LombokPost - Pemprov NTB menghadirkan wajah baru pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui peluncuran Bale Kita. Bale Kita ini akan menjadi pusat promosi dan pemasaran produk lokal yang mengedepankan kualitas, keaslian, dan daya saing.
Peresmian Bale Kita dilakukan langsung oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia di Gedung eks NTB Mall, Mataram, Rabu (8/7).
Kegiatan tersebut juga dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Di antaranya wakil gubernur NTB, kepala Kejaksaan Tinggi NTB, danrem 162/Wira Bhakti, perwakilan Polda NTB.
Hadir juga ketua Dekranasda Kota Mataram, kepala perangkat daerah lingkup Pemerintah Provinsi NTB, para pelaku usaha, pelaku UMKM, serta sejumlah wisatawan mancanegara.
Peresmian Bale Kita ini menjadi bagian dari strategi Pemprov NTB dalam memperkuat ekosistem UMKM unggulan daerah.
Selain sebagai ruang promosi, Bale Kita ini juga sekaligus sebagai pusat kurasi, pengembangan kualitas produk, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta perluasan akses pasar bagi UMKM dari seluruh kabupaten dan kota di NTB.
Baca Juga: Gubernur Resmikan Bale KITA, PLN NTB Tegaskan Dukungan bagi UMKM
Gubernur Miq Iqbal dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB bersama Dekranasda NTB yang berhasil menyempurnakan konsep NTB Mall menjadi Bale Kita.
Menurut Gubernur Miq Iqbal, Bale Kita bukan sekadar pergantian nama, tetapi transformasi menuju tata kelola yang lebih profesional dengan konsep yang lebih berpihak kepada pelaku UMKM.
“Ada upaya perbaikan dan penyempurnaan dari konsep-konsep yang lama. Disempurnakan, diperbaiki, dibuat tata letak dan tata kelola yang jauh lebih baik," ujarnya.
Baca Juga: Jelang Launching, HAKI Bale Kita NTB Dikebut
Gubernur Miq Iqbal menegaskan bahwa kekuatan utama Bale Kita terletak pada komitmennya menghadirkan produk-produk autentik hasil karya para perajin NTB.
Seluruh produk yang dipasarkan dipastikan merupakan hasil kerajinan asli yang lahir dari kreativitas masyarakat, tanpa menghadirkan produk pabrikan.
"Semua produknya autentik. Tidak ada produk pabrikan. Jadi semua kerajinan yang ditampilkan di sini langsung lahir dari tangan para perajin yang ada di NTB," tegasnya.
Komitmen tersebut menjadi pembeda utama Bale Kita dibandingkan pusat penjualan produk lainnya. Seluruh produk wajib melalui proses kurasi sehingga kualitas, identitas budaya, nilai artistik, dan keaslian karya para perajin tetap terjaga.
Dengan demikian, Bale Kita tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga etalase resmi produk unggulan NTB.
Lebih jauh, Gubernur Miq Iqbal menginginkan Bale Kita berkembang menjadi ruang edukasi sekaligus destinasi wisata budaya.
Setiap produk diharapkan dilengkapi narasi mengenai asal-usul, filosofi, bahan baku, hingga proses pembuatannya, termasuk karya warga binaan lembaga pemasyarakatan.
Menurut Gubernur Miq Iqbal, cerita di balik sebuah produk merupakan nilai tambah yang mampu meningkatkan apresiasi sekaligus daya saing produk di pasar.
Selain galeri fisik, Pemprov NTB juga tengah menyiapkan platform digital Bale Kita agar seluruh produk UMKM yang telah lolos kurasi dapat dipasarkan secara lebih luas.
Melalui konsep tersebut, keterbatasan ruang pamer tidak lagi menjadi kendala bagi ribuan pelaku UMKM untuk menjangkau pasar nasional hingga internasional.
Sementara itu, Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia menjelaskan bahwa, perubahan nama dari NTB Mall menjadi Bale Kita lahir dari keinginan menghadirkan identitas yang lebih dekat dengan budaya masyarakat NTB.
Gagasan tersebut juga berangkat dari masukan saat kunjungan ibu wakil presiden yang menilai istilah mall kurang mencerminkan karakter ruang bagi produk lokal.
"Bale berarti rumah. Kami ingin tempat ini benar-benar menjadi rumah bersama bagi seluruh perajin dan pelaku UMKM di NTB," ujarnya.
Menurut Bunda Sinta, seluruh produk yang dipasarkan akan melalui proses kurasi yang objektif berdasarkan kualitas, bukan atas dasar kedekatan ataupun selera.
Untuk memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pelaku usaha, Bale Kita menerapkan sistem rotasi produk secara berkala. Sementara produk yang belum mendapat giliran tampil tetap dipasarkan melalui platform digital.
Bunda Sinta menambahkan, Bale Kita akan terus diperkuat sebagai pusat pengembangan UMKM melalui fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sertifikasi halal, Standar Nasional Indonesia (SNI), hingga perluasan jejaring pemasaran.
Dekranasda NTB juga telah memperoleh dukungan untuk menjalin kerja sama dengan InJourney dalam penyediaan paket produk UMKM di bandara. Serta melanjutkan kemitraan dengan jaringan ritel modern seperti Hypermart dan UNIQLO.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB Lalu Wiranata mengatakan, Bale Kita merupakan rumah bersama bagi pelaku UMKM dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa.
Saat ini Bale Kita telah mengakomodasi sekitar 250 UMKM, dan jumlah tersebut akan terus bertambah seiring pengembangan platform digital sehingga semakin banyak pelaku usaha memperoleh akses promosi dan pemasaran.
Menurut Lalu Wiranata, Bale Kita mengusung filosofi KITA, yaitu Kreatif, Inovatif, Terbuka, dan Autentik, sebagai identitas baru pengembangan UMKM di NTB.
Melalui Bale Kita, Pemprov NTB menegaskan komitmennya membangun ekosistem UMKM yang lebih kuat, profesional, dan berdaya saing.
Dengan mengedepankan produk autentik, sistem kurasi yang objektif, pendampingan usaha, serta perluasan akses pasar melalui galeri fisik dan platform digital, Bale Kita diharapkan menjadi rumah besar bagi kreativitas para perajin sekaligus mengantarkan produk-produk unggulan NTB menembus pasar nasional hingga pasar internasional. (lil/diskominfotikntb)
Editor : Redaksi Lombok Post Online