Sebelum fondasi ditemukan, tim dari BRIN pernah datang dan mempertanyakan lokasi monumen Perang Lombok. Hanya saja karena ‘ditelan bumi' mereka pulang dengan tangan hampa.
Mataram
GUGURNYA panglima kedua Mayor Jendral PPH Van Ham dalam Perang Lombok episode 1 pada malam 25 Agustus 1894 membuat pihak pemerintah Hindia Belanda terluka dan murka. Jendral Panglima Mayor Jendral Jacobus Augustinus Vetter yang selamat akhirnya merencanakan pembalasan pada kerajaan Mataram-Bali yang telah merenggut nyawa sahabatnya.
Perang Lombok episode 2 yang dideskripsikan sebagai pembalasan Belanda atas penyerangan tiba-tiba Kerajaan Mataram-Bali, pecah pada 8 November 1894. Belanda secara sistematis menembakkan meriam ke posisi pasukan Mataram-Bali di Cakranegara.
“Meriam itu meluluhlantakkan istana, menewaskan sekitar 2000 pasukan Mataram-Bali,” tutur Bunyamin, kurator yang juga Tenaga Ahli Permuseuman NTB.
Di pihak Belanda juga muncul korban jiwa tapi dengan jumlah yang lebih sedikit. Catatan menulis total pasukan Belanda yang tewas sebanyak 166 orang.
“Pada akhir November 1894 Belanda telah menaklukkan perlawanan pihak kerajaan Mataram-Bali dengan jumlah yang tewas ribuan, menyerah, setelah melalui perlawanan puputan,” paparnya.
Penaklukkan itu meneguhkan kekuasaan Belanda dan menyolidkan Karangasem dan Lombok menjadi satu wilayah dengan pusat pemerintahan di Bali. Gusti Gede Jelantik kemudian diangkat menjadi regen Belanda di tahun tersebut.
Dari perang itu, konon Belanda berhasil merampas harta kerajaan terdiri atas 230 kilogram emas, 7.ooo kilogram perak, dan karya sastra. “Pemerintah Belanda kemudian membangun monumen untuk mengenang peperangan dahsyat November 1894. Monumen ini dinamai monumen Perang Lombok yang fondasinya saat ini telah ditemukan,” tekannya.
Bunyamin memperkirakan, monumen itu dibangun sekitar akhir tahun 1894 atau awal tahun 1895. “Tidak mungkin langsung dibangun seusai perang, perkiraan saya penghujung tahun atau awal tahun berikutnya,” ucapnya.
Monumen itu berdiri tepat di lokasi yang menjadi pusat peperangan. Lokasi yang dulunya dikenal sebagai Kebon Raja.
“Di situlah pusat kerajaan Mataram-Bali,” paparnya.
Dari foto dokumen yang ada, (lihat gambar, Red) ukuran monumen berikut fondasinya terlihat menjulang besar dan tinggi. Bunyamin memperkirakan bila dilakukan penggalian kemungkinan bentuk fondasi aslinya akan semakin jelas.
“Kalau dalam proses pencarian yang dilakukan arkeolog, teorinya harus dilakukan penggalian ke utara, selatan, timur, dan barat, masing-masing sepanjang dua meter untuk menelusuri artefak atau bagian yang lain,” ucapnya.
Menurutnya sangat perlu memperjelas apakah di sekitar fondasi masih tersimpan sisa reruntuhan monumennya. “Atau antara monumen dengan fondasinya telah dipisahkan,” ucapnya.
Kemungkinan di monumen ada plakat yang di dalamnya tertera nama-nama prajurit yang gugur. Bagi Bunyamin sangat penting merekonstruksi kembali bentuk monumen untuk memperjelas kembali sejarah perjalanan pulau Lombok ini dari masa ke masa.
Ada hal yang menarik terjadi sebelum fondasi monumen Perang Mataram ini ditemukan pekerja bangunan. Beberapa bulan yang lalu telah datang ke Museum NTB pihak dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menanyakan lokasi Monumen Perang Lombok.
“Tapi karena saat itu kita tidak tahu letaknya (masih terkubur dalam tanah), akhirnya kami hanya bisa menunjukkan tugu Gogo Rancah, tugu batu yang ada di taman Udayana,” ucapnya.
Usia tugu ini relatif lebih muda karena diresmikan mengiringi keberhasilan menjadikan NTB sebagai Bumi Gora tahun 1988. Terpaut hampir seratus tahun atau lebih tepatnya 94 tahun dengan Monumen Perang Mataram.
Namun uniknya seperti tahu ‘dirinya' tengah dicari, monumen ini secara tak sengaja ditemukan pekerja bangunan yang tengah memperbaiki taman kawasan kantor Gubernur NTB. “Mungkin sudah saatnya sejarah tentang Lombok dibuat lebih terang lagi, dengan kemunculan fondasi monumen itu,” pungkasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post