Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyampaikan klarifikasi. Ia mengakui banyak warga merasa bingung dan kecewa karena kondisi faktual di lapangan berbeda dengan pernyataan Menteri ESDM.
“Pernyataan tersebut memicu ekspektasi tinggi di tengah masyarakat. Padahal, hingga saat ini (Senin, 8/12) suplai listrik Aceh di jaringan menengah baru mencapai 60–70 persen. Untuk Banda Aceh sendiri baru 35–40 persen yang menyala,” kata Muhammad MTA, dilansir Harian Rakyat Aceh.
Pemulihan listrik di Banda Aceh sangat bergantung pada suplai tegangan tinggi dari Arun. Muhammad MTA memperkirakan jika suplai tersebut rampung hari ini atau besok, pemulihan di Banda Aceh berpotensi mencapai 100 persen karena jaringan tegangan rendah di masyarakat relatif tidak mengalami kerusakan berat.
Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah dengan kerusakan parah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur, di mana pemulihan listrik masih di bawah 40 persen. Sementara itu, Lhokseumawe dilaporkan sekitar 75 persen, dan kawasan Barat Selatan berada pada kisaran 70–80 persen.
Pemerintah Aceh menegaskan bahwa ribuan petugas PLN dari berbagai daerah sedang bekerja maksimal di lapangan. “Kami berharap, kekeliruan yang disampaikan Menteri ESDM tersebut tidak mengakibatkan kekecewaan masyarakat terhadap petugas PLN di lapangan, apalagi sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap mereka," ujarnya.
Listrik Aceh Belum Sepenuhnya Normal, Pemerintah Aceh Klarifikasi Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut listrik Aceh akan menyala 100 persen pada Senin (8/12) siang menuai protes dan kekecewaan dari sejumlah warga Aceh. Faktanya, hingga Senin malam, banyak daerah di Aceh yang dilaporkan masih gelap gulita pasca gangguan listrik besar-besaran.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyampaikan klarifikasi. Ia mengakui banyak warga merasa bingung dan kecewa karena kondisi faktual di lapangan berbeda dengan pernyataan Menteri ESDM.
“Pernyataan tersebut memicu ekspektasi tinggi di tengah masyarakat. Padahal, hingga saat ini (Senin, 8/12) suplai listrik Aceh di jaringan menengah baru mencapai 60–70 persen. Untuk Banda Aceh sendiri baru 35–40 persen yang menyala,” kata Muhammad MTA, dilansir Harian Rakyat Aceh.
Pemulihan listrik di Banda Aceh sangat bergantung pada suplai tegangan tinggi dari Arun. Muhammad MTA memperkirakan jika suplai tersebut rampung hari ini atau besok, pemulihan di Banda Aceh berpotensi mencapai 100 persen karena jaringan tegangan rendah di masyarakat relatif tidak mengalami kerusakan berat.
Baca Juga: Korban Banjir Sumatera Mulai Terjangkit Tipes! Kemenkes Siaga Total Cegah Wabah Besar
Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah dengan kerusakan parah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur, di mana pemulihan listrik masih di bawah 40 persen. Sementara itu, Lhokseumawe dilaporkan sekitar 75 persen, dan kawasan Barat Selatan berada pada kisaran 70–80 persen.
Pemerintah Aceh menegaskan bahwa ribuan petugas PLN dari berbagai daerah sedang bekerja maksimal di lapangan. “Kami berharap, kekeliruan yang disampaikan Menteri ESDM tersebut tidak mengakibatkan kekecewaan masyarakat terhadap petugas PLN di lapangan, apalagi sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap mereka," ujarnya.
Sumatera Barat: Status Tanggap Darurat Berpotensi Diperpanjang
Sementara itu, status tanggap darurat bencana alam di Sumatera Barat (Sumbar) berpotensi diperpanjang melampaui 8 Desember 2025. Sebagian besar kabupaten dan kota di Sumbar dilaporkan masih melaksanakan penanganan darurat.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, mengungkapkan, “Pekerjaan tanggap darurat kita masih ada dan belum selesai. Sudah pasti akan diperpanjang karena penyelesaiannya memang belum tuntas.”
Mahyeldi telah meminta seluruh kepala daerah menyampaikan laporan terkini sebelum keputusan resmi perpanjangan status dikeluarkan. Beberapa daerah seperti Kota Solok, Kota Payakumbuh, dan Kota Bukittinggi mulai stabil, namun wilayah lain seperti Kabupaten Agam, Kota Pariaman, Pesisir Selatan, dan beberapa daerah lain masih membutuhkan penanganan intensif karena akses jalan dan jembatan masih terputus, menghambat distribusi bantuan.
Baca Juga: TNI AL Kerahkan KRI Bontang-907 untuk Suplai Bahan Bakar Korban Banjir Bandang di Sumatera
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menambahkan bahwa Pemprov tengah mengebut pembangunan akses semipermanen di wilayah terdampak, menargetkan dapat dilewati kendaraan kecil hingga sedang dalam dua pekan.
Total Korban Meninggal dan Penolakan Bantuan Asing
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumbar merilis data terbaru, di mana total korban meninggal akibat banjir, longsor, dan galodo mencapai 231 orang. Dari jumlah tersebut, 201 korban telah berhasil teridentifikasi, sementara 30 lainnya masih dalam proses identifikasi.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih mampu menangani bencana di Sumatera tanpa bantuan dari dunia internasional. “Ya selagi kita masih kuat ngapain? Kita masih kuat kok,” ungkapnya di Jakarta, Senin (8/12).
Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengakui adanya daerah-daerah yang sulit ditembus karena medannya yang menantang dan akses utama terputus dari semua sisi, berbeda dengan bencana tsunami 2004 yang terpusat di satu titik. Kementerian Sosial (Kemensos) telah mendirikan dapur umum di 39 titik yang setiap hari menyediakan lebih dari 400 ribu porsi makanan.
Editor : Redaksi Lombok Post