LombokPost – Penyebaran misinformasi kesehatan, terutama terkait kanker leher rahim dan vaksinasi, menjadi tantangan serius di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI).
Menyikapi hal ini, MSD Indonesia (Merck & Co., Inc.) berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menggelar edukasi bertema ‘Lawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era AI’ dalam rangka memperingati World Cervical Cancer Elimination Day.
Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat lebih dari 1.900 konten hoaks terdeteksi sepanjang tahun 2024, di mana 163 di antaranya berkaitan dengan isu kesehatan, khususnya mengenai obat herbal dan vaksinasi.
Imunisasi HPV: Pencegahan Terbaik yang Terancam Hoaks
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine, MKM, menegaskan peran krusial informasi yang tepat dalam upaya penurunan angka kanker leher rahim di Indonesia.
"Edukasi yang tepat akan membantu masyarakat memahami bahwa kanker leher rahim adalah penyakit yang dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi HPV," ujar dr. Prima, menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen memperluas cakupan imunisasi, baik bagi anak perempuan maupun anak laki-laki.
Senada dengan itu, Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Anak, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, menekankan bahaya laten virus HPV.
Infeksi HPV seringkali tidak bergejala, namun dalam 15-20 tahun dapat berkembang menjadi kanker leher rahim (menyebabkan sekitar 71 persen kasus), serta kanker vagina, penis, hingga kutil kelamin.
"Vaksin HPV sudah terbukti aman dan bermanfaat sejak pertama kali digunakan pada 2006, dan kini dipakai di lebih dari 130 negara. Jadi ini bukan hal baru, bukan percobaan. Ini langkah nyata untuk melindungi diri dan keluarga," tegas Prof. Soedjatmiko.
Ia mewanti-wanti masyarakat agar mencari informasi dari sumber yang benar dan menghindari mitos atau hoaks dari media sosial, terutama jika bukan berasal dari ahli imunisasi.
AI: Peluang dan Tantangan Akurasi Informasi
Teknologi AI kini menjadi pedang bermata dua. Survei Katadata Insight Center menunjukkan 64,7 persen masyarakat menggunakan AI untuk mencari informasi, dan 70 persen dari mereka mempercayai konten yang dihasilkan AI. Kondisi ini membuka peluang besar penyebaran informasi, namun juga menuntut akurasi tinggi.
Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah Badan Komunikasi Pemerintah RI, Noudhy Valdryno, menyatakan pemerintah berkomitmen memperkuat ekosistem komunikasi publik yang sehat.
"Satu informasi yang keliru dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari keresahan hingga keputusan yang salah dalam menjaga kesehatan keluarga. Pemerintah berkomitmen untuk terus melawan hoaks secara kolaboratif bersama media, akademisi, dan mitra strategis seperti MSD Indonesia," jelas Noudhy.
Country Medical Lead MSD Indonesia, dr. Amrilmaen Badawi, MBiomedSc, mengingatkan masyarakat untuk selalu melakukan langkah sederhana dalam memverifikasi informasi: memeriksa sumber referensi, memastikan rujukan kredibel, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
"Dalam konteks kanker leher rahim, informasi yang benar membantu masyarakat memahami pentingnya pencegahan melalui imunisasi HPV dan deteksi dini," tutup dr. Amril, menegaskan komitmen MSD dalam menjaga ruang digital yang sehat dan terpercaya.
Editor : Siti Aeny Maryam