Ia menerangkan, pada tahun 2022 produksi padi di Provinsi NTB mencapai 1,46 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah tersebut setara dengan beras sebanyak 921 ribu ton.
Angka produksi beras di 2022 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Di 2021, produksi beras di NTB sebanyak 897 ribu ton. Sehingga terdapat peningkatan produksi hampir 30 ribu ton.
”Sementara konsumsi beras masyarakat di NTB sebanyak 600 ribu ton per tahunnya. Artinya ada surplus 300 ribu ton lebih,” ujarnya.
Kondisi surplus tersebut juga dipaparkan Bulog NTB saat rakor bersama Badan Pangan Nasional, belum lama ini. Pimpinan Wilayah Bulog NTB Abdul Muis mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan beras ke enam provinsi lain di Indonesia hingga 53.998 ton.
Rinciannya, Kalimantan Timur 1.400 ton; DKI Jakarta 12.625 ton; Kalimantan Barat 5.075 ton; Sumatera Utara 9.975 ton; Nusa Tenggara Timur 21.050 ton; dan Bali 3.873 ton. ”Move beras ini per 31 Oktober,” kata Abdul Muis.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB Abdul Aziz memastikan stok bahan pangan di masyarakat sangat cukup. Ketersediaannya bisa mencapai 11 bulan ke depan.
Ketersediaan pangan di Provinsi NTB yang surplus menjadi modal baik dalam menghadapi potensi resesi global di tahun depan. Krisis global diyakini berdampak pada ketersediaan maupun harga pangan di masyarakat.
”Tapi kami bersyukur, NTB yang merupakan sentra komoditas pangan untuk beras dan jagung, stoknya cukup. Sehingga bisa menekan dampak, kalau benar terjadi resesi,” jelas Aziz.
Dengan stok hingga 11 bulan ke depan, jumlah beras akan sangat mencukupi hingga musim panen berikutnya. Yakni di Maret 2023. Meski begitu, Aziz juga berharap masyarakat bisa menjaga pola konsumsi. Salah satunya dengan diversifikasi pangan, sehingga beras tidak menjadi satu-satunya sumber karbohidrat yang dikonsumsi masyarakat.
”Stok ada. Stok cadangan beras pemerintah juga ada, begitu juga dengan cadangan pangan masyarakat,” tandasnya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita