------------------------------
Mulyadi tengah bersiap ke Mataram saat penulis koran ini berkunjung ke art shop miliknya di Dusun Penakak, Desa Masbagik Timur, Kecamatan Masbagik. Namun lelaki berusia 48 tahun itu memilih meluangkan waktu beberapa puluh menit sebelum beranjak ke Lombok bagian barat.
Lombok Mulya Craft milik Mulyadi tak jauh berbeda dengan art shop lainnya di Penakak. Bedanya, kerajinan yang dihasilkan di sana nampak lebih variatif. Selain itu, ada juga galeri mutiara yang didesain sedemikian rupa untuk menarik minat pengunjung. Wabilkhusus wisatawan mancanegara.
Di beberapa art shop lainnya, terlihat dua orang pemandu wisata membawa wisatawan mancanegara berbelanja. Suasana seperti ini sudah tak asing bagi warga sekitar. Apalagi sebelum pandemi Covid-19. Di musim kunjungan wisatawan melonjak tinggi, tempat ini akan ramai dikunjungi turis.
“Ada yang datang sebagai pembeli perorangan atau untuk dirinya sendiri, ada juga yang datang sebagai pembeli borongan atau untuk dijual kembali di negaranya,” kata Mulyadi.
Lombok Mulya Craft sendiri ada sejak tahun 2010. Sepuluh tahun lebih berjalan, art-shop tersebut kini kian besar. Hampir semua jenis kerajinan dikerjakan. Namun dari dulu, jumlah pesanan yang mencapai ribuan akan selalu tertuju pada kerajinan klasik atau yang tidak disentuk inovasi. Seperti piring tanah liat, vas bunga, dan jenis gerabah klasik lainnya.
Mulyadi mengatakan kondisi art-shopnya saat ini menuju normal kembali. Di mana pesanan sudah mulai banyak. Pesanan tersebut berasal dari beberapa langganannya terdahulu dari beberapa negara. Namun yang paling banyak berasal dari Bali.
Pesanan yang mulai normal kembali menjadi kabar baik bagi perajin. Mulyadi sendiri mengambil barang dari ratusan perajin di sekitarnya. Menurutnya, semakin banyak pesanan, semakin menguntungkan bagi perajin. Satu perajin yang bekerja di rumahnya masing-masing dikatakan bisa menjual gerabahnya di art-shop mana saja.
“Jadi semakin banyak art-shopnya, sebenarnya semakin menguntungkan bagi perajin,” terang Mulyadi. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita