LombokPost - Sosok Misri Puspita Sari sukses mencuri perhatian dalam kasus dugaan pembunuhan Brigadir Nurhadi.
Misri Puspita Sari saat ini menjadi salah satu tersangka atas kasus dugaan pembunuhan Brigadir Nurhadi.
Tentu saja banyak yang penasaran dengan sosok dan latar belakang yang dimiliki oleh Misri Puspita Sari.
Profil Misri Puspita Sari dan Keterlibatannya
Misri Puspita Sari, yang akan genap berusia 24 tahun pada November 2025, diketahui menerima bayaran Rp10 juta dari Kompol I Made Yogi Purusa Utama.
Uang tersebut adalah imbalan untuk menemaninya berpesta dan bermalam di vila di Gili Trawangan.
Yan Mangandar Putra, pengacara Misri Puspita Sari, mengungkapkan bahwa kliennya adalah lulusan SMA berprestasi dari keluarga sederhana.
Misri Puspita Sari adalah anak yatim yang kini menjadi tulang punggung keluarga, menghidupi ibu dan lima saudaranya seorang diri setelah kepergian sang ayah yang berprofesi sebagai buruh dan penjual ikan.
Kronologi Perkenalan dan Malam Kejadian
Yan menjelaskan bahwa Misri Puspita Sari dan Yogi sudah saling mengenal sejak tahun 2024, namun hanya sepintas.
Yogi sempat dekat dengan teman Misri Puspita Sari di Jakarta.
Pertemuan mereka berlanjut ketika Yogi menghubungi Misri Puspita Sari melalui Instagram, kemudian berlanjut ke WhatsApp, hingga akhirnya berkomunikasi pada 15 April 2025, sehari sebelum pembunuhan.
"Tanggal 15 itu Yogi mengontak Misri, membujuk 'Ayo ke Lombok, temani saya liburan di sini sama di Gili Trawangan'," ujar Yan. Misri Puspita Sari menyanggupi tawaran tersebut dengan kesepakatan semua biaya akomodasi, transportasi, dan jasa sebesar Rp10 juta per malam ditanggung Yogi.
Setibanya di Lombok, Misri Puspita Sari dijemput oleh Brigadir Nurhadi, yang disebut Yan sebagai sopir Yogi.
Di vila, Misri Puspita Sari mendapati sudah ada tiga orang: Yogi, Haris, dan seorang perempuan bernama Melanie Putri yang menemani Haris (bukan istri Haris).
"Jadi Yogi sewa Misri, Haris Chandra sewa Melanie Putri, si almarhum enggak ada perempuan yang dia sewa, dia hanya jadi sopir," tambahnya.
Pesta Narkoba dan Pemicu Keributan
Malam itu, para pelaku dan korban sempat terlibat pesta narkoba.
Mereka juga mengonsumsi obat penenang Riklona dan Inex.
"Mendekati malam, mereka mulai party-nya. Semuanya konsumsi obat. Jadi ada dua jenis obat, yang pertama obat penenang Riklona, dikonsumsi masing-masing satu biji."
"Nah kemudian Inex, masing-masing setengah biji. Akhirnya mereka fly, hilang kesadaran," lanjut Yan.
Riklona dibeli Misri Puspita Sari di Bali atas perintah Yogi dengan transfer uang Rp2 juta, sementara Inex dibawa oleh Yogi.
Dirreskrimum Polda NTB, Kombes Syarif Hidayat, sebelumnya menyatakan bahwa pembunuhan ini dipicu oleh korban yang merayu teman wanita salah satu tersangka.
"Ada peristiwa almarhum mencoba untuk merayu dan mendekati rekan wanita salah satu tersangka, itu ceritanya. Diduga merayu dan itu dibenarkan oleh saksi yang ada di TKP," kata Syarif pada Senin (7/7).
Pengacara Misri Puspita Sari, Yan, mengonfirmasi bahwa Nurhadi sempat mencium Melanie Putri, perempuan yang dibawa Haris, saat semua dalam kondisi kurang sadar.
"Saat semua mengalami kondisi kurang sadar, Misri sempat melihat Nurhadi mendekati sampai menciumi Melanie Putri di atas kolam. Misri menegur Nurhadi dengan mengatakan 'Jangan begitu, itu cewek abangmu'," ujar Yan.
Tak lama setelah itu, Haris dan Melanie Putri kembali ke kamar mereka di hotel sebelah.
"Yogi ke kamar tidur-tiduran, sedangkan Misri duduk di sekitar kolam," jelas Yan.
Video Terakhir Brigadir Nurhadi dan Keterangan Misri Puspita Sari
Misri Puspita Sari sempat merekam Brigadir Nurhadi sebelum tewas.
Video berdurasi 7 detik itu menjadi momen terakhir Nurhadi terlihat hidup, sebelum akhirnya ia ditemukan tewas dengan kondisi penuh luka, termasuk tulang lidahnya (hyoid) yang patah akibat dicekik.
Dalam video tersebut, Nurhadi terlihat santai berendam sendirian di kolam tanpa gelagat mencurigakan.
Gumaman Nurhadi yang masih di dalam kolam tidak terdengar jelas.
Yan Mangandar Putra menjelaskan bahwa kliennya merekam Nurhadi karena dalam kondisi mabuk atau fly, dan melihat tingkah Nurhadi yang lucu.
"Video tersebut membuktikan kondisi korban masih sehat pukul 19.55 WITA," kata Yan.
Misri Puspita Sari mengaku tidak bisa mengingat jelas kejadian setelah pukul 19.55 WITA.
"Dia sempat bangunkan Yogi, kemudian masuk ke kamar mandi cukup lama, lebih dari 20 menit. Kejadian sesaat sebelum masuk kamar mandi dan kejadian sesaat setelah keluar dari kamar mandi, dia benar-benar enggak bisa ingat," ujar Yan.
Waktu tersebut, antara pukul 20.00 hingga 21.00 WITA, diduga menjadi perkiraan waktu meninggalnya korban.
Bantahan Pengacara Kompol Yogi
Di sisi lain, Hijrat Prayitno, pengacara Kompol I Made Yogi Purusa Utama, membantah bahwa kliennya membunuh Brigadir Nurhadi.
Menurut Hijrat, justru Yogi lah yang pertama kali mengangkat korban dari dasar kolam dan memberikan bantuan CPR (Resusitasi Jantung Paru).
"Justru Kompol Yogi yang mengangkat korban dari dasar kolam, memberikan bantuan CPR," kata Hijrat.
Ia mengklaim tindakan Yogi membuat Nurhadi masih hidup saat itu.
"Masih hidup itu, kemudian dipanggil dokter dari klinik," ujarnya.
"Menurut dokter, saturasi korban masih 42, lalu dilakukan langkah penyelamatan selanjutnya yaitu membawa korban ke klinik," kata Hijrat.
Dari hotel, jarak klinik sekitar 1 kilometer. "Yang bawa itu orang-orang hotel sama dari klinik. Akhirnya klien kami menyusul ke sana, dan pukul 22.15 (WITA) korban dinyatakan meninggal," jelas Hijrat.
Hijrat juga menyebut bahwa orang yang pertama melihat Nurhadi tenggelam adalah Misri Puspita Sari yang kemudian membangunkan Yogi.
"Saksi yang pertama melihat adalah saksi berinisial M (Misri Puspita Sari), yang membangunkan Yogi, 'Bang ada ini (tenggelam)'. Yogi langsung kaget, kan baru bangun, refleks menyelamatkan," ujar Hijrat, memberikan versi berbeda dari awal kejadian.***
Editor : Fratama P.