LombokPost--Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri, Kabupaten Lombok Barat, menyampaikan keberatan atas penggunaan visual pesantren mereka dalam tayangan salah satu televisi nasional yang memberitakan dugaan pembakaran seorang santri di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, TGH Mukhlis Ibrahim, menilai penggunaan gambar gerbang pesantren dalam tayangan tersebut tidak sesuai dengan lokasi maupun substansi peristiwa yang diberitakan.
Menurutnya, hal itu berpotensi memunculkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Kami menyayangkan karena dalam pemberitaan itu ditampilkan gambar gerbang Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, sementara di layar juga muncul informasi mengenai dugaan pembakaran santri. Ini bisa menimbulkan persepsi yang keliru," ujar TGH Mukhlis Ibrahim.
Ia menegaskan, media massa memiliki tanggung jawab untuk menjunjung tinggi prinsip akurasi, verifikasi, dan ketelitian, termasuk dalam penggunaan materi visual sebagai ilustrasi berita.
Menurutnya, visual yang tidak sesuai dengan fakta dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi para wali santri maupun masyarakat yang tidak mengikuti pemberitaan secara utuh.
"Orang bisa saja mengira peristiwa itu terjadi di Al-Ishlahuddiny, padahal faktanya tidak demikian. Di sini tidak pernah terjadi peristiwa seperti yang diberitakan," katanya.
Baca Juga: RSUD Selong Kembangkan Layanan Operasi Laparoskopi
TGH Mukhlis menjelaskan, Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny merupakan salah satu pesantren tertua di Pulau Lombok yang telah berdiri sekitar delapan dekade.
Selama ini, pesantren tersebut dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama, tuan guru, pendidik, dan tokoh masyarakat di Nusa Tenggara Barat maupun berbagai daerah lainnya.
Karena itu, ia menilai penggunaan visual yang tidak berkaitan dengan isi pemberitaan berpotensi memengaruhi citra lembaga yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Pihak pesantren berharap televisi yang menayangkan berita tersebut memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka apabila memang terjadi kekeliruan dalam penggunaan gambar.
"Kami berharap ada penjelasan kepada publik bahwa peristiwa itu tidak terjadi di Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny. Dengan begitu, kesalahpahaman di masyarakat bisa diluruskan," tegasnya.
Di sisi lain, berdasarkan informasi yang berkembang di lingkungan keluarga besar pesantren, sejumlah alumni, jamaah, santri, dan simpatisan disebut berencana menyampaikan aspirasi secara damai ke Kantor Biro TV One Mataram dan Kantor Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB.
Aspirasi tersebut antara lain meminta adanya klarifikasi, pemberian hak jawab sesuai ketentuan yang berlaku, serta permohonan maaf apabila ditemukan adanya kesalahan dalam penggunaan materi visual pada tayangan berita.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak TV One terkait penggunaan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny dalam tayangan tersebut. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak terkait untuk memperoleh konfirmasi sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan