Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peringatan Satu Dekade HSN 2025, Kemenag Usung Tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia

Redaksi Lombok Post • Senin, 22 September 2025 | 23:24 WIB

SANTRI: Para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kamal Nahdhatul Wathan (NW) Narmada, Lombok Barat (Lobar) sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar beberapa waktu lalu.
SANTRI: Para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kamal Nahdhatul Wathan (NW) Narmada, Lombok Barat (Lobar) sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar beberapa waktu lalu.
LombokPost -- Kementerian Agama (Kemenag) resmi meluncurkan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, kemarin (22/9).

Acara yang dihadiri oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, para kyai, santri, dan tokoh pendidikan pesantren ini menandai satu dekade penetapan Hari Santri Nasional. Puncak acara dijadwalkan akan dihelat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa peringatan Hari Santri 2025 akan diisi dengan berbagai kegiatan berskala nasional, seperti musabaqah antar-pesantren, forum ilmiah, hingga acara puncak yang diharapkan dapat dihadiri oleh Presiden.

“Mudah-mudahan nanti bapak presiden bisa hadir di puncak acara. Kita lihat perkembangan ke depan,” ujar Nasaruddin.

Menurut Menag, pesantren memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Setelah disahkannya Undang-Undang (UU) Pesantren, peran mereka semakin diakui.

“Santri sekarang bukan hanya jadi guru atau pimpinan pondok. Mereka sudah masuk ke kelas ekonomi, diplomat, militer, polisi, dan berbagai sektor penting lainnya,” tegasnya.

Kehadiran santri di berbagai institusi pemerintah dan swasta membuktikan bahwa pesantren mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

“Karena itu, mari kita ciptakan kondisi yang baik untuk bangsa ini. Kita harap pesantren bisa berkontribusi dalam menyejukkan kehidupan berbangsa,” paparnya.


Nasaruddin juga menyoroti isu penting terkait pemberdayaan dan peningkatan mutu pesantren. Ia menegaskan bahwa kemandirian pesantren tidak berarti mereka lepas dari perhatian pemerintah.

“Kemandirian itu tidak boleh hilang. Tapi bukan berarti tidak perlu perhatian. Pemerintah tetap memberi perhatian khusus, buktinya kita punya UU Pesantren,” jelasnya.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Kemenag telah membentuk Direktorat Jenderal Pesantren. “Insya Allah tidak lama lagi akan keluar aturan yang menegaskan bahwa ponpes akan diurus oleh pejabat eselon I. Ini bukti bahwa pesantren mendapat tempat strategis dalam sistem pendidikan nasional,” ucapnya.


Selain peluncuran logo HSN, acara kemarin juga diisi dengan kegiatan sosial, seperti Gerakan Nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Gerakan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah pesantren besar, antara lain Tambakberas, Denanyar, Peterongan, dan Tebuireng.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan bahwa momentum HSN harus dimaknai sebagai penguatan pesantren. Peran santri dalam pendidikan sangat vital, terutama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Maka penting penguatan SDM pesantren.  ini terus diupayakan,” ujarnya. Menurutnya, penguatan SDM akan mendorong santri untuk lebih mandiri, sehingga mereka bisa berkontribusi memajukan bangsa.

Dengan mengusung tema "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia," satu dekade HSN ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menjadikan pesantren sebagai pilar penting dalam pembangunan peradaban bangsa.(*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#hari santri #Kemenag #jombang #tebu ireng #hsn