MATARAM – Awal tahun ajaran baru 2025/2026 membawa tantangan berat bagi beberapa sekolah di Kota Mataram.
Salah satunya adalah SDN 36 Ampenan, yang berlokasi di Pagutan Timur, Mataram, dan baru menerima dua siswa baru untuk kelas satu.
Kepala SDN 36 Ampenan, Zulkarnain, pada 2 Juli kemarin mengungkapkan bahwa minimnya pendaftar ini disebabkan oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah semakin banyaknya pilihan lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta, di sekitar wilayah zonasi sekolah tersebut.
Selain itu, masalah aksesibilitas jalan menjadi kendala besar. Lingkungan Peresak, yang sebelumnya menjadi sumber banyak siswa bagi SDN 36 Ampenan, kini terputus aksesnya.
"Tidak ada akses ke sana. Dulu siswa banyak dari Peresak. Tapi setelah terjadi keributan antar kampung makanya ditutup secara permanen," jelas Zulkarnain.
Dampak langsung dari minimnya siswa ini terasa pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
SDN 36 Ampenan hanya menerima dana BOS sebesar Rp 7 juta setiap triwulan. Angka ini, menurut Zulkarnain, jauh dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasional sekolah.
"Kita beli buku, penjualnya yang nyumbang ke kita. Karena kita beli buku itu hanya 10 biji," keluhnya.
Meskipun kegiatan belajar mengajar sudah dimulai, SDN 36 Ampenan tetap membuka pendaftaran siswa baru. Zulkarnain menegaskan bahwa fasilitas sekolah, termasuk meja dan kursi, sudah terpenuhi dan siap menerima siswa tambahan kapanpun.
"Kita akan buka sampai kapanpun. Kalau dia datang kita terima. Karena ini belum memenuhi rombel. Kalau sudah masuk saja kita akan terima," ujarnya. (r6)