Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pihak Keluarga Tunggu Kabar dari Tim SAR, Keluarga Korban Berharap Mukjizat Tuhan

Lombok Post Online • Selasa, 20 Januari 2026 | 11:16 WIB
MENUNGGU KABAR: Sinta Jayanti menunjukkan foto suaminya, Dwi Murdiono yang ikut menjadi korban pesawat jatuh.
MENUNGGU KABAR: Sinta Jayanti menunjukkan foto suaminya, Dwi Murdiono yang ikut menjadi korban pesawat jatuh.

LombokPost - DWI Murdiono, 39, warga Tajurhalang, Kabupaten Bogor, menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT).

Radar Bogor (Grup Jawa Pos) menemui Sinta Jayanti, 38, istri Dwi Murdiono, di kediamannya.

Sinta bercerita, suaminya adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Waktu itu dia pamit hendak ikut patroli kelautan.

"Dia berangkat dari Jakarta ke Semarang, tapi ke Semarang berhenti dulu sampai jam lima, terus berangkat lagi ke Jogja, sampai Jogja jam enam," ujar Sinta, dilansir dari Radar Bogor, Senin (19/1).

Dwi menginap di Jogja. Lalu, sekitar pukul 08.00 berangkat ke Makassar. Sinta menyampaikan, komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Sabtu (17/1) jam 08.00. Waktu itu, Dwi berpamitan untuk ikut penerbangan. Setelah itu, kata dia, tak ada kabar lagi dari suaminya. ''Saya bilang iya, Bismillah ya, hati-hati,'' kata Sinta. Dia menyebut, Dwi selalu mengabari saat pesawat sudah landing.

Sekitar pukul 02.00, teleponnya berbunyi. Ada pesan WA dari kantor. Isinya memberitahu jika pesawat yang ditumpangi Dwi hilang kontak. Sinta diminta mendoakan suaminya. Kendati harapan hidup tipis, Sinta tetap berharap suaminya segera  ditemukan oleh Tim SAR. Apapun kondisinya.

Harapan serupa diungkapkan keluarga Esther Aprilia. Esther adalah awak pesawat yang ikut dalam penerbangan. Keluarganya yang tinggal di Perumahan Bukit Rancamaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, kini berharap keajaiban.

Pantauan Radar Bogor, rumah Esther kemarin tampak sepi. Di samping rumah berwarna putih dengan gerbang cokelat tersebut terpasang tenda dan bangku.

Siburian, ibu Esther, mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan putrinya terjadi pada Jumat malam. Saat itu, Esther masih sempat mengabari melalui pesan singkat. ''Kami masih chatting. Dia bilang ada di Jogja,” ujarnya saat ditemui Radar Bogor, Senin (19/1).

Menurut dia, Esther selalu mengabari setelah tiba di tujuan. Namun, hingga saat kini, tidak ada lagi kabar yang diterima keluarga. ''Jadi, komunikasi terakhir ya Jumat malam itu,” jelasnya.

Kini, pihak keluarga menunggu kabar dari tim SAR Gabungan. J. Siburian tak mau menyerah. Dia masih yakin mukjizat Tuhan bisa terjadi. “Selama kami belum melihat Esther, mukjizat Tuhan pasti ada,” tuturnya dengan suara bergetar.

Dia mengatakan, Tim Disaster Victim Identification (DVI) telah mendatangi rumahnya. Mereka mengambil data pendukung untuk poses identifikasi DNA. ''Katanya bisa membantu mempercepat proses penemuan Esther,” ujarnya. (abl/tgp/cr1/oni/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#Hilang Kontak #keajaiban #korban #jatuh #pesawat #dna