Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sarjana Jadi Driver Ojol, Darurat Atau Batu Loncatan? Guru Besar UMY Ungkap Fakta Mengejutkan

Sanchia Vaneka • Kamis, 20 November 2025 | 23:55 WIB

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Profesor Imamudin Yuliadi
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Profesor Imamudin Yuliadi
LombokPost – Maraknya lulusan perguruan tinggi (sarjana) yang memilih profesi sebagai pengemudi Ojek Online (Ojol) telah memicu perdebatan publik mengenai kondisi ketenagakerjaan di Indonesia.

Apakah ini sinyal darurat bagi perekonomian nasional?

Menanggapi isu tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Profesor Dr Imamudin Yuliadi memberikan analisis komprehensif.

Ia menegaskan, fenomena sarjana menjadi Ojol tidak serta merta dimaknai sebagai kegagalan sistem pendidikan.

“Menjadi driver Ojek Online lebih sebagai aktivitas antara atau batu loncatan. Mereka melakukannya sambil menunggu pekerjaan yang sesuai bidangnya,” jelas Profesor Imamudin, Rabu (19/11).

Menurut Profesor Imamudin, sektor pekerjaan berbasis digital seperti Ojol berkembang pesat karena sifatnya yang sangat inklusif.

Pekerjaan ini tidak menuntut modal besar atau pengalaman khusus; seseorang bisa langsung bekerja hanya dengan kendaraan pribadi dan waktu luang.

“Mengapa pilihannya ojek online? Karena itu yang paling mudah dan paling murah. Bisa langsung menghasilkan pendapatan sembari menunggu pekerjaan formal,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut fenomena ini justru berfungsi sebagai katup pengaman bagi kondisi ketenagakerjaan nasional.

Di tengah tingginya angka pengangguran dan kontraksi ekonomi yang menyebabkan PHK, sektor digital bertindak sebagai penyerap tenaga kerja cepat.

“Kalau tidak ada job digital seperti Ojol dan online services, tingkat pengangguran kita bisa jauh lebih besar,” tegasnya, menyoroti perubahan struktur ketenagakerjaan di mana sektor digital tumbuh cepat sementara sektor lain stagnan.

Meski Ojol berfungsi sebagai katup pengaman, Guru Besar UMY ini tetap mengingatkan bahwa fenomena sarjana menjadi Ojol harus menjadi peringatan keras bagi perguruan tinggi.

Kampus, menurutnya, wajib memperkuat link and match dengan dinamika industri yang berubah cepat.

Program magang yang diprogramkan pemerintah, misalnya, dinilai positif karena mengenalkan mahasiswa pada dunia kerja nyata sejak dini.

Untuk menghadapi persoalan ketenagakerjaan secara struktural, Profesor Imamudin menekankan tiga kunci utama.

Pembangunan iklim investasi yang kondusif, perbaikan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien, dan penguatan UMKM dan koperasi.

“Ekonomi kita masih bisa tumbuh lebih tinggi. Generasi muda punya peluang besar untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi daerah untuk menciptakan lapangan kerja baru,” pungkasnya.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#darurat #Guru Besar UMY #driver ojol #batu loncatan #sarjana