LombokPost - Marthino Lio sudah membuktikan kualitas aktingnya dengan 2 Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI).
Yakni, sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik di FFI 2022 dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik di FFI 2023.
Tahun ini, Marthino mencoba hal yang cukup menantang dalam berakting. Dia berperan sebagai Darso, seorang pengamen ledek gogek (badut gendong) di film horor Badut Gendong.
Baca Juga: Lawan Merarik Kodek! Sineas Muda Sumbawa Ditantang Bikin Film di Festival Film Lombok 2026
Film karya sutradara Charles Gozali itu dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 27 Mei mendatang.
Dikisahkan, Darso merupakan pengamen jalanan yang kehilangan istrinya, Darsi (Dayinta Melira), dan anaknya akibat ulah preman.
Dalam keadaan berduka, Darso menempatkan tubuh istrinya dalam boneka badut gendong. Namun, hal itu justru mengundang malapetaka. Kuasa gelap yang dikira Darso adalah roh sang istri mulai menebar teror dan menghabisi orang-orang yang menindas Darso.
Baca Juga: DJKI Tutup 1.004 Situs Bajakan, Film dan Webtoon Ilegal Jadi Target Utama
Dalam jumpa pers Jumat (22/5) lalu di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Marthino mengatakan bahwa Darso adalah karakter favoritnya selama menjadi aktor.
“Ini karakternya benar-benar abu-abu, nggak hitam-putih. Dia harus bisa menarik simpati penonton meski melakukan hal yang jahat,” ujar aktor yang mengawali karier sebagai model majalah pada 2004 itu.
Agar bisa mendalami karakter Darso yang kompleks, Marthino mengatakan bahwa dia benar-benar percaya pada Charles sebagai sutradara.
“Sejujurnya, peran Darso awalnya bukan buat gue. Sempat kecewa dikit sih. Tapi beberapa waktu kemudian, kembali ke gue,” tambah Marthino.
Selain harus bisa menampilkan karakter dengan nilai moral ambigu, Marthino juga harus melakukan sejumlah koreografi. Ada adegan pertarungan dan tarian yang harus dilakukannya sambil menggendong boneka ledek gogek seberat 5 kilogram.
“Untungnya sih nggak pegel,ya. Menikmati proses kok,” kata Marthino.
Untuk adegan pertarungan, Marthino dan cast dibantu oleh aktor laga Cecep Arif Rahman beserta tim stunt-nya. Sebelum syuting, mereka juga sudah melakukan latihan selama beberapa bulan. “Timnya kang Cecep itu sering jadi korban saya pas adegan fighting, haha,” seloroh Lio.
Sementara itu, untuk adegan menari, Lio dibantu oleh Elly Luthan untuk koreografi. Dia pun sangat terbantu dengan Dayinta, yang merupakan seorang penari dan lulusan S-2 seni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.
Puncaknya, semua adegan bertarung dan menari dilakukan Marthino dengan mata terpejam. Ini membuatnya harus mengandalkan insting dan perasaan saat berakting. “Saya harus bisa memperkirakan, mana arah yang tepat pas adegan itu. Feel harus dipakai banget,” pungkas Marthino. (len/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online