Jaga Arus Kunjungan, Desa Adat Sade Diminta Tetap Masuk Paket Wisata

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 12:38 WIB
PULIH LEBIH CEPAT: Prosesi Nyemulak atau tanjek teken menandai dimulainya tahapan pemulihan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Kamis (3/9). (DEWI/LOMBOK POST)
PULIH LEBIH CEPAT: Prosesi Nyemulak atau tanjek teken menandai dimulainya tahapan pemulihan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Kamis (3/9). (DEWI/LOMBOK POST)

LombokPost-Pemprov NTB segera menyiapkan pembangunan Museum Sade, sebagai salah satu upaya menjaga keberlanjutan kunjungan wisatawan ke Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pascakebakaran.

“Museum ini ditargetkan rampung sebelum gelaran MotoGP Mandalika,” terang Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB Ahmad Nur Aulia, Jumat (4/9).

Pembangunan Museum Sade menjadi bagian dari master plan penataan kembali kawasan Sade. Master plan tersebut saat ini tengah disusun Pemprov NTB bersama Asosiasi Arsitek Indonesia dan Universitas Mataram (Unram). 

Baca Juga: Sade Bangkit, Warga Mulai Cicil Bangun Rumah Adat

Museum nantinya akan dibangun dalam skala kecil di kawasan Sade. Isinya akan menggambarkan tiga bagian penting perjalanan Sade, yakni kondisi sebelum kebakaran, proses terjadinya kebakaran, serta gambaran Sade ke depan. 

Karenanya, Pemprov NTB mendorong pelaku usaha perjalanan wisata, diharapkan tidak menghilangkan Sade dari itinerary wisatawan yang berkunjung ke NTB.

Namun perlu dikemas dengan storytelling yang menjelaskan sejarah, kehidupan masyarakat, hingga kondisi Sade setelah kebakaran. 

“Jadi Sade tetap bisa menjadi sebuah destinasi kunjungan, karena itu kita harapkan itu jangan dihilangkan dari paket, tapi harus ada storytelling-nya,” tegasnya. 

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat Sade yang selama ini, menampilkan atraksi budaya dan kesenian, sehingga bisa membangkitkan keberadaan pemandu wisata.

Ini juga menjadi upaya Pemprov NTB ingin mempertahankan arus kunjungan wisatawan ke Desa Adat Sade.

Baca Juga: Museum NTB Menenun Kembali Jiwa Sade yang Sempat Terbakar

Aulia menyebut, sebelum kebakaran, kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut bisa mencapai sekitar 1.000 orang per hari. “Kita tidak ingin jumlahnya berturun drastis,” ujarnya.

Di sisi lain, master plan penataan Sade tetap diarahkan untuk mengembalikan karakter kawasan seperti semula.

Penambahan unsur keselamatan akan dilakukan untuk mengantisipasi dan memitigasi risiko bencana, khususnya kebakaran. 

Seluruh langkah pemulihan dan penataan tersebut, dilakukan melalui komunikasi dan musyawarah antara pemerintah dengan masyarakat Sade.

“Semangatnya kita mengembalikan semula seperti Sade sebenarnya, yang otentik, yang aslinya, dengan ditambahkan safety destinasi untuk memitigasi bencana,” tandas Aulia.   

Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin mengungkapkan, tata pamer Museum Sade mengusung tema besar Jejak Kehidupan, Warisan, dan Identitas Sade.

Konsep tersebut tidak hanya menampilkan benda budaya, tetapi juga merekam adat istiadat, tradisi, kebiasaan, serta perjalanan kehidupan masyarakat Sade. 

“Konsep tata pamer menggambarkan adat istiadat, tradisi, kebiasaan, hingga dinamika perjalanan hidup masyarakatnya,” jelasnya. 

Narasi museum kemudian disusun dalam lima babak. Pertama, Jejak Leluhur Sade yang mengulas asal-usul dan sejarah masyarakat Sade.

Kedua, Ruang dan Budaya Sasak yang menghadirkan tradisi, ritual, dan kehidupan sosial. Ketiga, Warisan dalam Kehidupan yang menampilkan berbagai artefak keseharian.

Baca Juga: BAZNAS KLU Himpun Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Kebakaran Sade

Keempat, Ketika Api Mengubah Sade yang merekam tragedi kebakaran beserta dampaknya.

Terakhir, Sade Bangkit Kembali yang menggambarkan gotong royong dan ketangguhan masyarakat membangun kembali kehidupan mereka. “Saya melihat alur ini sanggup menggambarkan Sade secara utuh,” ujarnya.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
wisata museum Sade Kebakaran desa adat sade