Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Action Figure dan Diecast Tak Lagi Mainan, Kini Jadi Simbol Prestise dan Identitas

Jay • Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:02 WIB
Sosiolog Universitas Mataram Dwi Setiawan Chaniago
Sosiolog Universitas Mataram Dwi Setiawan Chaniago

 

LombokPost- Hobi mengoleksi action figure dan diecast kini tidak lagi sekadar aktivitas mengumpulkan mainan. Di tengah perkembangan budaya konsumsi modern, action figure dan diecast telah bertransformasi menjadi simbol identitas, prestise, hingga gaya hidup yang semakin populer di kalangan masyarakat urban.

Fenomena meningkatnya minat terhadap action figure dan diecast menunjukkan bahwa aktivitas koleksi tidak lagi dipandang sebagai hobi biasa. Dibalik setiap koleksi yang dipajang, tersimpan nilai emosional, kebanggaan, hingga pengakuan sosial yang melekat pada pemiliknya.

Sosiolog Universitas Mataram (Unram) Dwi Setiawan Chaniago menjelaskan, dalam perspektif sosiologi konsumsi, praktik mengoleksi action figure dan diecast merupakan bagian dari cara masyarakat urban membangun identitas diri melalui selera, preferensi, dan simbol yang mereka miliki.

Baca Juga: Sehari Jadi Mahasiswa Kedokteran, FK Universitas Bumigora Buka Open House Gratis untuk Siswa SMA

Menurutnya, identitas masyarakat modern saat ini cenderung bersifat dinamis. Banyak individu membangun citra diri melalui koleksi yang dimiliki untuk menunjukkan karakter sekaligus membedakan diri dari kelompok lain yang memiliki minat berbeda.

“Semakin langka koleksi yang dimiliki, semakin tinggi pula nilai simbolik yang melekat. Di situlah muncul unsur pembeda atau distingsi yang kemudian menjadi bagian dari prestise pemiliknya,” ujarnya.

Koleksi action figure dan diecast yang berstatus rare, edisi terbatas, atau memiliki nilai historis sering kali menjadi incaran para kolektor. Tidak sedikit yang rela berburu dalam waktu lama demi mendapatkan item tertentu. Semakin sulit diperoleh, semakin tinggi pula kebanggaan yang dirasakan saat berhasil memilikinya.

Baca Juga: Kini Giliran Ariel Noah Angkat Suara Terkait Kasus Yang Menimpa Lesti Kejora, Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Namun, aktivitas koleksi tidak hanya berkaitan dengan nilai ekonomi atau eksklusivitas. Dibaliknya terdapat unsur afeksi yang kuat. Banyak kolektor mengaitkan koleksinya dengan kenangan masa kecil, karakter favorit, hingga bentuk ekspresi diri yang memberikan kepuasan emosional.

Dalam banyak kasus, hobi mengoleksi action figure dan diecast bahkan berkembang menjadi sarana self reward. Aktivitas tersebut dianggap mampu membantu mengurangi tekanan hidup, menghadirkan rasa nyaman. Sekaligus memenuhi kebutuhan emosional ditengah ritme kehidupan perkotaan yang semakin kompetitif.

“Bagi sebagian orang, mengoleksi sesuatu menjadi ekspresi afektif yang penting untuk keluar dari tekanan dan ritme kehidupan urban yang penuh tantangan,” kata Dwi.

Baca Juga: Satu Sepeda Sejuta Cerita, Bukan Sekadar Hobi Kisah I Made Adiyasa Dari Road Bike Hingga Jaringan dan Lifestyle

Selain faktor personal, perkembangan hobi koleksi juga tidak lepas dari peran komunitas.

Komunitas kolektor menjadi ruang bertemu, berbagi pengalaman, berdiskusi, hingga melakukan transaksi atau pertukaran koleksi.

Melalui komunitas, aktivitas mengoleksi berkembang menjadi pengalaman sosial yang lebih luas.

Berbagai kegiatan seperti gathering, hunting, pameran, trade koleksi, hingga pembuatan konten digital turut memperkuat eksistensi hobi tersebut di tengah masyarakat.

Disisi lain, pasar juga memainkan peran besar dalam mendorong pertumbuhan tren action figure dan diecast.

Berbagai strategi seperti peluncuran edisi terbatas, limited edition, blind box, hingga produk anniversary sengaja dihadirkan untuk menciptakan kelangkaan dan meningkatkan daya tarik kolektor.

Baca Juga: Sensatia Hadirkan Lip Balm Collection dengan Formula Vegan

Tidak hanya itu, media sosial turut mempercepat perkembangan budaya koleksi.

Konten unboxing, fotografi action figure, review diecast, hingga pameran koleksi pribadi kini menjadi tontonan yang menarik perhatian publik.

 Kepemilikan koleksi tidak lagi berhenti pada aktivitas membeli, tetapi juga dipamerkan, dikurasi, dan memperoleh validasi sosial dari komunitas maupun pengikut di dunia digital.

Fenomena action figure dan diecast menunjukkan bagaimana identitas, afeksi, komunitas, dan budaya konsumsi saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat urban.

Apa yang dahulu hanya dianggap sebagai mainan kini telah berkembang menjadi simbol prestise, ruang ekspresi diri, sekaligus sarana membangun relasi sosial.

Pada akhirnya, hobi action figure dan diecast menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, manusia tetap membutuhkan ruang untuk terhubung dengan kenangan, komunitas, dan hal-hal yang memberi makna emosional dalam kehidupannya.

Editor : Kimda Farida
#diecast #action figure #kolektor action figure #kolektor diecast #simbol prestise