Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rupiah Berpotensi Rp 17.550 Per USD, Lonjakan Harga Energi Turut Jadi Pemicu

Redaksi • Senin, 4 Mei 2026 | 10:44 WIB
Grafis Pergerakan Rupiah
Grafis Pergerakan Rupiah

LombokPost - Tekanan global belum mereda. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih tertekan pekan ini, bahkan berpotensi menembus level psikologis Rp 17.550 per dolar AS (USD).

Menurut pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah dipicu penguatan dolar AS yang masih berlanjut.

Indeks dolar diperkirakan bergerak di kisaran support 97 dan resistance 102.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp 17.300 per USD, Bank Indonesia Perkuat Intervensi

 “Artinya, USD masih berpotensi menguat, sehingga memberi tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Kemungkinan besar rupiah di perdagangan pekan depan bisa di kisaran Rp17.550,” paparnya Minggu (3/5).

Selain faktor USD, lonjakan harga energi turut menjadi pemicu.

Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate crude oil diproyeksikan bergerak di kisaran USD 92 hingga USD 114 per barel. Kenaikan ini meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi dan menekan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Rupiah Melemah Beri Tekanan IHSG

Dinamika Geopolitik

Ibrahim menambahkan, dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan. Terutama jika upaya perdamaian tidak mencapai kesepakatan. Bahkan, eskalasi konflik dinilai masih terbuka lebar. Sebab Presiden AS Donald Trump disebut tengah menunggu persetujuan anggaran perang dari Kongres.

”Jika disetujui, kondisi ini berpotensi mendorong lonjakan harga minyak sekaligus memperkuat dolar AS,” tuturnya.

Baca Juga: RUPIAH DEKATI RP 17.000! Ekonom Sebut Terjadi "Overshoot" Akibat Gejolak Global, Masyarakat Diminta Tak Panik

Di sisi lain, kebijakan bank sentral global turut memengaruhi pergerakan mata uang. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi, yang dapat mendorong bank sentral mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga. ”Kondisi tersebut akan semakin memperkuat dolar AS,” imbuhnya.

Komoditas Emas

Dari sisi komoditas, harga emas dunia diperkirakan masih fluktuatif. Dalam jangka pendek, emas berpotensi terkoreksi. Namun, dalam jangka menengah hingga _embali diproyeksikan _embali menguat seiring meningkatnya risiko global.

 “Ada kemungkinan harga emas dunia pada kuartal kedua bisa mencapai USD 5.400 per troy ounce, dengan harga logam mulia di kisaran Rp3,3 juta per gram,” tambahnya.

Strategi Bank Indonesia

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) terus mencermati tekanan global, khususnya dari ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, untuk menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, salah satu langkah yang ditempuh adalah penyesuaian struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi prioritas agar tekanan eksternal tidak merambat ke inflasi dan mengganggu kondisi domestik,” ujar Perry dalam pertemuan dengan investor di Singapura, akhir April lalu.

Menurutnya, komunikasi intensif dengan pelaku pasar global terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

BI mengandalkan bauran kebijakan moneter terintegrasi (integrated monetary policy mix) yang mencakup tiga pilar utama. Yakni, kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, intervensi di pasar valas guna meredam volatilitas, serta pengelolaan likuiditas untuk memastikan sistem keuangan tetap terjaga.

 “Ketiga instrumen ini dijalankan secara simultan agar respons kebijakan lebih fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan global,” jelas Perry. (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#perdamaian #Timur Tengah #Bank Indonesia #mata uang #geopolitik