LombokPost - Di tengah maraknya anggapan bahwa mencari pekerjaan harus memiliki orang dalam atau bahkan mengeluarkan sejumlah uang, pengalaman yang dialami Rindi Antika justru berbeda saat mendaftar sebagai tenaga kesehatan RSUD Tripat Gerung.
Senyum dara yang baru dinyatakan lolos sebagai tenaga kesehatan di RSUD Tripat itu tak pernah lepas. Setelah serangkaian upayanya telah membuahkan hasil manis. Dia mengaku mengikuti seluruh tahapan seleksi tanpa bantuan siapa pun.
"Alhamdulillah, prosesnya transparan. Tidak ada biaya apa pun selain kebutuhan medical check up yang memang menjadi syarat pemeriksaan kesehatan," tuturnya kepada Lombok Post.
Rindi, sapaannya mengaku awalnya tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk diterima. Ia hanya mencoba peruntungan dengan mengikuti seluruh tahapan seleksi yang telah ditetapkan panitia.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Terima Keluhan Pelayanan dan Kekosongan Obat, Manajemen RSUD Tripat Janji Berbenah
Namun, hasil akhirnya justru membuatnya bersyukur karena mampu bersaing secara terbuka dengan peserta lain.
Menurut dia, tidak pernah ada permintaan tertentu selama proses rekrutmen berlangsung. Tidak ada pula praktik titip nama maupun pendekatan kepada pihak tertentu untuk mempermudah kelulusan.
"Kalau saya malah awalnya hanya coba-coba. Eh ternyata lulus," katanya sambil tersenyum.
Cerita serupa juga dirasakan peserta lain yang mengikuti seleksi. Pada formasi fisioterapi misalnya, jumlah pelamar mencapai 19 orang. Sementara kebutuhan rumah sakit hanya empat orang tenaga fisioterapis.
Persaingan berlangsung ketat karena seluruh peserta harus melewati tes kompetensi dan Computer Assisted Test (CAT).
Menariknya, dari empat kebutuhan yang tersedia, hanya tiga peserta yang akhirnya dinyatakan lolos. Satu formasi sengaja tidak diisi karena tidak ada peserta yang memenuhi nilai ambang batas yang telah ditetapkan.
"Memang dicari empat orang. Tetapi yang satu tidak lulus karena nilai CAT masih di bawah standar," ungkap Rindi.
Baca Juga: Bupati Lobar Pantau Tes CAT RSUD Tripat Gerung: Tak Ada Titipan, Transparansi Harga Mati!
Kebijakan itu menunjukkan bahwa pihak rumah sakit lebih mengutamakan kualitas dibanding sekadar memenuhi kuota kebutuhan pegawai. Langkah tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa standar kompetensi tidak bisa ditawar.
Direktur RSUD Tripat dr. Suriyadi menegaskan, pembenahan kualitas sumber daya manusia (SDM) pegawai menjadi fokus utama manajemen rumah sakit saat ini.
Menurutnya, pelayanan kesehatan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan apabila didukung tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional.
Karena itu, proses perekrutan dilakukan secara ketat dengan berbagai tahapan seleksi yang dirancang untuk mengukur kemampuan calon pegawai secara objektif.
"Bisa ditanyakan kepada semua peserta yang lulus. Bagaimana perekrutan yang kami lakukan hampir lebih ketat dari perekrutan PNS," tegasnya.
Suriyadi mengatakan, selain kompetensi di bidang kesehatan, pihaknya juga menemukan banyak talenta muda yang memiliki kemampuan tambahan.
Salah satunya adalah kemampuan berbahasa Inggris yang dinilai menjadi nilai lebih dalam mendukung pelayanan rumah sakit ke depan.
Menurut dia, peningkatan mutu pelayanan tidak bisa dilakukan secara instan. Perbaikan harus dimulai dari proses paling awal, yakni memastikan bahwa SDM yang masuk benar-benar memiliki kapasitas sesuai kebutuhan organisasi.
"Bagi kami, memperbaiki pelayanan harus dimulai dari input SDM. Kalau SDM berkualitas, pelayanan juga akan jauh lebih baik. Bisa dicek, baru kali ini perekrutan dilaksanakan secara profesional," tandasnya.
Editor : Kimda Farida