Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pengasaman Laut di Paparan Sunda Melonjak: Laju Penurunan pH Dua Kali Lebih Cepat dari Global

Rury Anjas Andita • Selasa, 9 Desember 2025 | 19:57 WIB
Pengasaman laut di Paparan Sunda meningkat dua kali lebih cepat dari global. Penelitian BRIN ungkap ancaman serius bagi karang dan ekosistem.
Pengasaman laut di Paparan Sunda meningkat dua kali lebih cepat dari global. Penelitian BRIN ungkap ancaman serius bagi karang dan ekosistem.

LombokPost - Pengasaman laut di Paparan Sunda kini memasuki fase mengkhawatirkan. Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa pengasaman laut di kawasan ini berlangsung dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Temuan ini menegaskan bahwa Paparan Sunda—yang meliputi Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Karimata hingga Laut Jawa—menjadi salah satu wilayah paling rentan terhadap perubahan kimia laut.

Fenomena pengasaman laut di Paparan Sunda ini disorot langsung oleh Profesor Riset Biogeokimia Laut BRIN, A’an Johan Wahyudi. Dalam wawancara Selasa (9/12), ia menjelaskan bahwa proses pengasaman dimulai saat karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer larut ke air laut dan memicu peningkatan ion hidrogen, sehingga pH menurun.

Penurunan pH Dua Kali Lebih Cepat dari Rata-Rata Global

Menurut A’an, pH laut yang ideal berada di kisaran 8,1. Penurunan sekecil 0,1–0,2 saja dapat mengganggu organisme berkalsium seperti karang dan kerang.

“Penurunan pH laut sebesar 0,1–0,2 unit (misalnya dari 8,1 menjadi 7,9–7,8) dapat menurunkan ketersediaan ion karbonat secara signifikan dan berdampak pada organisme seperti karang dan kerang, yang artinya bisa sangat berdampak pada ekosistem laut,” terangnya.

Pengasaman laut di Paparan Sunda memperlihatkan tren penurunan pH sebesar –0.043 unit per dekade, melampaui rata-rata global yang hanya –0.019 unit per dekade. Artinya, perubahan yang terjadi di kawasan ini berlangsung dua kali lebih cepat.

Kondisi ini diperparah oleh aliran karbon organik dari lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan yang terbawa ke laut dan mempercepat penurunan pH.

Dampak pada Karang, Keanekaragaman, Hingga Perikanan

Kejenuhan aragonit—indikator vital bagi pertumbuhan terumbu karang—sering berada di bawah 2,5, padahal karang memerlukan nilai 2,5–4.

“Jika kondisi menjadi lebih ‘asam’, kalsium karbonat akan terlarut. Artinya, karang dan organisme berkalsium tidak bisa tumbuh optimal,” kata A’an.

Baca Juga: Kementan Minta Publik Kawal Ketat Bantuan Beras 1.200 Ton Senilai Rp16 Miliar untuk Sumatera

Kelemahan terumbu karang memicu efek domino:

- penurunan keanekaragaman hayati,

- turunnya produktivitas perikanan,

- terganggunya rantai makanan,

-ancaman bagi pariwisata bahari.

Situasi ini sangat krusial, mengingat 60 persen penduduk Indonesia menggantungkan hidup dari wilayah pesisir.

Hasil Pemantauan Tujuh Tahun: Fluktuasi Tinggi dan Tren Mengkhawatirkan

Data tujuh tahun pemantauan di Selat Singapura—kolaborasi BRIN, NTU, dan NUS—menggambarkan kondisi kimia laut yang tidak stabil:

- pH sering berada di bawah 8,

- fluktuasi tahunan mencapai 0.11–0.19 unit,

- dipengaruhi monsun serta arus sungai besar.

Penelitian ini juga menghitung Trend Detection Time (TDT), yakni waktu minimum untuk mendeteksi perubahan signifikan. Hasilnya, hanya diperlukan pemantauan lima tahun untuk mengidentifikasi tren jangka panjang.

Butuh Sistem Observasi Laut Nasional yang Integratif

A’an menegaskan pentingnya pembangunan sistem observasi laut Indonesia yang lengkap—yang memantau aspek fisik, kimia, dan biologi secara terpadu sesuai standar Global Ocean Observing System (GOOS).

“Pemantauan jangka panjang menjadi dasar mitigasi. Tanpa data yang lengkap dan konsisten, Indonesia tidak akan mengetahui kondisi laut secara akurat, sehingga kebijakan sulit disusun berdasarkan bukti,” tegas A’an.

Saat ini, sistem pemantauan yang ada masih berfokus pada aspek fisik, sementara kimia dan biologi belum dipantau secara konsisten.

Indonesia Masih Punya Peluang Memperlambat Pengasaman Laut

Menurut A’an, beberapa langkah masih bisa dilakukan:

1. Mengurangi emisi karbon, termasuk melalui konservasi hutan dan kontrol industri.

2. Memperkuat sistem observasi laut nasional untuk memahami dinamika perubahan.

3. Meningkatkan edukasi dan kesadaran publik mengenai ancaman pengasaman laut.

“Kepedulian terhadap ancaman pengasaman laut ini perlu ditingkatkan. Karena hanya dengan memahami ancamannya, kita bisa mengambil langkah untuk melindungi laut kita,” pungkas A’an.

Editor : Rury Anjas Andita
#Penurunan pH #BRIN #Paparan Sunda #pengasaman laut