LombokPost – Industri perhotelan di Kota Mataram kembali menunjukkan gairah positif. Liburan sekolah periode Juni hingga Juli 2025 menjadi pemicu utama peningkatan signifikan tingkat hunian kamar.
Ketua Asosiasi Hotel Kota Mataram (AHM) I Made Adiyasa, mengungkapkan kabar gembira ini dengan optimisme.
Libur panjang atau long weekend yang baru saja berlalu juga turut menyumbang peningkatan signifikan.
"Okupansi hotel meningkat, rata-rata mencapai 65 persen. Bahkan, beberapa hotel mencatat angka di atas itu,” kata Adiyasa.
Durasi menginap rata-rata tamu berada di kisaran dua malam sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Lombok.
"Okupansi lumayan berdampak sampai 65 persen dari sebelumnya di angka 30-35 persen," ujarnya.
Baca Juga: Ikut Sedih! Gara-Gara Efisiensi, Okupansi Hotel di Mataram Anjlok di Bawah 40 Persen
Distribusi tamu selama periode long weekend pun merata di antara anggota AHM. Baik dari hotel-hotel melati hingga hotel berbintang di Ibu Kota.
“Dari teman-teman anggota AHM merata ya periode long weekend kemarin dapat tamu," imbuhnya.
Dengan libur anak sekolah yang diperkirakan masih berlangsung hingga 19 Juli, Adiyasa optimis tingkat okupansi hotel di Mataram akan tetap stabil.
Lebih lanjut, ia memprediksi bulan Juli akan menjadi periode yang sangat baik bagi perhotelan Mataram.
“Libur anak sekolah masih sampai tanggal 19 Juli kalau enggak salah. Masih memungkinkan untuk stabil okupansi. Sepertinya bulan Juli akan bagus karena setelah libur sekolah lanjut event Fornas," ungkapnya.
Hal ini merupakan angin segar bagi para pelaku usaha hotel setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan okupansi. Peningkatan okupansi ini menjadi penawar dahaga setelah pada triwulan pertama tahun 2025, industri perhotelan Mataram menghadapi tantangan berat.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang membatasi penyelenggaraan kegiatan di hotel menyebabkan penurunan drastis pada tingkat hunian. Akibatnya, lebih dari 1.000 pekerja harian hotel atau daily worker terpaksa dirumahkan, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan usaha dan nasib para pekerja.
Menurut Adiyasa, hotel-hotel kota (city hotel) yang selama ini sangat bergantung pada kegiatan pemerintahan, mulai kembali menggeliat.
Hal ini seiring dengan kelonggaran yang diberikan pemerintah pusat bagi daerah untuk kembali menyelenggarakan rapat dan kegiatan dinas di hotel.
"Ini seperti angin segar bagi kami. Harapannya, kegiatan pemerintah di hotel bisa terus berjalan agar pemasukan hotel kembali stabil,” jelasnya.
Pemasukan yang kembali meningkat ini diharapkan dapat menutup biaya operasional hotel serta mendukung pembayaran gaji karyawan secara berkelanjutan.
“Pemasukan yang kembali meningkat diharapkan mampu menutup biaya operasional serta mendukung pembayaran gaji karyawan secara berkelanjutan," tambahnya.
Baca Juga: Okupansi Hotel di Mataram andai Selama Libur Imlek, Harga Tiket Pesawat Disinyalir Jadi Kendala
Membandingkan dengan periode liburan tahun lalu, Adiyasa menyampaikan, tidak banyak perubahan signifikan dalam profil wisatawan.
Masih dominan wisatawan domestik dan harga juga masih normal.
Meskipun ia tidak mengingat angka pastinya, Adiyasa merasa tahun lalu bahkan lebih ramai karena adanya event MXGP di bulan Juli.
Dengan tren positif ini, AHM menargetkan okupansi hotel di Mataram dapat mencapai angka yang lebih tinggi.
"Sangat bisa, target kami Mataram terisi 75-85 persen. Ini target tahun ini untuk bulan Juli," tegasnya.
Situasi yang mulai membaik ini membawa harapan besar bagi para pelaku usaha hotel untuk dapat segera mempekerjakan kembali para daily worker yang sempat dirumahkan.
“Kami berharap tren baik ini berlanjut, agar industri hotel bisa bangkit sepenuhnya dan kembali menyerap tenaga kerja secara optimal,” tandasnya. (chi/r9)
Editor : Jelo Sangaji