LombokPost-Polresta Mataram telah mengidentifikasi sejumlah tempat pemungutan suara (TPS).
Total ada 105 TPS di wilayah hukumnya yang masuk dalam potensi rawan, termasuk Kota Mataram.
Terkait persoalan itu, Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengimbau kepada masyarakat menghargai perbedaan pilihan.
”Harus sama-sama kita jaga kondusivitas,” imbau Mohan.
Menjaga kondusivitas sangatlah penting. Demi kelancaran pesta demokrasi.
”Demokrasi harus berjalan baik,” kata dia.
Menurut Mohan, tidak hanya penyelenggara pemilu, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), aparatur dan pemerintah yang memiliki tanggung jawab itu.
”Kita harus tanamkan dalam diri, tetap menjaga kondusivitas adalah kewajiban,” kata pria nomor satu di Kota Mataram itu.
Mohan yakin, masyarakat Kota Mataram sudah dewasa berdemokrasi. Sama-sama saling menghargai pilihan.
”Masyarakat bakal memilih dengan hati nuraninya. Bisa saling menghormati satu sama lain meskipun berbeda pilihan,” kata dia.
Masyarakat diminta tidak terpengaruh dengan isu yang belum tentu kebenarannya. Cek sebelum men-share pemberitaan di media sosial. ”Harus sama-sama bisa menahan diri.
Agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain,” ujarnya.
Terpisah, Kapolresta Mataram Kombes Pol Ariefaldi Warganegara mengungkapkan jumlah yang berpotensi rawan itu sudah dipetakan.
Tim sudah turun menjalankan program cooling system.
”Kita lakukan kegiatan preemtif dan preventif di 105 TPS,” kata dia.
Untuk mengantisipasi di kawasan TPS rawan itu, Polresta Mataram juga di backup anggota dari Polda NTB.
“Jumlah yang diturunkan Polda NTB mencapai 107 personel,” kata dia.
Polresta Mataram juga melibatkan sejumlah stakeholder lain. KPU dan Bawaslu serta peran serta masyarakat.
”Seperti, tokoh masyarakat, pemuda, dan organisasi lainnya,” jelasnya.
Ariefaldi mengimbau masyarakat harus dewasa berdemokrasi. Saling menghargai perbedaan pilihan.
”Jangan sampai kita terpecah hanya karena berbeda pilihan,” ungkapnya. (arl/r3)
Editor : Kimda Farida