Kaum Adam di NTB juga tidak mau kalah dalam menciptakan karya seni. Bahkan hasil karya mereka juga akan dipamerkan oleh Museum Negeri NTB di Islamic Arts Biennale di Arab Saudi tahun depan.
-------------------------
Di pameran internasional Islamic Arts Biennale 2025, Pamong Budaya Madya pada Seksi Pengkajian dan Perawatan Museum Negeri NTB Bunyamin mengatakan ada dua koleksi yang mengeksplorasi ranah laki-laki.
Pertama, ada Keris Gerantim dengan pamor sura kembang luk 9. Benda bersejarah ini diperkirakan ada sekitar tahun 1700-1900 M. Bilah keris terbuat dari besi dengan pamor sura kembang luk 19. Dapur carita damar murub, hulu motif gerantiman, dihiasi dengan batu mulia.
Berikutnya warangka berbentuk kandikan bahan kayu berora, dihiasi dengan copok manggis dan 5 buah batu mulia. Samplengan terbuat dari emas dan perak.
Koleksi kedua, Keris Togogan dengan simbol naga siluman luk 11. Diterangkan Bunyamin, bilah keris terbuat dari besi luk 11 pamor sura. Dapur simbol naga lima, kinatah emas, hulu motif pendeta atau orang tua berbahan emas dan perak, dan dihiasi dengan batu mulia.
“Warangka berbentuk tolang paok dari kayu berora dan dihiasi dengan copok manggis yang ditempel 9 buah batu mulia. Samplengan terbuat dari emas dan perak,” tandasnya.
Sementara itu, James Bennett selaku peneliti pembantu di Museum Negeri NTB mengatakan untuk Keris Gerantim, zaman dulu penempa keris dianggap sebagai yang terbaik dari semua seniman di Indonesia pada masa pra-modern, dan dihormati sebagai orang yang memiliki kekuatan magis.
“Jumlah lekukan atau luk pada bilah keris yang selalu ganjil, memiliki makna simbolis dan dipercaya mewakili kekuatan tertentu,” terangnya.
Keris ini memiliki kombinasi luk yang tidak biasa dengan bilah yang lurus. Gagangnya yang meniru anyaman anyaman halus, merupakan contoh yang bagus dari penggunaan media emas yang berharga di Indonesia kuno untuk meniru bahan sehari-hari yang umum, seperti serat tanaman.
Sarungnya menampilkan motif 'simpul tak berujung' yang sering diidentifikasikan secara keliru oleh para pengamat kontemporer sebagai pengaruh dari agama Buddha Tiongkok.
Namun demikian, 'simpul tak berujung' adalah motif yang umum ditemukan pada dekorasi arsitektur Islam India dan tekstil perdagangan India yang diimpor ke Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18, serta Alquran Indonesia yang diiluminasi pada abad ke-19.
“Ini mungkin lebih erat kaitannya dengan gagasan tentang kekuatan magis dari tali yang diikat seperti yang disinggung dalam surah 113 Alquran, serta sarungnya dihiasi dengan lima permata emas dalam konfigurasi arah,” papar pria asal Australia tersebut.
Berikutnya, pada Keris Togogan, memiliki bilah keris yang luar biasa berbentuk ular naga-makara emas, makhluk dengan penampilan seperti naga dengan belalai gajah, diposisikan di atas kepala raksasa dengan hiasan bunga.
Gagang keris menggambarkan seorang pendeta Hindu Brahman, dan dimodelkan dengan gaya yang jelas dipengaruhi oleh meriam estetika realisme barat, dan bukannya teater boneka seperti yang sering terjadi pada umumnya.
Kemudian gagang keris yang menggambarkan tokoh-tokoh, didokumentasikan sebagai yang digunakan di lingkungan istana Islam di Sumbawa, dan penyimpangan penggambaran dari gaya ikonografi wayang kulit Bali, pada umumnya mendukung kesimpulan bahwa gagang keris ini dibuat oleh seorang pengrajin Sumbawa atau Sasak.
Adapun sarungnya menggambarkan motif keberuntungan, dari sayap garuda ganda yang biasa ditemukan pada batik Jawa, dan monumen-monumen Islam modern awal di Jawa.
Posisinya yang terbalik menunjukkan bahwa pembuatnya terinspirasi oleh pola batik Jawa, karena foto-foto pada masa penjajahan Belanda menggambarkan seseorang yang mengenakan pola batik secara terbalik tanpa menghiraukan maknanya. Perisai perak ini dihiasi dengan sembilan permata dalam konfigurasi arah mancapat. (YUYUN ERMA KUTARI/bersambung/r5)
Editor : Redaksi Lombok Post