Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kebun Mini, Hidup Asri, Cuan Jadi, Urban Farming Bukan Hanya soal Panen

Lombok Post Online • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 12:54 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Fenomena urban farming mulai merebak di sejumlah kawasan perkotaan. Warga kota yang dulu hanya menjadi konsumen kini beralih menjadi produsen pangan skala kecil.

Dari hidroponik hingga polybag sederhana, berbagai teknik bercocok tanam dipraktikkan di lahan terbatas.

Selain menekan biaya belanja harian, kegiatan ini juga menghadirkan kesenangan baru sekaligus hasil panen yang bisa langsung dinikmati keluarga.

Srek, srek, srek, suara gesekan daun yang tersapu di pagi hari. Suara ayam, angsa, hingga merpati saling bersahutan merdu. Memasuki pekarangan rumah, aroma harum dedaunan terasa menenangkan.

Hawa sejuk dan rindang pepohonan menyejukkan suasana hati. Gemercik air kolam dan indahnya warna warni ikan mas dan koi juga turut memanjakan mata. Inilah pekarangan rumah Husnanidiaty Nurdin, pensiunan ASN Pemprov NTB di Ranjok, Lombok Barat, yang asri.

Eny, panggilan akrabnya, mulai memanfaatkan pekarangan rumahnya sejak tahun 1990. Awalnya, dia gunakan untuk beternak. Bagi mantan ASN di bidang pertanian ini, memanfaatkan lahan rumah bukan hanya sekadar hobi, melainkan gaya hidup yang menyehatkan dan dapat mengurangi beban pengeluaran sehari-hari.

“Sejak pindah ke sini tahun 1990, saya sudah mulai menanam sayuran, buah-buahan, dan memelihara ayam. Prinsipnya, kalau ada di pekarangan, kita bisa ambil kapan saja tanpa perlu keluar uang,” ujarnya.

Hewan pertama yang ia pelihara adalah ayam, kemudian berlanjut ke burung merpati. Bersamaan dengan itu, ia mulai menanam tanaman kebutuhan dapur seperti cabai dan sayur mayur.

Sementara untuk buah-buahan, ia menanam berbagai jenis pohon. Meski hasilnya baru bisa dinikmati setelah beberapa tahun. Ada pepaya, alpukat, durian, jambu, jeruk, pisang, hingga groso Bima.

Kini, pekarangan rumahnya dipenuhi aneka tanaman produktif. Ada pohon durian, manggis, mangga, duku, sawo, bahkan sukun. Beberapa di antaranya sudah berusia puluhan tahun.

Ia sempat menanam anggur, meski mengaku gagal karena sulitnya perawatan. “Dari enam pohon, hanya dua yang bertahan,” katanya sambil tertawa.

Manfaatkan Waktu Luang

Meski pernah memiliki asisten untuk membantu menyiram, Eny tetap turun tangan sendiri dalam perawatan tanaman. Setelah pensiun, ia semakin leluasa mengurus kebunnya, termasuk membuat pupuk kompos dari sisa daun dan batang pisang.

“Saya punya beberapa kontainer pupuk dan selalu siap untuk digunakan,” katanya.

Selain tanaman, ia juga memelihara ikan di kolam pekarangan. Mulai dari koi hingga ikan konsumsi. Menariknya, ia mengawinkan sendiri ikan-ikan tersebut. Hasil panen ikan-ikan ini dibagikan kepada teman maupun tetangga yang berminat.

Tak hanya menghasilkan buah dan sayur, pekarangan rumah Eni juga menjadi apotek hidup. Ia menanam berbagai jenis tanaman herbal seperti jahe, kunyit, kencur, sereh, hingga daun pace yang sering ia olah menjadi jamu.

“Saya bahkan jarang membeli sayuran di pasar, karena sebagian besar bisa dipetik langsung dari halaman rumah,” jelasnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Bunga pepaya, kecombrang, hingga ginseng pun tumbuh subur di halamannya. Semua bisa diolah menjadi masakan sehat yang menunjang gaya hidup alami. “Berat badan saya bahkan turun delapan kilogram hanya dengan menjaga pola makan dari hasil pekarangan,” tambahnya.

Bagi Eny, urban farming bukan hanya soal panen, melainkan juga menjaga kesehatan fisik dan mental. Setiap hari ia menyempatkan diri beraktivitas di bawah sinar matahari, membersihkan daun, mengganti media tanam, hingga mencincang sampah organik untuk kompos.

“Kalau tidak punya kegiatan, orang bisa cepat bosan. Tapi kalau ada aktivitas seperti ini, hidup terasa lebih happy. Kuncinya ikhlas dan dinikmati,” ujarnya.

Meski sudah pensiun, Eny masih aktif di berbagai organisasi seperti KONI, Pramuka, hingga kegiatan pensiunan. Namun, kebun kecilnya tetap menjadi tempat ia menyalurkan energi positif.

Baginya, urban farming adalah solusi sederhana untuk mengurangi biaya hidup, sekaligus menjaga kesehatan keluarga. “Kalau bisa ditanam sendiri, kenapa harus beli? Yang penting semua yang kita tanam harus bisa dimanfaatkan. Kalau tidak buahnya, ya daunnya,” tandasnya.

Alternatif saat Pandemi

Selain Eny, urban farming juga Wibisono, warga Mataram. Aktivitas ini mulai dilakukan saat pandemi covid melanda. Hal itu membuat banyak sektor usaha terpukul, termasuk usaha travel yang dijalaninya.

Dari sinilah awal mula kebun hidroponik miliknya lahir. "Saat itu tidak ada pemasukan sama sekali. Jadi saya mulai cari kegiatan harian yang bermanfaat," tutur pria yang akrab disapa Wibi ini.

Selain untuk mengisi waktu luang, Wibi juga mempersiapkan hidroponik ini sebagai kegiatan pasca pensiun untuk sang ayah jadi PNS. Dengan lahan sempit di pekarangan rumah, ia mulai mencoba budi daya selada hidroponik.

Awalnya hanya untuk konsumsi pribadi. Namun, setelah lima tahun berjalan, hasil kebun selada hidroponik ini justru melimpah. “Kebanyakan, untuk sehari-hari kita sudah kelebihan,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak mau sayuran terbuang, Wibi mulai menjual sebagian hasil panennya ke pasar tradisional hingga beberapa supermarket lokal di Kota Mataram. Kebun kecil yang dulunya hanya proyek iseng saat pandemi, kini menjadi salah satu penyumbang penghasilan baru bagi keluarga.

Lebih dari itu, hasil panen selada hidroponik milik Wibi bahkan sudah mendapat pengakuan resmi. Kebunnya mendapat sertifikasi produk prima dari Pemerintah Kota Mataram, khusus untuk selada hidroponik yang ia budidayakan.

BERSIHKAN SAMPAH: Husnanidiaty Nurdin tengah membersihkan daun kering yang jatuh dalam kolam ikan peliharaannya.
BERSIHKAN SAMPAH: Husnanidiaty Nurdin tengah membersihkan daun kering yang jatuh dalam kolam ikan peliharaannya.

Kini, berkebun dengan sistem hidroponik telah menjadi rutinitas baru bagi orang tuanya yang sudah pensiun. Selain menyehatkan, kegiatan ini juga mempererat hubungan keluarga. Dari kegagalan usaha travel saat pandemi, Wibi berhasil menyulap tantangan menjadi peluang baru lewat budi daya selada hidroponik yang berkelanjutan.

Di tempat berbeda di Lombok Utara juga ada yang melakukan hal serupa. Dia adalah Lalu Reza Aji Zarkasi, 27 tahun. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Urusan Umum (Kaur Umum) Desa Sokong, Kecamatan Tanjung ini berhasil menyulap pekarangan rumahnya menjadi pusat budi daya aneka varietas buah-buahan.

Mulai dari jambu kristal, durian, alpukat, hingga sawo raksasa memey sapote. Semua tanaman ini kini tumbuh subur di sana dan menjadi ladang cuan hingga jutaan rupiah.

Jadi Ladang Bisnis

Lalu Reza bercerita, bisnis bibit tanaman ini telah ia geluti sejak tahun 2019. Berawal dari hobinya menanam sejak kecil. Dia kemudian mengembangkan ide untuk mulai mencangkok pohon buah-buahan, yang akhirnya berkembang menjadi peluang usaha menjanjikan.

"Iya karena hobi, jadi semakin senang menjalankannya," ujarnya.

Lalu Reza memulai usahanya tanpa modal awal yang besar. Namun, kini ia bisa meraup untung Rp 5-7 juta per bulan dari bisnis jual bibit tanaman ini. Peminatnya pun tak hanya datang dari sekitar Lombok Utara, melainkan juga dari luar daerah, bahkan hingga Pulau Jawa.

"Alhamdulillah, selalu saja ada pembeli. Terakhir kemarin, saya kirim pesanan ke Tangerang," sambungnya. (fer/van/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#Mataram #pekarangan rumah #hidroponik #gaya hidup #urban farming