RIUH rendah suara-suara. Membaur dari seruan para pedagang, tawaran pembeli, hingga ringkikan kecil kuda-kuda.
Menyusuri lorong-lorong pasar Dasan Agung yang masih menyisakan hawa dingin. Setelah malam yang panjang di jantung ibu kota, Mataram.
"Silakan pak, ikannya," sapa seorang wanita penjual ikan, pada Lombok Post, Minggu (10/9).
Ia dengan senang memamerkan ikan-ikan segar yang dijualnya. Dari ikan sebesar kelingking hingga paha orang dewasa.
Tapi yang membuat pasar itu berbeda dengan kebanyakan pasar lain, tak ada bau busuk menyengat. "Selesai jualan, langsung dibersihkan sebersih-bersihnya pak," sahut seorang pedagang.
Aneh saja masuk di pasar sesegar itu. Walaupun belum bisa pula disebut sehigenis supermarket. Tetapi untuk kelas pasar tradisional, tidak mudah membuat para pedagang kompak menjaga suasana nyaman.
"Walau ada bau amis, tapi tidak mual kan?" sahut pedagang lain.
Lombok Post kemudian menyusuri lorong-lorong pasar. Memperhatikan detail sudut-sudutnya. Nyaris tak ada sampah yang berserakan.
Begitu pula di lantai dua. Hiruk pikuk aktivitas pedagang sayuran tak membuat lorong pasar menjadi berantakan. "Cari apa pak?" sapa seorang pedagang dengan segera.
Satu tahun lalu. Di bulan yang sama, September 2022. Pasar Dasan Agung dengan bangga mengangkat sertifikatnya: Standar Nasional Indonesia (SNI).
Tentu ini penghargaan prestisius. Jarang-jarang pasar tradisional bisa meraih sertifikat ini.
"Ada sekitar 50 item yang harus kami penuhi untuk dapat sertifikat SNI," kata Kepala Pasar Ahmad Amin.
Amin mengembuskan nafasnya. Membumbungkan asap mengepul dari mulutnya. Tatapannya menerawang, menata ingatan.
Di tahun 2022 itu ia dan teman-temannya bekerja keras mengejar sertifikat SNI itu. Cita-cita yang ingin digapai sejak pertengahan 2018 silam.
"Hanya empat bulan persiapan kami," kenangnya.
Meski demikian, Amin mengatakan peran Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Uun Pujianto tak tergantikan di balik capaian membanggakan itu. "Berkat arahan dan bimbingan beliau," tekannya berulang-ulang.
Kini satu tahun sudah usia sertifikasi itu. Namun semangat Amin dan sekitar 200 pedagang tak lelang menjaga pasar untuk tetap bersih dan segar.
Ia selalu mengatakan pada para pedagang agar menjaga kebersihan lapak dan lingkungannya. "Saya bilang ke mereka rawat pasar ini seperti ibu-ibu merawat wajah Anda yang kinclong. Jangan cuma wajah saja yang dirawat tetapi lapak berantakan," ujarnya.
Amin menegaskan tanggung jawabnya memastikan pasar itu sesuai standar SNI. "Pasar ini ada di antara ikon NTB Islamic Center dan Bank NTB, dua bangunan yang megah. Jadi pasarnya harus terawat dengan baik juga," terangnya.
Pekan lalu, tim dari Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Selatan berkunjung ke pasar itu. Mereka ingin tahu seperti apa pasar ber-SNI.
"Alhamdulillah mereka memuji pasar kami," kisahnya.
Ukuran kenyamanan itu salah satunya dari los pasar ikan tadi. "Mereka bilang betah di situ," imbuhnya. (bersambung)
Editor : Redaksi Lombok Post