LombokPost-Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menilai keberhasilan Program MBG, tidak hanya diukur dari luasnya cakupan penerima manfaat.
Program yang menjadi salah satu Program Strategis Nasional (PSN) tersebut dinilai perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran, efektif, dan tetap menjaga efisiensi penggunaan anggaran negara.
Ini merupakan respons yang disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Seknas FITRA Ervyn Kaffah, saat munculnya dukungan terhadap Program MBG yang digelar di Mataram.
Baca Juga: NTB Mulai Data SMA Sederajat untuk Refocusing Program MBG
Menurutnya, pembahasan mengenai MBG seharusnya tidak berhenti pada dukungan terhadap program, tetapi juga menyangkut bagaimana konsep dan pelaksanaannya dapat memberikan manfaat yang optimal.
“Diskusinya itu tidak sederhana. Positioning MBG sendiri, konsepnya mungkin perlu ditinjau kembali,” tegasnya.
Ia menilai, salah satu aspek yang perlu dievaluasi adalah penerapan skema universal yang menyasar hampir seluruh siswa.
Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali apakah seluruh kelompok sasaran, memang harus menerima manfaat secara bersamaan atau justru perlu dilakukan penyesuaian agar anggaran lebih tepat digunakan.
Ervyn menjelaskan, skema universal berpotensi menyerap anggaran dalam jumlah besar sehingga dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk membiayai kebutuhan pembangunan di sektor lain yang juga memerlukan perhatian.
“Tidak harus skemanya universal. Dengan skema universal itu akhirnya menghisap seluruh sumber daya untuk kepentingan lain yang sebenarnya juga wajib ditangani pemerintah,” jelasnya.
Baca Juga: Belasan Dapur SPPG di Lotim Beroperasi tanpa SLHS
Karena itu, FITRA mendorong pemerintah menerapkan pendekatan yang lebih terarah, dengan memanfaatkan data sosial yang telah dimiliki.
Menurutnya, pemerintah sudah memiliki basis data yang cukup untuk menentukan, kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi gizi, sehingga bantuan dapat diprioritaskan kepada siswa dari keluarga kurang mampu.
Ia menilai pendekatan berbasis data akan membuat program tetap berjalan sesuai tujuan, namun dengan penggunaan anggaran yang lebih efisien dan berdampak lebih besar bagi kelompok yang benar-benar membutuhkan.
“Tidak harus seluruh siswa menjadi penerima manfaat. Cari yang memang tidak mampu, datanya sudah ada,” katanya.
Selain ketepatan sasaran, Ervyn juga menekankan pentingnya tata kelola dalam pelaksanaan Program MBG.
Menurutnya, pemerintah memiliki berbagai pilihan model implementasi, tetapi transparansi, akuntabilitas, serta keterlibatan berbagai pihak harus menjadi prinsip utama agar program berjalan efektif.
Ia mengingatkan, agar pelaksanaan MBG tidak menutup ruang partisipasi berbagai pihak yang selama ini turut berkontribusi dalam pembangunan.
Baca Juga: Tegas! Gubernur Iqbal Ancam Tutup SPPG yang Cari Untung Berlebih Dari Program MBG
Tata kelola yang baik, dalam pandangannya, akan menjadi faktor penting untuk memastikan program dapat dipertanggungjawabkan sekaligus meminimalkan potensi penyimpangan anggaran.
Di sisi lain, massa aksi yang hadir tetap menyuarakan dukungan terhadap keberlanjutan Program MBG.
Mereka menilai program tersebut penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan ibu hamil, sekaligus memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat.
Massa juga mendorong agar Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat tata kelola pelaksanaan program secara transparan, profesional, dan bebas dari praktik korupsi.
Bagi FITRA, keberhasilan Program MBG pada akhirnya tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah penerima manfaat, melainkan sejauh mana program tersebut mampu menjangkau kelompok yang paling membutuhkan, dengan tata kelola yang baik serta penggunaan anggaran yang efektif.
Baca Juga: Tak Ada Insentif Selama MBG Berhenti Sementara, SPPG Fokus Pembenahan Total
Karenanya, evaluasi terhadap konsep dan implementasi program dinilai sangat urgen, agar tujuan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan di sektor lainnya.
“Dan tak kalah penting juga dipikirkan ulang konsep mengimplementasikannya,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa