LombokPost-Cuaca panas sinar matahari di Provinsi NTB akhir-akhir ini terasa begitu menyengat. Hal tersebut merupakan salah satu dampak dari fenomena Elnino. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Elnino sudah berlangsung 11 dasarian atau 110 hari.
Prakirawan BMKG NTB Restu Patria Megantara menerangkan, kondisi suhu panas saat ini, di atas rata-rata suhu maksimum. Normalnya, berkisar di angka 25-35 derajat celcius. Sementara, dalam beberapa waktu terakhir, melebihi angka itu.
Suhu di wilayah Provinsi NTB tidak pernah di bawah 30 derajat celcius. Restu mengaku, suhu di Pulau Lombok misalnya rata-rata 33-34 derajat celcius. "Dibandingkan dengan suhu normal, memang lebih tinggi," terangnya
Sedangkan di Pulau Sumbawa lebih tinggi lagi. Yaitu rata-rata 35-36 derajat celcius. Bahkan, di Pulau Sumbawa pernah terjadi terik matahari lebih tinggi dari angka rata-rata tersebut, yaitu menyentuh hingga 37 derajat celcius. "Terjadi pada tanggal 24 September lalu," kata Restu.
Dengan meningkatnya suhu tersebut, Pulau Sumbawa masuk ranking ketiga wilayah paling panas se-Indonesia. Restu menjelaskan, masyarakat NTB merasakan matahari lebih panas karena saat ini gerak semu matahari sedang berada tepat di atas wilayah NTB.
Cuaca panas di atas rata-rata suhu maksimum ini disebabkan karena curah hujan lebih rendah dari biasanya. Biasanya, kata Restu, bulan Oktober sudah turun hujan. "Walaupun gerak semu matahari ini fenomena tahunan yang tidak berubah setiap tahun, tapi yang berbeda adalah iklimnya," jelasnya.
Tahun ini, uap air atau kelembabannya rendah. Ini disebabkan karena tutupan awan berkurang. Beda halnya dengan jika pernah turun hujan. Meski matahari terasa terik, tidak akan terlalu menyengat karena uap air banyak sehingga suhu tidak terlalu tinggi.
"Sementara saat ini kelembaban udara rendah, sehingga kita merasakan panas. Suhu lebih tinggi dari biasanya, makanya terasa lebih menyengat dan terik," katanya.
Dengan kondisi cuaca seperti saat ini, kulit akan terasa terbakar. Karena itu, Restu menyarankan, sebaiknya menggunakan pakaian yang aman terhadap kulit ketika keluar rumah.
"Mungkin menggunakan pelembab kulit. Potensi dehidrasi juga meningkat, sehingga kita mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan dengan mengkonsumsi air minum cukup," sarannya.
Kondisi ini akan dirasakan sampai musim hujan tiba. Kepala BMKG NTB Nuga Putrantijo mengatakan, sebagian wilayah NTB baru akan turun hujan pada dasarian kedua November atau pertengahan bulan depan.
Dia menjelaskan, saat ini masih terjadi fenomena Elnino Moderate yang menyebabkan awal musim hujan mundur 1-3 dasarian atau selama 10 sampai 30 hari. "Elnino moderate diprakirakan hingga Bulan Desember 2023 sampai Februari 2024," jelasnya.
Dalam prakiraan BMKG, dengan fenomena Elnino itu, di zona musim (ZOM) 1 yang meliputi wilayah Pulau Lombok, hujan turun paling awal pada dasarian kedua bulan November nanti. Kemudian hujan turun paling lambat di wilayah Bima, Dompu, dan Sumbawa. Yaitu mundur sampai 3 dasarian.
"Sampai Februari ada peluang Elnino, tapi lemah. Sehingga prakiraannya, paling awal turun hujan pertengahan November, dan paling akhir di awal Desember," tutup Nuga. (bib/r5)
Editor : Rury Anjas Andita