Berkali-kali gagal tak membuat Syarifa Maulida Mulahela mundur. Tekadnya bulat, sepuluh kali ditolak pun akan tetap mencoba. Jalan panjang itu akhirnya membawanya ke galeri MasterChef, mengenakan apron putih bertuliskan namanya sendiri.
---
JALAN menuju MasterChef tak semulus adonan roti. Syarifa bercerita, ada berbagai tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah audisi daring, gerbang awal yang harus ditaklukkan. Bukan sekali, bukan dua kali, Syarifa telah mencoba tiga kali dan selalu gagal. Banyak yang mungkin menyerah, tapi tidak dengan Syarifa.
“Saya bertekad. Baru coba sekali, masak sudah nyerah. 10 kali gagal baru nyerah,” ucapnya penuh optimisme, mengulang tekadnya kala itu.
Kegagalan tidak memadamkan semangat, justru memicu introspeksi. Ia mulai menganalisis, mengamati kriteria peserta yang lolos, dan mencoba memahami apa yang dicari tim MasterChef.
“Yang saya lihat itu, orang-orang yang lolos itu yang jadi selebgram, influencer, YouTuber. Dari situ mencoba upgrade diri untuk lebih sering ngonten, naikin followers, lebih sering upload di YouTube ngejar subscriber,” jelasnya.
Baca Juga: Chef Juna Bantah Master Chef Settingan, Beri Jawaban Soal Pemenang Pilihan
Ia menyadari popularitas juga menjadi faktor penentu. Mereka yang lolos adalah sosok yang telah memiliki “nama” sebelum kompetisi.
Harapan sempat muncul pada musim ke-9, saat video audisinya di-repost akun resmi MasterChef. Komentar warganet saat itu menyebut peluangnya besar jika sudah diunggah ulang.
“Tapi saya tunggu-tunggu tidak ada dihubungi. Tapi karena optimis saya coba lagi di season 10,” imbuhnya.
Di musim ke-10, Syarifa terus berinovasi. Ia meng-upgrade konsep video dan menu masakan, serta rajin membuat konten. Namun, lagi-lagi, tak ada panggilan.
Puncaknya di musim ke-11, ia sudah benar-benar siap. Konsep video dan menu telah dirancang, tinggal merekam. Tapi sebelum itu terjadi, MasterChef menghubunginya lewat DM Instagram.
“Kita lihat kakak sudah masukin video online beberapa kali. Tertarik tidak untuk audisi offline di Bali?” demikian isi pesan yang diterimanya. Pesan yang selama ini ia tunggu.
“Otomatis dong saya terima langsung, karena itu yang saya tunggu-tunggu,” terangnya bahagia.
Baca Juga: Master Chef Indonesia Tuai Kontroversi, Netizen Nilai Penuh Rekayasa
Perjalanan ke Bali pun ditempuh dengan biaya pribadi. Ia membawa oven sendiri, perlengkapan masak, dan menanggung semua akomodasi. Perjuangan itu berbuah manis. Hasil audisi offline di Bali mengantarkannya ke Jakarta untuk audisi on air, berhadapan langsung dengan tiga juri legendaris, Chef Renata, Chef Juna, dan Chef Arnold.
Dari sana, Syarifa termasuk dalam 29 peserta yang lolos ke tahap bootcamp, dan akhirnya melangkah ke galeri bersama 24 kontestan lainnya.
“Kalau sudah masuk galeri baru diakuin sebagai kontestan MasterChef dan diberikan apron putih (dengan) nama,” jelasnya bangga.
Apron putih bertuliskan namanya menjadi simbol pengakuan atas perjuangannya. “Alhamdulillah saya masuk 20 besar,” ungkapnya dengan senyum.
Selama proses syuting, tantangan terbesar bukan hanya soal resep, tetapi juga mental. Para kontestan hanya diizinkan menggunakan buku resep, tanpa akses ke gawai.
“Jadi selama proses syuting masak itu bener-bener sat set sat set. Tidak ada mentoring memasak. Benar-benar bertahan dengan kemampuan kita,” imbuhnya.
Setiap tantangan datang tanpa pemberitahuan, menambah tekanan. “Jadi kita bener-bener tidak tahu challengenya apa,” katanya.
Baca Juga: JANGAN KETINGGALAN, Poltekpar Lombok Buka Pendaftaran Jalur Mandiri
Meski tanpa bayaran selama syuting, karena hanya juara 1, 2, dan 3 yang mendapat hadiah uang, Syarifa tetap merasa mendapat banyak keuntungan. Setiap hidangan mendapat komentar langsung dari juri, yang menjadi ilmu berharga. Ia juga banyak belajar dari sesama peserta dan tim produksi, memperluas relasi, dan mengenal banyak tokoh penting.
“Kalau sudah masuk galeri ini kita diakui bahkan sama Wikipedia. Sudah diakui menjadi bagian dari keluarga MasterChef,” kesannya.
Pengorbanan pun tak bisa dihindari. Selama syuting, kontestan menjalani karantina ketat selama tiga bulan. Gadget hanya boleh digunakan seminggu sekali. Banyak yang harus meninggalkan pekerjaan. Syarifa sendiri harus meninggalkan usahanya.
“Banyak yang lebih banyak berkorban. Ada yang meninggalkan kerjaan padahal di kementerian,” ucapnya. (Sanchia Vaneka/bersambung/r7)
Editor : Jelo Sangaji