Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bersedia Direlokasi, PKL Depan Eks Bandara Selaparang Minta Disediakan Fasilitas

nur cahaya • Rabu, 30 Oktober 2024 | 18:50 WIB

 

TIDAK PATUH: Sejumlah pedagang di depan Eks Bandara Selaparang memanfaatkan trotoar sebagai tempat jualan, tadi malam.
TIDAK PATUH: Sejumlah pedagang di depan Eks Bandara Selaparang memanfaatkan trotoar sebagai tempat jualan, tadi malam.

LombokPost-Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) masih menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan. Salah satunya di Jalan Udayana hingga ke depan Eks Bandara Selaparang.

Kondisi itu mengganggu keindahan wajah Kota Mataram. Rencananya, Dinas Pariwisata (Dispar) bakal merelokasi para PKL yang menggunakan trotoar ke Eks Bandara Selaparang.

”Kita sudah memiliki MoU (Memorandum of Understanding) dengan PT Angkasa Pura untuk mengelola Eks Bandara Selaparang. Itu bisa kita fasilitasi PKL itu di sana,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Cahya Samudra.

Di Jalan Udayana kini menjadi tempat prioritas masyarakat untuk berekreasi bersama keluarga sambil berolahraga.

Pemkot Mataram harus juga memberikan kenyamanan kepada masyarakat.

”Nanti kita perlu berkoordinasi dengan Satpol PP untuk menertibkan,” ujarnya.

Kasatpol PP Kota Mataram Irwan Rahadi mendukung upaya memfasilitasi PKL yang berjualan di atas trotoar.

Khususnya yang ada di depan Eks Bandara Selaparang di sekitaran Jalan Udayana.

”Kalau sudah ada regulasi pedagang ke areal Eks Bandara Selaparang, segera kita tindaklanjuti,” kata Irwan.

Tujuannya untuk menata PKL agar terlihat lebih rapi. Dengan adanya relokasi tersebut kondisi pedagang bakal lebih tertata.

”Nanti kan di sana akan ditata bersama pelaku UMKM lainnya,” ujarnya.

Keberadaan PKL yang menggunakan trotoar sudah menyalahi aturan. Sebab, mengambil hak pejalan kaki.

”Tetap itu menyalahi aturan,” kata dia.

Selain itu, mereka sering meninggalkan lapak dan ditutup menggunakan alat seadanya. Sehingga terkesan kumuh.

”Itu mengganggu keindahan kota,” bebernya.

Para PKL yang menggunakan trotoar juga diperparah dengan parkir yang menggunakan badan jalan.

Kondisi itu berpotensi dapat mengakibatkan kemacetan.

”Para pengunjung yang membeli itu pasti akan memarkirkan kendaraannya di depan PKL. Itu sangat mengganggu arus lalu lintas,” kata dia.

Pihaknya sebenarnya tidak melarang masyarakat mencari nafkah. Asalkan pedagang bisa kooperatif.

”Silakan berjualan tetapi harus menjaga juga keindahan kota. Bila perlu harus menggunakan lapak yang bisa dibongkar pasang. Agar mudah dibawa pulang,” ujarnya.

Pedagang yang menggunakan trotoar di Jalan Udayana hingga ke depan Eks Bandara Selaparang tidak terlalu banyak. Bisa dihitung jari.

”Paling ada lima atau enam pedagang yang masih berjualan menggunakan trotoar,” kata dia.

Pelaku PKL Mukinah mengatakan, tidak ada masalah jika harus direlokasi. Tetapi, paling tidak harus didukung dengan fasilitas lainnya.

”Seperti penerangan lampu,” kata Mukinah.

Mereka juga berjualan tidak dari pagi. Tidak memungkinkan bisa memunculkan kemacetan.

”Kami jualan dari sore hingga malam.

Tidak ada potensi kemacetan lalu lintas,” ujarnya.

Jangan sampai setelah direlokasi, malah membuat dagangan menjadi sepi.

Jika seperti itu, tentu tidak berimbang juga pendapatan.

”Kami juga hanya mencari nafkah dari berjualan. Tidak ada yang lain. Keuntungan yang didapatkan juga tidak seberapa. Paling hanya Rp 30 ribu per hari,” kata dia. (arl/r3)

Editor : Kimda Farida
#PKL #Udayana #Eks Bandara Selaparang #pejalan kaki #Mataram #trotoar