LombokPost-Bertelanjang dada, Harun menatap gelombang pasang mengamuk. Tubuhnya yang kekar tak berdaya di hadapan gulungan ombak pantai yang menggelegar, menggetarkan bumi.
Ia menarik nafas dalam, menghelanya perlahan. “Baru tahun ini, separah ini,” lirihnya, Kamis (19/12).
Ia mengalihkan pandangannya ke jalan aspal di depannya. Retakan di jalan itu bukti, betapa dahsyat ombak memporak-porandakan bibir pantai Kampung Bugis.
Begitu juga dari rumah yang luluh lantak dan ditinggalkan mengungsi penghuninya.
Sekali lagi, Harun menarik nafas. Ombak di depannya seperti mimpi buruk yang harus dilakoni 3-4 bulan ke depan.
“Padahal ini baru awal-awal,” ungkapnya.
Harun adalah satu dari belasan warga yang berdiri di bibir pantai Kampung Bugis. Berdiri dengan cemas melihat gelombang pasang yang semakin tinggi.
Sesuai siklus, jam 2 siang waktunya air pasang. Tapi air pasang kali ini sangat mengerikan.
Mereka tak bisa berbuat apapun kecuali waspada kalau-kalau ombaknya semakin menggila. “Ombaknya sedang ‘belajar’ naik,” lirihnya dalam bahasa Sasak.
Dalam perhitungan bulan atas -- kalender lunar -- ombak pasang tinggi ini diperkirakan berlangsung hingga bulan April.
“Sekarang ini, ombak tinggi masih karena pengaruh angin barat, nanti kemudian diganti angin utara,” jelasnya.
Dua angin ini sama-sama ngeri. Sama-sama membuat ombak mengganas.
“Kalau angin barat, ini dampaknya. Ombaknya datang dari tengah menggulung tinggi dan menghempas ke pantai,” terangnya.
Sedangkan ombak utara, menggulung ombak bergerak melintang.
“Dengan ombak seperti itu, dampaknya dapat mengiris bagian dasar pantai, sehingga abrasi lebih cepat,” ucapnya.
Seperti dikatakan, dampak dua siklus angin ini sama bahayanya. Sama merugikannya.
“Kita nelayan tidak ada yang berani turun. Bukan hanya karena ombak yang berbahaya, ikan juga sedikit,” jelasnya.
Harun bingung, mengantisipasi ombak pasang itu. Rumahnya memang bukan yang terdepan saat ini berhadapan dengan gelombang pasang.
“Rumah saya masih jarak tiga rumah ke belakang,” jelasnya.
Tapi bila melihat sudah banyak rumah ‘tertelan’ abrasi lebih dulu, maka rumahnya hanya menunggu waktu saja. Tunggu giliran.
“Dulu di sana (menunjuk arah ke tengah pantai, Red) ada rumah, tapi sekarang sudah tersapu ombak,” tuturnya.
Lalu dengan nada masygul Harun bergumam. “Apa pemerintah akan dibiarkan ini ya pak?” lirihnya.
Tak menemukan jawaban, nada Harun berubah pasrah. Jika waktu itu tiba, di mana giliran rumahnya berhadapan dengan ombak pasang, ia ingin memastikan benar-benar sudah siap.
“Mau (mengungsi) ke mana lagi, tak ada pilihan ya harus dihadapi. Saya ingin ketika saat itu tiba, saya sudah mengumpulkan anak-anak, apapun yang terjadi setelahnya saya ikhlas,” ungkapnya dalam, masih dalam bahasa Sasak.
Menanti Jeti, Menggantang Asap
Slamet Riyadi, mengungkapkan kecemburuannya pada pesisir pantai Kampung Melayu. Di sana terpasang Jeti atau batu pemecah ombak.
Sehingga ketika tiba siklus angin kencang, mereka tenang saat ombak pasang datang malam-malam.
“Seperti yang di Kampung Melayu itu, mereka dipasangkan batu-batu (Jeti, Red), jadi mereka aman kalau ada ombak pantai yang besar,” ucapnya.
Namun Riyadi terdiam, ketika koran ini menggambarkan biayanya. Ia tak pernah melihat seperti apa tumpukan uang puluhan miliaran hingga ratusan miliar rupiah untuk membuat Jeti itu.
“Iya,” lirihnya, pasrah.
Pembuatan jeti ini memang tentang political will pemerintah.
Jika pemerintah berani memangkas proyek strategis di tengah-tengah kota biaya pembuatan jeti itu bisa saja tercukupi.
Tapi membuat Jeti adalah proyek tak populis. Tak ada dampak elektoral menggiurkan dengan menyelamatkan nasib puluhan hingga ratusan warga di pesisir pantai, dibanding proyek mercusuar di tengah kota.
Warga Kampung Bugis membutuhkan pemimpin bernyali. Punya tekad seteguh batu karang, menolong warganya yang tak berdaya.
“Iya,” ucap Riyadi, lagi-lagi menyetujui ini.
Menghadang Gelombang dengan Sujud
Di antara deretan rumah yang menjadi ‘benteng’ air pasang, terdapat satu rumah Ibadah berdiri di muka. Dulu, air laut begitu jauh dari musalla Nurul Huda.
Baca Juga: Jumlah Cagar Budaya Berpotensi Bertambah, Dikbud Lotim Lakukan Kajian Bersama Tim Ahli Cagar Budaya
Tapi kini, jarak yang tersisa sekitar dua meter dari bibir pantai. “Kena (air pasang) juga (Musalla),” ucap Riyadi.
Dari sekian pintu yang diketuk dimintai tolong tersisa saat ini hanya pintu Musalla. Bagi Riyadi dan warga lain, rumah ibadah itu menjadi harapan terakhir memohon datangnya pertololongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Kaya.
“Kami berdoa, semoga para pemimpin dibukakan hatinya melihat nasib kami,” lirihnya.
Riyadi paham, pemerintah pusing mengatur anggaran yang sedikit untuk dibagi rata membangun seluruh wilayah kota.
Tapi kali ini saja, melalui pintu Musalla, mereka berharap tak ada warga kota yang sakit hati atau cemburu hanya karena kampungnya dibangunkan Jeti.
“Pasti butuh biaya besar, tapi semoga ada jalan dan keikhlasan,” harapnya lagi.
Dalam sujud, ia bercerita isi doanya, semoga orang-orang baik datang menolong mereka.
“Rumah saya paling belakang (di Kampung Bugis), tapi baru kali ini air pasang sampai ke halaman rumah,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning telah melihat langsung kerusakan jalan aspal di Kampung Bugis.
“Iya, kami sudah lihat dari kemarin di sana,” katanya.
Sebagai penanganan tahap awal, tim membangun tanggul dari karung-karung berisi pasir. Karung pasir ini diharapkan jadi tanggul sementara sampai siklus gelombang pasang tinggi berlalu.
Baru setelah keadaan relatif normal, pihaknya akan membangun tanggul penahan gelombang pasang.
“Yang jelas tanggul dulu yang kita tangani,” ucapnya.
Pihak masih menghitung berapa kebutuhan biaya yang diperlukan membangun tanggul.
Namun ditaksir cukup besar karena harus dapat menjadi sabuk pengaman pemukiman yang terdampak gelombang pasang.
“Masih kita hitung, (tanggul dipasang pada wilayah) yang terkena dampak aja dulu. Inipun kita revisi anggaran di tempat yang lain,” ungkapnya.
Setelah semua tanggul terpasang barulah pihaknya mempertimbangkan lagi perbaikan jalan yang rusak.
“Mungkin kita bertahap nanti (penanganannya),” ucapnya.
Pembuatan tanggul ini menjadi langkah strategis pemerintah menangani abrasi parah di Kampung Bugis.
“Karena di rencana penganggaran kemarin (pembuatan tanggul) ini, belum muncul,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida