LombokPost – Tingkat pertumbuhan ekonomi NTB 2025 menunjukkan tren pemulihan setelah sempat terkontraksi di triwulan pertama.
Terjadi pertumbuhan ekonomi 2,82 persen di triwulan III 2025 yang didorong oleh industri pengolahan (smelter) dan konsumsi.
"Ekonomi kita tetap tumbuh positif meski secara umum memang banyak dipengaruhi sektor pertambangan," kata Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda.
Dikatakan, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang bisa mencapai 6,1-6,9 persen yang didukung investasi dan konsumsi rumah tangga.
Sementara fokus jangka panjang adalah pengembangan pariwisata dan industri untuk mengurangi ketergantungan pada tambang.
Dari data tersebut diharapkan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat bisa lebih aktif mengadakan event-event nasional dan internasional secara berkesinambungan.
Sehingga ke depannya pertumbuhan ekonomi bisa terus meningkat dan akan berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan di NTB.
"Sehingga dapat menekan kemiskinan ekstrem yang menjadi salah satu fokus Pak Gubernur (Lalu Muhamad Iqbal, Red)," jelas Isvie.
Pertumbuhan ekonomi NTB sejalan dengan penurunan angka kemiskinan.
Data terbaru per Maret 2025, menunjukkan jumlah penduduk miskin di NTB turun menjadi 654.570 jiwa atau 11,78 persen.
Terjadi penurunan dari tahun sebelumnya. Dengan penurunan signifikan terjadi di perdesaan, meskipun kemiskinan perkotaan meningkat.
Garis kemiskinan NTB pada Maret 2025 adalah sekitar Rp 609.160 per kapita.
Upaya ini difokuskan untuk menghapus kemiskinan ekstrem di 106 desa sesuai dengan visi dan misi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
Pemprov NTB menargetkan angka kemiskinan di bawah 10 persen pada tahun 2029.
"DPRD NTB mendukung penuh kebijakan Gubernur dalam menekan angka kemiskinan ekstrem di Provinsi NTB," papar Wakil Ketua DPD I Golkar NTB itu.
Editor : Rury Anjas Andita