawah, destinasi kuliner yang tengah naik daun, menggeser keriuhan pantai dengan ketenangan agrowisata.
Bagi Sri, salah satu pedagang UMKM di sana, geliat ini adalah berkah sekaligus tantangan. Di balik senyum ramahnya melayani pembeli, terselip harapan besar agar tempatnya mencari nafkahnya ini tidak sekadar menjadi tren musiman.
"Ahamdulillah karena kami punya tempat jualan. Apalagi dikembangkan oleh desa dengan fasilitas yang direncanakan. Kami ingin UMKM di sini terus berkembang," ujar Sri dengan nada optimis.
Kepala Desa Senteluk Muzni mengakui Kuliner Tepi Sawah adalah jawaban atas kejenuhan wisata pesisir. Ketika destinasi ikonik seperti Tanjung Bias mulai terdampak abrasi dan persaingan ketat, Dusun Penyaget muncul sebagai primadona baru. Strateginya jelas menjual suasana. Perpaduan visual sawah hijau dan latar perbukitan yang asri menjadi magnet yang sulit ditolak para pemburu senja.
Aksesnya pun tak sulit. Cukup masuk melalui jalur KUA Kecamatan Batulayar, pengunjung langsung disambut atmosfer yang menyegarkan mata. "Kalau hari libur, dari pagi pemandangannya sudah bagus sekali," ungkap Muzni.
Namun, bagi para pedagang pemandangan indah saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan dapur mereka. Ia menyoroti pentingnya sentuhan inovasi dari pemerintah agar pengelolaan kawasan ini lebih profesional, menyerupai konsep Car Free Day Udayana yang sudah mapan.
Satu hal yang menjadi ganjalan utama adalah terbatasnya fasilitas penunjang. Saat ini, ekonomi di Tepi Sawah seolah terhenti saat matahari terbenam karena minimnya penerangan.
"Kita butuh listrik dan penerangan jalan. Tidak mungkin kita hanya start jam 5 sore sampai jam 6 sore saja," keluh pedagang lainnya.
Para pedagang memimpikan kawasan ini tetap hidup hingga pukul 10 malam, di mana para pemuda desa yang aktif bisa ikut menjaga keamanan kawasan.
Mereka juga mengusulkan adanya event berkala, seperti festival malam atau pasar malam UMKM, untuk menjaga ritme kunjungan agar tidak musiman.
"Kita butuh pembinaan lagi, karena UMKM ini bisa dibilang musiman. Kadang ramai, kadang sepi. Kami ingin pemerintah membantu mengatur sistem pengelolaan dan perencanaannya," tambah para pedagang.
Tepi Sawah bukan sekadar tempat makan di pinggir parit. Destinasi ini adalah manifestasi swadaya masyarakat Dusun Penyaget yang merindukan tata kelola yang lebih solid. Jika fasilitas seperti listrik dan penataan tenda segera terealisasi, bukan tidak mungkin Tepi Sawah akan menjadi tempat kuliner malam baru yang tak hanya menjual rasa, tapi juga asa bagi warga. (*)
Editor : Kimda Farida