Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pimpinan Ponpes Tersangka Pelecehan di Sekotong Akhirnya Ditangkap Polres Lobar

Hamdani Wathoni • Jumat, 7 Juni 2024 | 16:40 WIB
TERTANGKAP: Pimpinan Ponpes di Sekotong yang berinisial AM, 50 tahun, yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya akhirnya ditangkap aparat Unit PPA Satreskrim Polres Lobar.
TERTANGKAP: Pimpinan Ponpes di Sekotong yang berinisial AM, 50 tahun, yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya akhirnya ditangkap aparat Unit PPA Satreskrim Polres Lobar.

LombokPost-Pelarian AM (inisal, Red) pimpinan pondok pesantren di Sekotong yang dilaporkan melakukan pelecehan seksual terhadap empat santriwatinya berakhir sudah. Ia ditangkap aparat Satreskrim Polres Lombok Barat, Kamis (6/6) malam di salah satu rumah makan yang ada di Kota Mataram.

"Untuk kasus Ponpes yang di Sekotong, terduga pelakunya inisial AM kami tangkap sekitar pukul 21.30 Wita tadi malam saat berada di sebuah rumah makan," jelas Kasatreskrim Polres Lombok Barat Iptu Abisatya Darma Wiryatmaja kepada Lombok Post, Jumat (7/6). 

Saat itu ia diduga bertemu dengan kuasa hukumnya. Informasi tersebut kemudian diketahui oleh aparat Unit PPA Satreskrim Polres Lobar sehingga menangkap pelaku di rumah makan tersebut.

AM yang diketahui berasal dari Lombok Tengah tersebut terbilang lihai. Ia berhasil kabur sejak massa merusak ponpesnya yang ada di Desa Persiapan Pesisir Mas Sekotong 9 Mei lalu. Ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain sehingga keberadaannya sulit ditemukan. 

"Kini pelaku sudah kami tahan dan lakukan pemeriksaan. Terduga pelaku diduga melakukan pelecehan seksual terhadap empat santriwati, satu disetubuhi, tiga dicabuli," terang Abisatya.

Sementara Kanit PPA Satreskrim Polres Lobar Ipda Dhimas Prabowo menegaskan jika tersangka AM memang tidak kooperatif. Ia selalu berupaya menghindari petugas dengan berbagai macam cara. Bahkan jejaknya sulit ditemukan karena ia berpindah-pindah selama masa pencarian. 

"Alasannya tidak kooperatif karena dia mengamankan istri keduanya ke tempat aman sejak aksi perusakan ponpes terjadi. Makanya dia beralasan tidak bisa menyerahkan diri," ujar Dhimas.

Namun alasan tersebut juga hanya dalih. Lantaran, meski istri pertama dan istri keduanya saat ini sudah berada di Lombok Tengah di tempat aman, ia juga tidak mau menyerahkan diri ke aparat Polres Lombok Barat. Sehingga ia tertangkap lebih dulu di rumah makan yang ada di Kota Mataram. "Terduga pelaku ini cukup lihai," ucapnya. (ton)

Editor : Jelo Sangaji