ZERO mistike. Sebuah doktrin yang maha berat. "Dan bikin tegang," ungkap I Nengah Sudarita, menceritakan bagaimana perasaannya pertama kali menyentuh mic siaran RRI yang sakral itu.
Tentu saja, sakral dan agung. Mic itu melempar suara seorang penyiar ke seluruh pelosok negeri. Dan menghipnotis para pendengarnya sebagai suara-suara kebenaran yang tak bisa dibantah atau didebat!
"Walaupun tegang tetapi tegang yang membuat kita mawas diri agar terhindar dari kesalahan sekecil pun," terangnya.
Maka agar kesalahan itu tidak terjadi, seorang penyiar tidak hanya dituntut punya suara yang berwibawa dan tegas. Setegas sabda pandita ratu.
Tetapi harus bisa menulis naskah. "Itu wajib," tekannya.
Buku harian kosong di meja penyiar harus terisi. Tentu dengan kalimat-kalimat yang akan dibacakan saat bertugas di depan mic RRI.
"Jadi nggak ada kata-kata spontan, semua sudah harus tertulis dan tertata dengan baik," katanya.
Maka masuk akal, doktrin zero mistake penyiar radio RRI itu. Mereka hanya tinggal membaca tulisan dan melafazkannya dengan penuh penjiwaan dan rasa tanggung jawab.
"Saya termasuk yang cepat menerima kepercayaan membaca berita, sebab ada juga walaupun sudah 6 bulan, belum mendapat tugas baca cerita," kisahnya.
Tugas terberat lainnya menjadi penyiar RRI adalah saat membawakan acara pada pukul 24.00 sampai pagi hari. Di waktu itu, penyiar radio tidak hanya dituntut memiliki suara berwibawa nan tegas.
Tetapi punya kelapangan hati. Seluas masalah yang dihadapi para pekerja malam yang menumpahkan keluh kesahnya pada penyiar.
Di waktu dini hari. Di puncak kantuk. Di saat pelupuk mata rasanya ditimpuki tepung. Pedih dan perih!
"Segala macam karakter orang kita layani. Mulai dari perawat, satpam, petugas hotel, semua nelpon dan curhat masalahnya. Belum lagi orang yang depresi atau kesepian. Tetapi nada suara tetap berwibawa dan mengayomi," tuturnya.
RRI menjadi wadah keluh-kesah. "Bahkan kalau bisa, menjadi penyembuh duka lara pendengar kita," jelasnya.
RRI sendiri. Mengudara dan melayani. Di saat stasiun radio lain, penyiarnya telah bermimpi berkali-kali.
"Kita di jam itu menjadi raja, menjadi pilihan satu-satunya pemirsa radio, semua berlomba-lomba menelepon. Telepon tidak pernah berhenti berdering," kenangnya.
Namun semua itu tinggal kenangan. Kesibukan yang mendera-dera melayani telepon tinggal cerita. Rakyat Indonesia lebih sibuk dengan smartphonenya yang bisa memberi hiburan nyaris tanpa batas.
"Ada satu," ungkap Nengah Sudarita saat menjawab pertanyaan Lombok Post kenangan apa yang tak akan pernah bisa dia lupakan.
Kala itu pemerintah sedang mengadakan pameran pembangunan. Stan-stan pembangunan berdiri dalam satu tanah lapang yang luas. RRI sebagai satu-satunya media penyiaran mendapat tugas melaporkan jalannya pameran.
Kala itu, tak ada live report Facebook seperti saat ini. Jangankan membayangkan media sosial, internet pun menjadi hal gaib yang tak pernah terbersit dalam benak siapapun.
Teknologi televisi saja masih hitam-putih dan sebatas menyiarkan video dari rekaman kaset kotak sebesar batu bata.
"Salah satu stan itu dipakai RRI sebagai studio mini untuk live report," kisahnya.
Kontan saja, studio mini RRI itu diserbu. Dijejali orang-orang yang diliputi rasa ingin tahu. Mereka ingin tahu, seperti apa rupa wajah pemilik suara yang selama ini terdengar dari balik radio.
"Dan saya tiba-tiba dipercaya mendapat tugas untuk live report," ungkapnya.
Tegang, panik, namun bangga. Bercampur aduk menjadi satu. Bagaimanapun itu adalah pengalaman pertama yang sangat berat bagi Nengah Sudarita. Ia terbiasa 'sembunyi' di balik studio yang tak terjangkau mata para pendengar.
Tetapi kini harus berdiri menghadap orang-orang yang penuh sesak dengan sorot mata tajam. Seakan tak ingin melewatkan satu detik momen pun dari versi live report itu.
"Ada grogi karena tidak pernah punya pengalaman nge-MC," tuturnya.
Nengah Sudarita berusaha keras menjawab kepercayaan itu. Namun yang didapat ternyata kritikan yang sangat sulit dilupakannya hingga saat ini. "Pimpinan saya marah lalu bilang 'kamu pegang mic seperti orang mati'," tuturnya mengulangi ucapan pimpinannya.
Itu menjadi kritikan terpedas yang sangat telak baginya. Dilontarkan di hadapan banyak orang yang penuh sesak dan menuntut penampilan sempurna seorang penyiar radio RRI.
Sebenarnya kata-kata itu biasa saja andai diucapkan di dalam ruangan yang hanya ada dirinya dengan pimpinan. Namun dikatakan di depan banyak orang di saat RRI begitu agung dan bermartabat di alam pikiran para pendengar.
"Tapi saya tidak menyalahkan beliau, bagaimanapun kritikan itu telah menjadi cambuk untuk membuat saya menjadi penyiar radio yang dituntut bisa semuanya. Menjadi lebih hebat lagi," ujarnya.
Ekspektasi tinggi para pendengar radio harus bisa dijawab lebih baik lagi. "Harus bisa, tidak ada istilah tidak bisa. Sekalipun tidak pernah belajar ataupun punya pengalaman menjadi MC," tuturnya. (Bersambung)