Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Toko Buku Sani, Jeda di Antara Kesibukan Stasiun Singosari Dari Nihil Kunjungan sampai Terdengar hingga ke Negeri Jiran

Lombok Post Online • Senin, 5 Januari 2026 | 10:50 WIB
PENGALAMAN PANJANG: Didiet Rasmana di Toko Buku Sani di kawasan Stasiun Singosari, Kabupaten Malang, yang dia dirikan bersama sang istri, Ninda Kaninda.
PENGALAMAN PANJANG: Didiet Rasmana di Toko Buku Sani di kawasan Stasiun Singosari, Kabupaten Malang, yang dia dirikan bersama sang istri, Ninda Kaninda.

LombokPost - Tak sedikit yang awalnya meragukan, tapi suami istri Didiet Rasmana-Ninda Kaninda gigih mengelola toko buku dengan jendela yang menghadap langsung Stasiun Singosari, Kabupaten Malang.

Ruangannya mungkin tak terlalu jembar, tapi koleksinya membentang luas.

DUA pekan lamanya tak ada pembeli yang datang ke Toko Buku Sani. Seperti tawon yang mendengung, komentar-komentar skeptis, termasuk dari keluarga, pun mulai didengar Didiet Rasmana-Ninda Kaninda, pasangan suami istri yang membuka toko yang berdempetan dengan Stasiun Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu.

"Ada yang bilang, nekat sampeyan Mbak, Mas. Ada pula yang mempertanyakan, gak popo ta arek-arek iki? Opo gak mending dodolan panganan ae (Apa mereka baik-baik saja? Apa tidak mending jualan makanan)," tutur Didiet yang memutar kembali kenangan tiga bulan silam ketika dia dan Ninda baru pindah ke toko yang sekarang.

Sebelumnya keduanya sudah membuka MOBS Books, toko buku luring dan daring, dengan memanfaatkan garasi rumah mereka di Dusun Krajan, Desa Watugede, Kecamatan Singosari, yang berjarak sekitar dua kilometer dari stasiun. Sempat mengalami kenaikan omzet di tengah pandemi pada 2022-2023, jumlah pembeli MOBS Books justru anjlok setelah pagebluk selesai.

Didiet dan Ninda pun akhirnya berpindah ke lokasi sekarang karena tempatnya lebih strategis. “Tak hanya berada di kawasan stasiun, tapi juga di tepi jalan raya,” kata Didiet yang pernah lama bekerja di penerbitan buku.

Namun, itu tadi, ujian menghantam di pekan-pekan awal. Tak ada pengunjung. Beruntung pengalaman panjang Didiet di perbukuan membuatnya tak gampang oleng.

Pria 43 tahun itu pernah mengalami masa jaya ketika omzet penjualan buku bisa mencapai Rp 100 juta sebulan. Tapi, pernah pula dihajar banjir produk bajakan. Juga, piutang ribuan eksemplar buku yang tak dibayar mitra kerja.

Sampai kemudian angin mulai berbalik setelah kehadiran kreator konten Uklam Uklam Nakam. Toko Buku Sani mulai dikenal orang berkat kontennya, meskipun sebenarnya kreator tersebut selama ini lebih berfokus ke makanan.

Koleksi Beragam

Ruangan Toko Buku Sani tak luas, sekitar enam meter persegi. Ada satu kursi berkaki tinggi di dekat jendela yang menghadap stasiun dan satu lainnya yang berukuran sedang. Plus, dua tempat duduk di bagian depan.

Cocok sebagai tempat mengambil jeda untuk mereka yang tengah menunggu atau turun dari kereta. Atau sedikit menepi dari kesibukan stasiun di tepian Kota Malang tersebut.

Ruangannya mungkin tak terlalu jembar. Tapi, di antara keramaian stasiun dan suara kereta yang berkala datang, pengunjung bisa menemukan koleksi yang membentang luas. Dari yang banyak dicari Gen Z seperti “Laut Bercerita”, “Seporsi Mie Ayam”, “Filosofi Teras”, hingga karya-karya Tere Liye. Sampai buku-buku klasik karya Tan Malaka serta “Bukan Pasar Malam”, “Tjerita dari Blora”, dan karya Pramoedya Ananta Toer lainnya.

Buku termurah di Toko Buku Sani seharga Rp 5 ribu, tapi yang seharga Rp 150 ribu juga ada. Sementara koleksi buku-buku lawas berkisar antara Rp 30 ribu sampai Rp 850 ribu.

Setelah namanya mulai dikenal berkat bantuan kreator konten tadi, dalam satu hari Didiet dan Ninda bisa mengantongi Rp 300 ribu sampai Rp 800 ribu. Mereka juga tetap melayani pembelian secara daring melalui MOBS Books.

Ikhtiar lain dilakukan lewat unggahan di aplikasi Threads. Ninda lah yang berinisiatif mempromosikan. Perempuan berusia 37 tahun itu rajin mempublikasikan foto buku, keterangan singkat, dan harga.

Melalui Threads ini pula pasar mereka kian luas. Bahkan ada book lover asal Malaysia penyuka buku-buku terbitan dalam bahasa Indonesia yang ikut terjaring.

Misi Awal

Berada di kawasan stasiun, tempat bersiroboknya berbagai macam orang, yang datang ke Toko Buku Sani pun sangat majemuk. Suatu hari datang seorang dengan tampilan seperti orang dengan gangguan jiwa.

Tapi, dia sama sekali tak mengganggu. Orang tersebut duduk lama membaca buku anak-anak. Saking menikmatinya, dia sampai datang dua kali.

Ada pula seorang anak remaja yang saat ditanya ingin membeli buku apa, menjawab tak tahu. Dia mengaku hanya ingin belajar membaca setelah melihat unggahan di media sosial soal Toko Buku Sani.

Tapi, toko buku tetap bukan pasar malam. Tak tiap hari ramai. “Tenang saja, kesulitan akan berlalu,” demikian biasanya Ninda menyeman gati sang suami, seperti ditirukan Didiet.

Ninda juga tak lupa mengingatkan kepada misi awal mereka: memperluas akses bacaan warga Singosari dan sekitarnya. Karena itu pula, edukasi terkait buku bajakan juga tak henti mereka lakukan, lewat beragam cara.

"Buku yang kami jual di Toko Buku Sani ini asli semua. Karena saya paham betul dampak buku bajakan," kata Didiet. (NABILA AMELIA, Kabupaten Malang/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#Toko Buku #penerbitan #pembelian #pengunjung #strategis