Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Permintaan Gas Melon di Mataram Melonjak hingga 50 Persen

Chia • Selasa, 5 Mei 2026 | 09:25 WIB
ASN dilarang menggunakan gas melon
Warga menyerbu gas melon

 

LombokPost – Isu kelangkaan gas elpiji subsidi tiga kilogram atau gas melon mulai memicu kekhawatiran masyarakat di Kota Mataram.

Berdasarkan pantauan di salah satu pangkalan gas setempat, terjadi lonjakan permintaan yang cukup signifikan dari konsumen dalam beberapa waktu terakhir.

Pihak pengelola pangkalan mengungkapkan, meskipun distribusi dari agen ke pangkalan masih berjalan lancar sesuai jadwal dan kuota normal, antusiasme warga untuk membeli gas meningkat drastis.

Fenomena ini diduga dipicu oleh rasa panik masyarakat atau panic buying akibat kabar mengenai kelangkaan stok.

“Permintaan memang meningkat sekarang ini, mungkin masyarakat panik dengan isu kelangkaan. Peningkatannya hampir 40 sampai 50 persen. Konsumen yang biasanya membeli seminggu sekali, sekarang bisa dua hingga tiga kali dalam seminggu,” kata penjual pangkalan gas LPG di Kota Mataram Viktor Kusno.

Kenaikan permintaan ini tidak hanya terjadi pada gas subsidi 3 kg, tetapi juga merambah ke gas non-subsidi kemasan 12 kg.

 Pola konsumsi masyarakat yang biasanya menyisakan stok di pangkalan untuk hari berikutnya saat ini berubah. Stok gas yang datang seringkali langsung ludes terjual di hari yang sama.

Untuk mengantisipasi aksi borong, pihak pangkalan kini memberlakukan aturan ketat sesuai instruksi Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram.

Pembelian untuk rumah tangga dibatasi maksimal satu tabung dengan syarat menunjukkan KTP.

Baca Juga: Gas Melon Langka di Daerah Tetangga, Disdag Mataram: Stok Kita Aman, Jangan Panik

“Kami membagi kuota 80 persen untuk rumah tangga dan 20 persen untuk pengecer. Untuk rumah tangga, wajib membawa KTP sebagai syarat pembelian agar distribusi lebih merata,” tambahnya.

Kepala Bidang Bapokting Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida menegaskan, pihaknya terus melakukan pengawasan ketat setiap hari untuk memantau distribusi di tingkat pangkalan.

Berdasarkan hasil pantauan lapangan, Nida menyebutkan distribusi dari agen ke pangkalan sebenarnya masih berjalan normal tanpa adanya pengurangan kuota.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya fenomena panic buying yang menyebabkan stok gas cepat habis begitu tiba di pangkalan.

Terkait laporan warga mengenai harga gas yang mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu di tingkat pengecer, Nida menjelaskan pihaknya saat ini membatasi distribusi ke pengecer untuk memprioritaskan kebutuhan rumah tangga.

Langkah ini diambil agar masyarakat bisa mendapatkan gas langsung di pangkalan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 18 ribu per tabung.

Baca Juga: ASN Mataram Dilarang Pakai Gas Melon, Pemkot Buka Layanan Tukar Tabung Bright Gas

“Kami membatasi distribusi ke pengecer supaya masyarakat rumah tangga bisa kebagian. Kami imbau masyarakat untuk membeli langsung ke pangkalan agar mendapatkan harga HET Rp 18 ribu,” kata Nida.

Disdag juga menanggapi adanya isu pangkalan yang menolak pembeli perorangan dengan alasan stok sudah dijatah untuk pengecer.

Nida menegaskan, setiap pangkalan wajib melayani kebutuhan rumah tangga.

Ia meminta warga untuk berani melapor jika menemukan pangkalan yang menjual di atas harga HET atau melakukan pelanggaran distribusi.

“Tolong videokan atau foto pangkalan yang menjual di atas HET Rp 18 ribu. Jangan sekadar laporan tertulis agar kami bisa segera menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan Pertamina,” tegasnya.

Hingga saat ini, belum ditemukan indikasi penimbunan gas di wilayah Kota Mataram, namun pengawasan di daerah perbatasan akan lebih diperketat untuk memastikan stok tetap aman bagi warga kota. 

Editor : Kimda Farida
#gas melon langka #gas lpg 3 kg #gas melon #Mataram