Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Catatan Barista Top 10 Dunia Muhammad Aga untuk Kopi NTB

Chia • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:30 WIB
Muhammad Aga
Muhammad Aga

 

Di hadapan ratusan pasang mata yang memadati atrium Lombok Epicentrum Mall (LEM) barista profesional sekaligus world espresso champion 2025 itu mulai meracik alat-alatnya dengan presisi yang matang.

SANCHIA VANEKA, Mataram

Tangan dingin Muhammad Aga dengan cekatan menuangkan air panas dari kettle leher angsa hitam ke atas sesendok bubuk kopi dalam kompartemen V60. Gerakannya begitu berirama. Di tengah proses ekstraksi, ia sesekali menyentuh mikrofon nirkabel di telinganya, menyapa audiens dengan senyum ramah sembari melakukan live brewing atau menyeduh kopi.

“Kopi yang enak itu, mau diapakan saja, tetap akan terasa enak,” selorohnya, Sabtu (16/5).

Bagi publik pencinta kopi tanah air, nama Muhammad Aga bukan sosok asing. Ia berhasil menembus jajaran 10 besar top 10 dunia dalam ajang World Barista Championship (WBC) 2025 di Milan. Jawara yang menekankan aspek storytelling dan kedekatan emosional dengan penikmatnya. Di atrium LEM sore itu, Aga menguji tuah rasa kopi lokal NTB.

“Elemen paling utama dari seorang barista adalah kualitas rasa,” imbuhnya.  

Baca Juga: Angkat Wastra hingga Kopi Lokal, KK NTB 2026 Jadi Batu Loncatan UMKM Naik Kelas dan Gaet Investasi

Sebelum memamerkan kemahirannya menyeduh di depan publik Mataram, Aga mengaku sempat mencicipi sampel kopi asal Sembalun, tepatnya dari daerah Sajang, Lombok Timur. Pengalaman pertamanya mencecap komoditas lereng Rinjani itu menyisakan impresi yang kuat. Melalui sesi cupping kolektif bersama teman-temannya, kopi NTB rupanya berhasil menyodok posisi tiga besar di antara sekian banyak varietas kopi origin lain yang diuji.

“Secara taste profile, kopi NTB ini memiliki karakter yang sangat unik. Kalau kita bicara standar specialty coffee, saya yakin nilainya sudah sangat lolos untuk bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.

Menurut pria yang berbasis di industri kopi Jakarta ini, sebuah produk kopi dapat naik kelas dari sekadar komoditas commodity grade menjadi kelas spesial specialty grade jika bertumpu pada dua hal utama. Pertama, kualitas rasa dan nilai. Rasa kopi NTB dinilainya memiliki modal kuat, terutama varietas yang diproses secara honey maupun natural. 

"Sekarang banyak yang mencantumkan produsennya siapa, tekniknya seperti apa. Ini yang biasanya menjadi tolok ukur roaster membeli produk yang masuk dalam kategori spesial,” jelasnya. 

Namun, Aga juga menyoroti pasang surut produktivitas akibat hantaman bencana alam seperti gempa bumi beberapa tahun silam yang sempat melumpuhkan pertanian lokal. Bangkitnya kembali para petani Sembalun untuk fokus membudidayakan kopi, baginya, adalah sebuah sinyal positif yang wajib diapresiasi.

Baca Juga: KK-NTB 2026: UMKM Naik Level, Kopi Lokal Go Global

Meski potensinya selangit, Aga tidak menampik adanya jurang pemisah yang cukup lebar antara eksistensi kopi NTB dengan kebutuhan pasar kedai kopi modern di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Masalah utamanya klasik, ketersediaan produk atau supply dan keterbatasan informasi.

“Pasar di luar sana sebenarnya sangat penasaran. Konsumen modern sekarang tidak cuma beli lalu minum, mereka mengejar story behind the drinks. Mereka tanya ini ditanam di mana, prosesnya bagaimana, dan siapa produsernya,” jelasnya.

Ia memahami kebijakan lokal yang saat ini lebih memilih memenuhi serapan pasar domestik NTB terlebih dahulu agar kopi daerah menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Langkah edukasi hilir tersebut dinilainya sudah tepat, bahkan bisa menjadi magnet wisata yang kuat. Wisatawan yang datang ke Lombok kini memiliki alasan kuat untuk membawa pulang kopi sebagai buah tangan autentik.

“Jadi kita harus ke NTB, untuk mencicipi kopi NTB asli. Itu menarik,” ucapnya. 

Namun, sebagai pelaku industri roastery di ibu kota, Aga berkelakar siap mengantre demi mendapatkan jatah sekecil apa pun. 

“Tidak apa-apa lokal dulu. Tapi tolonglah, saya minta dikirim 2,5 kilogram saja sudah senang,” guraunya, yang kembali memancing tawa.

Aga berharap, melalui ruang kolaborasi interaktif seperti ini, seluruh pemangku kepentingan mulai dari hulu hingga hilir dapat merumuskan standarisasi informasi yang terintegrasi. Potensi varietas melimpah dari Rempeh, Sajang, Sembalun, hingga Sumbawa harus terdokumentasi dengan baik agar narasi bernilai tinggi tersebut sampai ke cangkir-cangkir para penikmat kopi di seluruh penjuru negeri.

“Saya juga ternyata baru tau, kalo NTB itu jenis kopinya banyak. Ada rarak, sajang, rempek, sapit, tambora, dan metrokosta,” katanya. 

 

Editor : Prihadi Zoldic
#MUHAMMAD AGA #barista #Kopi NTB #kopi #Mataram