SELAIN menggelar pertunjukan wayang, perwakilan Sekolah Pewayangan Wayang Sasak (SPWS) hadir di Beijing, China rupanya atas undangan CRIHAP. Sebuah lembaga Pusat Pelatihan Internasional Warisan Budaya Tak benda di Kawasan Asia-Pasifik di bawah naungan UNESCO.
“SPWS terpilih menerima sertifikat dari CRIHAP sebagai salah satu dari 27 lembaga se Asia Pasifik yang dinilai telah melakukan upaya penyelamatan Kekayaan Budaya Tak Benda (ICH),” tutur Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak Abdul Latief Apriaman.
Secara khusus sebanyak tiga orang yang mendapat undangan menghadiri acara tersebut. Masing-masing Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak Abul Latief Apriaman, Pendiri Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Fitri Rachmawati, dan Kepala Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Ki dalang H Safwan.
Selain perwakilan lembaga penerima sertifikat, perhelatan itu juga dihadiri sejumlah fasilitator untuk Kekayaan Budaya tak benda UNESCO. “Yang hadir dari beberapa negara seperti Afrika, Brasil, Thailand, Korea, Jepang, berikut Direktur dan staf CRIHAP selaku tuan rumah acara,” jelasnya.
Jelas. Ini sebuah penghargaan atas kerja luar biasa SPWS melestarikan budaya Sasak. Di tengah gempuran berbagai hiburan modern beraneka bentuk, eksistensi mereka telah mampu menjadi benteng kokoh untuk warisan budaya dari leluhur suku Sasak.
“Bagi SPWS, perolehan sertifikat ini adalah sebuah kehormatan, dan buah dari upaya pelestarian dan pengembangan wayang Sasak yang sudah sembilan tahun dijalankan sejak berdiri pada 29 Maret 2015 silam,” ungkapnya.
Latief mengungkapkan tantangan dan rintangan silih berganti datang untuk menguji keteguhan SPWS melestarikan wayang kulit. Begitu pula dalam kreasi mereka untuk memperkaya khazanah pewayangan dengan mengadirkan wayang botol.
“ Tentu saja pengakuan itu bakal menjadi penyemangat untuk kerja-kerja selanjutnya,” tekadnya.
Latief mengatakan, SPWS akan terus konsisten dengan program-programnya ingin menjaga agar wayang Sasak tetap lestari. “Agar kita tidak hilang jejak,” ucapnya.
Suara Latief kemudian tenggelam dalam alunan gamelan wayang kulit yang ditabuh di sekretariat SPWS. Lokasinya di jalan Salahudin, Kelurahan Tanjung Karang, Kota Mataram.
Seperti lazimnya sebuah tempat para seniman berkumpul sekretariat itu sangat khas dengan alat musik tradisionalnya. Walaupun di sana terdapat juga alat musik modern.
“Baru kemarin kami balik dari Beijing,” ucapnya kemudian. (Lalu Mohammad Zaenudin/bersambung/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post