Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita di Balik Meja Kontrol SD 52 Cakranegara: Sortir Menu MBG Tak Layak Dikonsumsi

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 15 April 2025 | 19:13 WIB
BERTUTUR: Kepala Sekolah SDN 52 Cakranegara Mariani dan Petugas TU Ipan mengenai insiden menu MBG tak kayak konsumsi, Selasa (16/4/2025).
BERTUTUR: Kepala Sekolah SDN 52 Cakranegara Mariani dan Petugas TU Ipan mengenai insiden menu MBG tak kayak konsumsi, Selasa (16/4/2025).

 

LombokPost—Seperti hari-hari biasanya, suasana di SD Negeri 52 Cakranegara penuh dengan keceriaan anak-anak. Sekolah ini berdasarkan laporan wali murid, sehari sebelumnya, mendapat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga basi.

Media ini, meminta waktu berbincang dengan Kepala Sekolah (Kepsek) Mariani, terkait laporan tersebut. “Begitu kotak-kotak itu datang, langsung kita kontrol. Kita tidak mau langsung bagi ke anak-anak,” tuturnya, Selasa (15/4/2025).

Ia menekankan, sudah menjadi kebiasaan di sekolahnya, sebelum makanan dibagikan, satu atau dua sampel dibuka terlebih dahulu. Tim kecil terdiri dari petugas TU dan beberapa guru bertugas mencicip dan mencium aroma setiap menu yang datang dari dapur penyedia.

Namun pada Senin (14/4/2025) menjadi titik balik kontrol menu. Usai libur panjang, pengiriman MBG kembali berjalan.

Sebanyak 107 kotak nasi goreng yang diterima untuk kloter pagi kembali diterima, namun 14 kotak yang dinilai layak dibagikan. “Yang layak cuma 14, sisanya kami simpan di meja depan. Bau-nya beda. Agak menyengat, nggak seperti biasanya,” jelas Ivan, petugas TU sekaligus penanggung jawab harian MBG di sekolah tersebut.

Ia menjelaskan, nasi goreng memang cenderung manipulatif dalam tampilan. Teksturnya bisa menyamarkan kondisi sebenarnya.

Tapi indra penciuman mereka sudah cukup terlatih. Bau basi, meski samar, tak bisa ditutupi bumbu.

“Kami tidak bagi ke anak-anak. Kami tumpuk dulu, kami foto, langsung kami kirimkan komplain ke penyedia,” lanjut Ivan.

Ternyata, keluhan serupa tak hanya datang dari SD tersebut. Saat pertemuan para kepala sekolah yang tergabung dalam satu gugus, siang harinya, terungkap cerita beberapa sekolah lain —yang berasal dari dapur penyedia yang sama—mengalami hal serupa.

“Dan semua merasakan hal yang sama. Ini bukan cuma kami,” timpal Mariani.

Sebagai tanggapan, pihak dapur mengambil kembali kotak-kotak nasi goreng yang ditahan. Makanan akan diganti bersamaan dengan pengiriman kloter siang.

“Tapi kami minta jangan nasi goreng lagi siang hari. Anak-anak pasti nggak cocok,” ucap Mariani sambil tersenyum kecil.

Sekolah ini memiliki 195 penerima manfaat MBG, dari kelas satu hingga enam. Setiap hari, tim internal melakukan kontrol terhadap makanan dan buah.

Bahkan untuk menu seperti buah naga pun, pihak sekolah tetap memberikan masukan. “Anak-anak ada yang bosan, namanya juga anak-anak. Tapi kita tetap sampaikan ke pihak dapur, supaya ada variasi,” ucapnya.

Menariknya, pihak dapur cukup terbuka terhadap masukan. Tidak ada kesan defensif atau menutup diri. Namun, Mariani tetap berharap sistem pengawasan dari dinas terkait bisa lebih ditingkatkan, agar kontrol tidak hanya terjadi di tingkat sekolah.

“Kami hanya ingin anak-anak kami makan dengan aman dan nyaman,”ucap Ivan.

Sampai berita ini ditulis, tidak ada keluhan dari siswa yang sempat menerima makanan hari itu. Tidak ada sakit perut, tidak ada mual. Sejauh ini terkendali berkat kewaspadaan yang dijaga. (zad)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Makan Bergizi Gratis #Mbg #Sekolah #Cakranegara #siswa