Pembelajaran di MTs Nujumul Huda Batu Samban Pascakebakaran, Santri Tetap Semangat Menatap Papan Tulis Kecil di Bawah Tenda

Hamdani Wathoni • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:12 WIB
BERTAHAN DI TENDA DARURAT: Puluhan santri elas 9 MTs Nujumul Huda, Batu Samban, mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara lesehan di dalam tenda darurat pascakebakaran yang menghanguskan empat ruang kelas mereka. (Foto: Toni/Lombok Post)
BERTAHAN DI TENDA DARURAT: Puluhan santri elas 9 MTs Nujumul Huda, Batu Samban, mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara lesehan di dalam tenda darurat pascakebakaran yang menghanguskan empat ruang kelas mereka. (Foto: Toni/Lombok Post)

 

LombokPost - Kebakaran yang menghanguskan empat ruang kelas tak menyurutkan semangat belajar para siswa. Di bawah tenda darurat, suasana belajar tetap berjalan penuh semangat.

Aroma bekas kebakaran masih menyeruak tipis di sudut halaman MTs Nujumul Huda, Batu Samban. Empat ruang kelas yang dulunya riuh oleh suara hafalan dan diskusi para siswa, kini tinggal puing-puing gosong.

Musibah si jago merah itu menghanguskan tempat belajar sekitar 85 santri putra dari kelas 7 hingga kelas 9.

Namun, semangat menuntut ilmu di madrasah di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nujumul Huda tersebut menolak padam.

Malam hari persis setelah musibah terjadi sekitar waktu magrib sebuah tenda darurat langsung didirikan di halaman sekolah. Tenda itulah yang kini menjadi ruang kelas baru bagi para santri, khususnya 37 siswa kelas 9 putra.

Demi menyambung proses belajar yang terputus, dua rombongan belajar kelas 9 terpaksa digabung menjadi satu di bawah naungan terpal yang sama.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Listrik Desa, Bangun PLTS 100 GW, Pastikan BBM dan LPG Subsidi Tetap Aman

Suasana belajar kini tentu tak lagi sama. Tak ada meja kayu kokoh atau kursi empuk. Para santri belajar secara lesehan, meluruskan kaki atau melipatnya di atas alas seadanya.

"Paling terasa kurang nyaman saat menulis karena anak-anak harus duduk lesehan. Fasilitas lain seperti papan tulis juga seadanya, kami pakai yang kecil khas kondisi darurat," ungkap Kepala MTs Nujumul Huda Muhammad Taufik saat ditemui di lokasi.

Meski dalam keterbatasan, lalu lintas ilmu di bawah tenda darurat itu terus mengalir. Suara guru yang menerangkan materi berpacu dengan desir angin yang masuk dari celah tenda. Para siswa tetap tekun mencatat, meski sesekali harus membongkokkan badan karena tak ada meja penyangga.

Baca Juga: Gubernur Iqbal Turun Tangan Tata Pasar Kuta Mandalika, Lapak Bocor hingga Sanitasi Dibenahi

Pihak sekolah kini berkejaran dengan waktu untuk memulihkan fasilitas yang ada. Pihak BPBD Lombok Barat dan jajaran pemda pun sudah meninjau lokasi untuk merencanakan langkah penanganan pascabencana. Taufik berharap, proses rekonstruksi empat ruang kelas yang terbakar bisa segera direalisasikan melalui dukungan berbagai pihak, baik Pemda, Kementerian Agama, maupun yayasan.

Ada trauma tersendiri yang ditinggalkan oleh peristiwa kebakaran tersebut. Karena itu, Taufik berharap bangunan baru nantinya dirancang lebih aman dan tahan api.

​"Harapan kami segera dibangun kembali. Tadi sempat mengobrol dengan yayasan dan BPBD, mudah-mudahan atapnya nanti bisa dicor atau didak. Supaya tidak pakai material kayu lagi, agak trauma kalau ingat kejadian kemarin," tutur Taufik.

​Kini, di balik terpal biru tenda darurat, puluhan santri itu terus menggoreskan pena. Kebakaran memang berhasil menghancurkan dinding-dinding kelas mereka, tetapi tidak dengan cita-cita yang sedang mereka rajut.

"Tetap belajar, meski di tenda darurat kami masih tetap semangat belajar," ucap Ivan Indrawan salah satu pelajar kelas 9 di sela-sela belajar sambil duduk lesehan. (*)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
batu samban Lombok Barat Kebakaran MTs