LombokPost –Meski terjadi penurunan transfer anggaran dari pusat, sektor penanganan sampah tetap menjadi prioritas dalam penyusunan RKPD 2027 sebagai jembatan menuju target RPJM 2029. Kepala Bappeda Kota Mataram Lalu Bramantio Ganeru menegaskan, tahun 2027 adalah tahun krusial bagi percepatan program "Mataram Harum".
Di tengah kebijakan efisiensi dan potensi pemangkasan anggaran akibat penurunan kapasitas fiskal daerah, operasional penanganan sampah mendapatkan proteksi khusus.
“Tahun 2027 ini sangat strategis karena masuk perencanaan tahun ketiga RPJM 2025-2029. Salah satu anggaran yang tidak boleh kena pengurangan atau efisiensi akibat penurunan transfer pusat adalah sampah,” kata Lalu Bramantio Ganeru, Minggu (5/4).
Bramantio menjelaskan, fokus utama hingga akhir masa jabatannya adalah memastikan masalah sampah tuntas secara sistemik. Hal ini didorong oleh kondisi TPA Kebon Kongok yang saat ini sudah mencapai titik jenuh.
Pemkot tidak lagi bisa mengandalkan pola lama yakni kumpulkan, angkut, dan buang. “TPA kita sudah terbatas. Maka, residu sampah yang masuk ke sana harus minimal. Caranya, pengolahan harus selesai di hulu melalui optimalisasi TPS 3R dan TPST. Mau pakai maggot, composting, hingga ekonomi kreatif berbasis sampah, semuanya harus jalan simultan,” jelasnya.
Baca Juga: DPRD Kritik Keras, Program Kebersihan Dinilai Sekadar Seremonial
Untuk menyiasati keterbatasan anggaran di sektor lain, pemkot didorong lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan baru. Bramantio menyebutkan, peran BUMD akan diperkuat untuk berkontribusi lebih besar terhadap PAD.
Selain itu, sektor retribusi persampahan juga akan ditata ulang secara lebih detail dan berkeadilan. “Bukan berarti membebani masyarakat, tapi kita pilah secara jelas. Retribusi untuk kawasan komersial tentu berbeda dengan perumahan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Ini penting agar biaya operasional pengolahan sampah yang menggunakan teknologi tinggi kelak tidak hanya bergantung pada APBD,” tambahnya.
Selain sampah, pemkot juga tetap berupaya menjaga denyut ekonomi melalui terobosan pemanfaatan aset, seperti penyediaan lahan usaha di eks Bandara Selaparang. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis masyarakat dengan penataan kota yang rapi.
Bramantio berharap, melalui ketajaman perencanaan di tahun 2027, seluruh indikator makro dan visi misi Wali Kota dapat tercapai di tahun 2029. “Intinya 2027 adalah percepatan. Kami harus berpikir keras agar target tetap tercapai meski kondisi fiskal sedang tidak menentu,” pungkasnya. (chi/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin