LombokPost - Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat dinamika pengelolaan kawasan yang cukup kompleks sepanjang tahun 2025. Tingginya kunjungan wisatawan, kontribusi signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hingga tantangan pengelolaan sampah dan keselamatan pengunjung menjadi gambaran bahwa Rinjani tidak hanya menjadi destinasi unggulan, tetapi juga kawasan konservasi yang membutuhkan tanggung jawab bersama.
Kepala Balai TN Gunung Rinjani Budhy Kurniawan, mengatakan sepanjang 2025 sektor wisata alam Rinjani memberikan kontribusi nyata bagi negara. Total PNBP yang berhasil dihimpun mencapai puluhan miliar rupiah.
Rinciannya, pada Februari 2025 tercatat sebesar Rp 220 ribu. Pada Maret, penerimaan meningkat menjadi Rp 113,99 juta. Lonjakan signifikan terjadi pada April dengan PNBP mencapai Rp 2,60 miliar, dan kembali meningkat pada Mei menjadi Rp 3,81 miliar, yang menjadi capaian tertinggi sepanjang tahun.
Pada Juni, PNBP tercatat Rp 3,48 miliar, kemudian menurun pada Juli menjadi Rp 3,17 miliar dan Agustus sebesar Rp 2,05 miliar. Pada September, PNBP kembali meningkat menjadi Rp 3,74 miliar, sebelum menurun pada Oktober dengan Rp 2,66 miliar dan November sebesar Rp 1,28 miliar. Pada Desember, PNBP kembali menguat dengan capaian Rp 2,98 miliar. Secara keseluruhan, total PNBP TN Gunung Rinjani sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 25,92 miliar.
“Angka PNBP ini menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap Rinjani. Namun di balik itu, kami juga memikul tanggung jawab besar untuk memastikan pengelolaan kawasan tetap berkelanjutan,” ujar Budhy.
Sementara itu, di awal tahun 2026 ini Balai TNGR resmi menutup sementara destinasi wisata pendakian Gunung Rinjani sebagai bagian dari upaya perlindungan keselamatan pendaki dan pelestarian kawasan konservasi.
Penutupan ini ditegaskan bukan sebagai bentuk larangan permanen, melainkan langkah preventif demi menjaga manusia dan alam Rinjani agar tetap aman dan lestari.
“Penutupan dilakukan seiring meningkatnya risiko pada musim hujan. Curah hujan yang tinggi berdampak langsung pada kondisi jalur pendakian yang menjadi licin dan rawan longsor,” terangnya.
Selain itu, kabut tebal kerap menutupi jarak pandang, sementara aliran air hujan dapat meluap dan menutup lintasan pendakian. “Dalam kondisi seperti ini, risiko kecelakaan dan hipotermia meningkat signifikan. Karena itu, keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama kami,” jelas Budhy.
Selain faktor keselamatan, penutupan sementara juga bertujuan memberi kesempatan bagi alam Gunung Rinjani untuk memulihkan diri.
Intensitas kunjungan yang tinggi selama musim pendakian memberikan tekanan besar terhadap tanah, vegetasi, dan habitat satwa liar. Masa penutupan menjadi waktu penting bagi ekosistem untuk beristirahat dan kembali seimbang.
“Gunung Rinjani bukan hanya destinasi wisata, tetapi kawasan konservasi. Alam juga membutuhkan waktu untuk pulih agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan,” jelasnya.
Selama masa penutupan, Balai TNGR memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan perawatan dan evaluasi secara menyeluruh. Sejumlah kegiatan yang dilakukan antara lain perbaikan jalur pendakian, pemeliharaan fasilitas pendukung, serta evaluasi sistem pengelolaan dan standar operasional prosedur (SOP) pendakian.
Langkah ini dilakukan agar saat jalur pendakian kembali dibuka, Gunung Rinjani berada dalam kondisi yang lebih aman, tertata, dan siap menyambut pendaki pada musim pendakian berikutnya.
Balai TNGR juga mengajak seluruh masyarakat dan calon pendaki untuk mendukung kebijakan penutupan ini dengan mematuhi aturan yang berlaku.
Kepatuhan terhadap SOP dinilai sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri, kelestarian alam, dan keberlanjutan Rinjani sebagai warisan bersama.
“Dengan menaati aturan, masyarakat ikut menjaga keselamatan, melindungi alam, dan merawat masa depan Gunung Rinjani. Penutupan ini merupakan bagian dari pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Harus dipahami, gunung setinggi dan seindah Rinjani juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Keselamatan dan kelestarian alam, menurutnya, harus selalu menjadi prioritas utama di atas kepentingan wisata semata.
“Terima kasih atas pengertian dan kepedulian seluruh semeton Rinjani. Dukungan semua pihak sangat berarti untuk menjaga Rinjani tetap aman, lestari, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor : Jelo Sangaji