LombokPost - Jembatan yang rusak, kendaraan yang terperosok, dan janji-janji manis pemerintah perlahan menguap dengan kondisi Jembatan Cemara, Desa Lembar Selatan, Lombok Barat.
Kondisi infrastruktur penghubung ini kian memprihatinkan. Lubang-lubang menganga siap mengintai siapa saja yang melintas. Tak jarang, kendaraan roda empat harus berakhir nahas, terperosok ke dalam lubang lantai jembatan yang rapuh.
Beberapa hari lalu, video sebuh mobil terperosok ke jembatan kembali ramai jadi perbincangan warga.
"Betul, bukan sekali dua kali mobil terperosok di sini. Sudah sering sekali, terutama setiap pertengahan dan akhir tahun," keluh Kepala Desa Lembar Selatan Muh Saleh dengan nada suara yang sarat akan kekecewaan kepada Lombok Post, Minggu (5/7).
Bagi Saleh dan warganya, Jembatan Cemara adalah urat nadi yang diabaikan. Upaya tambal sulam mandiri menggunakan sisa-sisa anggaran desa yang minim sudah tak mampu lagi menahan beban. Desa berada di titik nadir koordinasi, terkunci oleh keterbatasan regulasi dan pemangkasan anggaran dari pusat.
"Mana bisa desa membiayai ini? Perbaikan ini butuh anggaran besar. Apalagi dengan adanya pemangkasan anggaran desa saat ini," tambahnya.
Saleh menyebut pemerintah desa saat ini dalam kondisi ketidakberdayaan finansial yang menjerat otoritas tingkat bawah.
Ironinya, asa warga sempat membumbung tinggi ketika para petinggi daerah, termasuk Gubernur dan perwakilan dari Kabupaten Lombok Barat, sempat turun langsung meninjau lokasi beberapa waktu lalu.
Tim teknis bahkan sudah melakukan pengukuran berkali-kali. Namun, waktu berlalu, dan coretan meteran di aspal itu kini luntur tergerus hujan, tanpa ada realisasi nyata. Kabupaten dinilai menutup mata dan telinga atas jeritan warganya sendiri.
Kekecewaan memuncak, melahirkan mosi tidak percaya yang kian menebal. Warga merasa seolah dianaktirikan, dilempar ke sana kemari dalam pusaran birokrasi yang rumit.
Baca Juga: Dewan Lobar Gandeng Pusat Perbaiki Jembatan Pantai Cemara
Perlahan, warga mulai menuntut ketegasan, mendesak agar jeritan dari pelosok Lembar Selatan ini didengar langsung oleh telinga sang Gubernur dan Bupati. Mereka hanya ingin sebuah jembatan yang aman, bukan sekadar monumen janji yang rapuh.